1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Siapakah Yang Salah Dalam Krisis E-Coli?

1 Juni 2011

Medie Internasional menyoroti merebaknya wabah penyakit infeksi saluran pencernaan yang mematikan yang disebabkan bakteri Escherichia coli atau E-Coli.

Bakteri E-ColiFoto: picture-alliance/dpa

Harian Jerman Die Rheinische Post yang terbit di Düsseldorf menulis:

„Bagi petani dan pedagang sayuran, ini merupakan berita buruk. Ada kekuatiran pada akhirnya akan ditemukan bahwa sumber penularannya bukan sayuran, akan tetapi bahan pangan lainnya atau binatang hidup. Sementara ini sayur seperti ketimun, tomat dan selada merupakan petunjuk awal yang sangat tipis dalam pencarian sumber penyebab merebaknya bakteri itu. Karena itu, pemberlakuan peringatan jawatan kesehatan dapat dibenarkan. Mengingat setiap orang yang tertular E-Coli mengalami kerusakan pada ginjal dan otak dan bahkan menyebabkan kematian.“

Kemudian harian Perancis Sud-Quest yang terbit di Bordeaux menyebut bahwa tuduhan Jerman, ketimun Spanyol adalah pemicu utama merebaknya E-Coli, membuat petani Spanyol mengalami kerugian besar. Harian itu menulis:

„Ribuan ton sayuran yang dibuang ke tong sampah menyebabkan kerugian finansial bagi Spanyol serta memicu krisis diplomatis antara pemerintah Spanyol dan Jerman. Spanyol yang sedang diguncang hutang negara dan belum dapat mengatasi masalah pengangguran di negerinya, tidak memerlukan pukulan seperti itu. Sungguh dapat dipahami, bahwa Spanyol tidak menerima tuduhan Jerman yang memang senang menggurui negara lain terkait pengggunaan anggaran belanja negara yang sehat. Namun terlihat juga dengan jelas, bahwa masalah ini adalah masalah Eropa. Drama yang dialami petani Spanyol adalah akibat ulah Jerman.“

Kemudian harian Spanyol El Mundo menulis:

„Tuduhan senator kesehatan pemerintah negara bagian Jerman, Hamburg, Cornelia Prüfer-Storcks membuat pertanian Spanyol mengalami kerugian hingga jutaan Euro dan merusak citranya. Senator Prüfer-Storcks menyebut ketimun Spanyol sebagai pemicu penyebab infeksi mematikan itu. Enam hari kemudian ia meralat pernyataannya, namun ia tidak meminta maaf. Yang patut disalahkan dalam krisis ini adalah Jerman. Pemerintah Jerman tidak mampu menegur pemerintah Hamburg yang melanggar ketentuan protokol Uni Eropa. Uni Eropapun tidak berdaya. Sementara pemerintah Spanyol seharusnya segera bertindak dan berusaha lebih keras untuk para petaninya.“

Harian Perancis Libération juga memberikan komentarnya terkait bakteri E-Coli. Harian itu menulis:

„Masyarakat kita yang kerasukan akan prinsip pencegahan, ingin hidup tanpa risiko. Sehingga mereka beranggapan bahwa krisis ini seharusnya tidak mungkin terjadi. Jawatan pemerintah Jerman harus segera menjelaskan tuduhan mereka bahwa sayur Spanyol adalah pemicu penyebab bakteri E-Coli. Padahal ada kemungkinan bahwa sumbernya justru berasal dari Jerman sendiri.“

Tema lain yang juga disoroti media internasional adalah penangkapan pelaku pembunuhan terhadap wartawan Rusia Anna Politkovskaya. Jurnalis ini adalah pengritik tajam pemerintah Rusia. Oktober 2006 ia ditembak mati di rumahnya. Pengadilan Rusia selama ini berhasil menunda proses pengadilannya atau melanjutkan pengadilan tanpa ada tersangka utama pelaku pembunuhan. Harian Rusia Nowaja Gaseta menulis:

„Terdakwa Machmudow yang dituduh sebagai pembunuh Politkovskaya ternyata bisa kembali ke Rusia, padahal data-datamya sudah diserahkan kepada Interpol. Penyelidikan harus mengusut keganjilan ini. Dan yang terpenting, yang masih merupakan pertanyaan utama adalah siapakah dalang di balik kasus ini.“

AN/HP/afpd/dpa