1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

031108 Irak USA Wahl

4 November 2008

Obama atau McCain? Jawabannya tak penting bari rakyat Irak dan Suriah.

Der naechste US Praesident Barack Obama oder John McCain
Foto: picture-alliance/dpa

McCain atau Obama, tak bisa dipastikan siapa yang lebih banyak dijagokan di Irak. Dari kedua kandidat Presiden AS itu, tak ada yang dipercaya bisa dan akan menyelesaikan persoalan 24 juta rakyat Irak.

"Mc Cain atau Obama, tidak akan berpengaruh banyak bagi rakyat Irak.“ Pandangan jurnalis di Bagdad, Enas Ibrahim, mewakili pendapat kebanyakan warga Irak.

Pendapat guru olahraga Adel Fadil justru merupakan perkecualian. Ia mengatakan, "Bukan karena penampilannya atau warna kulitnya. Tapi saya mendapat kesan, keseluruhan program Obama jauh lebih baik. Itu bisa dilihat dari pandangan rakyat awam di AS.“

Perhatian rakyat Irak terpusat pada persoalan lain, hal-hal praktis seperti bagaimana saya mendapat listrik dan air bersih? Bagaimana saya mengatur hidup sehari-hari dan anak-anak saya? Jutaan orang di Irak menjawab: dengan mengungsi, menyelamatkan diri dari kekerasan etnis, relijius, kriminal.

Sejak penyerbuan tentara Amerika, situasi tak pernah benar-benar aman. Dan keluhan ini bukan hanya dilontarkan pemerintah di Bagdad, tapi juga Washington.

Kebanyakan rakyat Irak menilai, situasi di negeri mereka dijadikan tema kampanye oleh para kandidat semata untuk menarik dukungan.

"Orang tidak bisa mengalahkan jaringan teroris yang beroperasi di 80 negara hanya menduduki Irak“, kata Obama.

Ia selalu menyebut perang melawan Al-Qaeda di Irak sebagai kesalahan. Ia membangun harapan dengan berjanji memulangkan 150 ribu tentara AS dari Irak dalam kurun 16 bulan.

Kandidat dari Partai Republik John McCain sejak awal mendukung perang Irak dan hanya akan keluar dari negeri itu sebagai pemenang.

Rekan separtainya, Presiden Bush, di menit-menit terakhir berupaya mendapat persetujuan dari Irak bagi penarikan tentara Amerika secara bertahap.

Menurut Rami Khoury, dosen Universitas Amerika di Beirut, Irak akan tetap menjadi dilema bagi penghuni baru Gedung Putih, sekalipun ia bernama Barrack Obama.

"Jelas, mayoritas rakyat Amerika sudah muak dengan perang Irak. Obama akan melakukan segalanya untuk mengelurkan Amerika dari Irak secara perlahan tapi pasti. Amerika tidak bisa keluar terlalu cepat, karena itu akan menambah masalah, tapi Amerika juga tidak mau seterusnya ada di Irak. Amerika harus menemukan cara untuk mundur perlahan-lahan dan berharap semuanya berlangsung baik“, kata Khoury.

Obama atau McCain? Di Suriah, jawabannya juga tak diutamakan, yang penting adalah perubahan politik luar negeri AS terhadap Suriah dan Timur Tengah. Ahmed, seorang supir bis di Damaskus mewakili pandangan banyak rakyat Suriah.

Ia mengatakan, "Siapapun yang jadi presiden, dia akan lebih baik dari George Bush“

Bagi Bush, Suriah termasuk negara poros kejahatan, pendukung teror. Negara yang harus diboikot dan dikucilkan. Tapi jelas, politik Bush untuk mengisolasi Suriah gagal. Dan politik itu mendekati akhir, siapapun yang kelak memerintah di Gedung Putih.

Barack Obama, kandidat presiden dari Partai Demokrat menekankan, “Tidak mau bicara dengan suatu negara sebagai bentuk hukuman bagi mereka, adalah tindakan konyol. Dan itulah prinsip diplomasi yang dijalankan pemerintahan Bush. Mantan presiden Reagan dan Kennedy berbuat sebaliknya, mereka bicara dengan Uni Soviet. Salah satu yang pertama kali akan saya lakukan sebagai presiden, dalam konteks mendorong upaya diplomasi di kawasan adalah mengirim isyarat bahwa kita perlu berbicara dengan Iran dan Suriah.“

Presiden Suriah Bashar al Assad menekankan, apa yang diharapkan dari presiden baru AS. "Apa yang kita buruhkan adalah mediator. Terutama dari AS. Sekarang sudah terlambat. Kita harus menunggu pemerintah baru AS, setelah pemilu.“ (rp)