1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikVenezuela

Siapa Delcy Rodriguez? Sosok Pengganti Maduro di Venezuela

6 Januari 2026

Bukan pemenang Nobel Perdamaian Maria Corina Machado, melainkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez yang dipilih AS untuk memimpin Venezuela. Siapa putri mantan tokoh gerilya Marxis yang dijuluki 'harimau betina' itu?

Venezuela, Caracas 2025 | Wakil Presiden Delcy Rodriguez menggelar konferensi pers di Istana Miraflores
Setelah Presiden Maduro ditangkap oleh AS, Delcy Rodriguez kini menjadi orang paling berkuasa di VenezuelaFoto: Ariana Cubillos/AP Photo/dpa/picture alliance

Delcy Eloina Rodriguez Gomez, yang dikenal di Venezuela hanya sebagai Delcy, pernah ditanya mengapa ia memutuskan untuk belajar hukum di Universitas Sentral Venezuela setelah lulus sekolah.

Ia menjawab: "Saya mengambil keputusan ini untuk menegakkan keadilan bagi ayah saya!"

Dalam arti tertentu, Delcy, pengacara berusia 56 tahun, tokoh politik garis keras, dan disebut “harimau betina” oleh Nicolas Maduro, memang berhasil. Putri mantan gerilyawan Marxis Jorge Antonio Rodriguez ini kini menjadi presiden sementara Venezuela, menjadikannya orang paling berkuasa di negara itu.

Ayahnya adalah otak di balik penculikan pebisnis Amerika Serikat, William Niehous. Setelah ditangkap pada 1976, Jorge Antonio Rodriguez disiksa hingga tewas oleh DISIP, badan intelijen Venezuela yang terkenal brutal. Delcy saat itu baru berusia tujuh tahun.

Kematian ayahnya mengguncang publik. Ia menjadi martir bagi kaum kiri, dan kemudian bagi gerakan Presiden Hugo Chavez. Delcy dan saudaranya, Jorge, yang kini menjabat presiden Majelis Nasional, berulang kali menyatakan bahwa kebangkitan cepat mereka juga didorong oleh “balas dendam pribadi” untuk ayah mereka.

Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai Presiden Sementara Venezuela oleh Presiden Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, setelah AS menangkap Presiden Nicolas MaduroFoto: Marcelo Garcia/Miraflores Palace/REUTERS

Chavez membuka jalan, Maduro membawanya ke puncak

Karier Delcy yang menonjol membawanya pertama kali ke Prancis dan Inggris, di mana ia mengkhususkan diri dalam hukum ketenagakerjaan. Kembali ke Venezuela, ia memasuki panggung politik saat Hugo Chavez, mantan letnan kolonel, memenangkan pemilihan presiden 1998 dengan janji membangun “sosialisme abad ke-21” yang lebih adil.

Chavez menghargai Delcy. Ia menanjak karier dari direktur urusan internasional di Kementerian Energi dan Pertambangan, wakil menteri hubungan dengan Eropa, hingga menjadi kepala kantor kepresidenan.

Chavez meninggal karena kanker pada 2013, namun penggantinya, Nicolas Maduro, juga menyadari kemampuan Delcy. Ia awalnya menjabat menteri komunikasi dan informasi, lalu pada 2014 menjadi menteri luar negeri perempuan pertama Venezuela, sekaligus juru bicara untuk serangan verbal terhadap Amerika Serikat (AS).

Dua tahun kemudian, Delcy memicu skandal di Buenos Aires, Argentina, ketika mencoba menghadiri KTT Mercosur meski Venezuela tidak diundang.

Namun, hal itu tidak menghambat kariernya. Pada 2017, ia menjadi presiden Majelis Konstituante, mencabut kekuasaan parlemen terpilih, memperkuat posisi Maduro, dan membuka jalan bagi sistem otoriter. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai wakil presiden, dan sejak 2020 juga menjabat menteri ekonomi, keuangan, dan minyak, serta direktur Bank Sentral Venezuela.

Tahun 2020 juga menjadi tahun Delcy menjadi sorotan dunia lewat skandal yang dikenal sebagai “Delcygate.”

‘Delcygate’: Pertemuan ilegal di Madrid meski ada larangan masuk

Pada Januari 2020, Delcy mendarat di Madrid dengan pesawat pribadi untuk bertemu Menteri Transportasi Spanyol, Jose Luis Abalos, selama beberapa jam. Padahal, ia termasuk salah satu dari 25 pejabat rezim Maduro yang dilarang masuk wilayah Schengen oleh Uni Eropa karena pelanggaran hak asasi manusia dan perusakan demokrasi di Venezuela.

Pola ini mencerminkan hidup Delcy: ia tak membiarkan siapa pun atau apa pun menghentikannya, bahkan jika itu berarti melanggar aturan.

Spekulasi tentang ambisinya muncul lagi pada Oktober 2025, ketika Miami Herald melaporkan bahwa Delcy bersama saudaranya Jorge dan pejabat berpengaruh Venezuela mengusulkan kepada AS agar ia memimpin pemerintahan transisi tanpa Maduro untuk menjaga stabilitas politik. Delcy membantah tuduhan ini, menyebutnya kebohongan dan misinformasi.

‘Berjuang hingga menang’

Hampir setengah abad lalu, pada 28 Juli 1976, Jorge Antonio Rodriguez dimakamkan di Pemakaman General del Sur di Caracas. Rekannya berteriak di kuburannya:

"Sosialisme akan tercapai melalui perjuangan, melalui perjuangan hingga kemenangan, karena rakyat yang terorganisir akan merebut kekuasaan!"

Kini, 50 tahun kemudian, putrinya lah yang telah merebut kekuasaan di Venezuela, melanjutkan jejak perjuangan ayahnya, dengan caranya sendiri.

 

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Oliver Pieper Reporter meliput isu sosial dan politik Jerman dan Amerika Selatan.