1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikJerman

Siapkah Jerman di Bawah Intaian Perang?

14 Maret 2025

Jerman akan menggelontorkan miliaran euro untuk anggaran pertahanan, tetapi kebutuhan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik tidak hanya terbatas pada militernya Bundeswehr, melainkan juga untuk pertahanan sipil.

Kamp bertahan hidup
Daniel Schäfer mengatakan permintaan untuk kursus pelatihan bertahan hidup meningkat seiring dengan ancaman seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan geopolitikFoto: Olaf Fuhrmann/FUNKE Foto Services/imago images

"Ada pepatah Jerman yang indah: Masa sulit menciptakan orang-orang yang kuat, dan orang-orang yang kuat menciptakan masa-masa yang baik. Namun, masa-masa yang baik justru membuat orang terlena atau naif, dan itulah kondisi kita saat ini," tutur Daniel Schäfer.

Ia adalah seorang pakar urusan bertahan hidup yang tinggal di Berlin. Pepatah yang ia sebutkan tadi merujuk pada kesiapan Jerman secara keseluruhan untuk menghadapi ancaman perang dan situasi krisis, baik di dalam maupun luar negeri. Wajar saja jika ia khawatir.

Schäfer adalah mantan prajurit cadangan di Pasukan Reaksi Cepat Jerman KRK, pernah bertugas di Yugoslavia, dan kemudian bekerja di Kantor Polisi Kriminal Berlin. Sekarang ia mengelola kamp pelatihan bertahan hidup dan menjadi penulis buku pegangan bertahan hidup.

Perusahaannya, SurviCamp, melatih sekitar 2.000 anggota masyarakat setiap tahun dalam berbagai kursus, mulai dari program akhir pekan bertahan hidup di segala cuaca di alam liar Jerman hingga pelatihan ”Bushcraft ”, di mana para peserta dapat belajar cara menyembelih hewan liar dan menyalakan api dengan cara kuno.

Semua keterampilan ini menurutnya harus dimiliki lebih banyak orang sebagai bagian dari keamanan dalam negeri yang mendasar. Ia mengatakan Jerman dapat belajar satu atau dua hal dari Finlandia, negara di mana militer melatih warga sipil tanpa harus menjadi tentara.

Sebagaimana diketahui, dalam perdebatan di parlemen Jerman Bundestag pada hari Kamis (15/03), pemimpin konservatif Kristen Demokrat (CDU) dan calon Kanselir Friedrich Merz mencoba untuk mendapatkan dukungan dari Partai Hijau dalam hal mengubah pengekangan utang, sekaligus memperluas cakupan pengeluaran pertahanan untuk mencakup badan pertahanan sipil dan intelijen.

Pasukan pertahanan dalam negeri Jerman dipindahkan ke angkatan darat di bawah Divisi Pertahanan Dalam Negeri yang baruFoto: IMAGO/Sven Simon

Upaya untuk memperkuat kemampuan pertahanan dalam negeri

Seiring dengan perubahan kebijakan Amerika Serikat baru-baru ini terhadap Eropa, alarm peringatan mengenai kondisi pertahanan dalam negeri berbunyi.

Saat perdebatan sengit di parlemen Jerman Bundestag pada hari Kamis (13/3) berlangsung, Merz menjelaskan perlunya lebih banyak pengeluaran untuk pertahanan dan infrastruktur, termasuk memperkuat pertahanan sipil dan badan intelijen.

Sebagai reaksi terhadap invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius tahun lalu telah memerintahkan pembenahan kembali organisasi militer  Jerman Bundeswehr, dengan tujuan untuk memperkuat kemampuan militer negara tersebut.

Mulai bulan April, pasukan pertahanan dalam negeri, Heimatschutz, bakal dipindahkan dari Komando Pertahanan Dalam Negeri Bundeswehr, markas bersama yang sedang dibubarkan, ke angkatan darat di bawah Divisi Pertahanan Dalam Negeri yang baru. Hal ini sebagian dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran divisi angkatan darat yang ada ke tempat lain, misalnya ke perbatasan di luar NATO.

Heimatschutz saat ini dibagi menjadi lima resimen yang dikelola oleh para prajurit cadangan, dengan masing-masing resimen berada di bawah kendali negara bagian regional.

Resimen keamanan dalam negeri keenam yang baru, sekarang akan digabungkan dengan lima resimen yang sudah ada, yang terdiri dari prajurit aktif dan prajurit cadangan. Awalnya terdiri dari 6.000 pria dan perempuan, tetapi ada rencana untuk menambah jumlah anggotanya menjadi puluhan ribu orang.

Resimen ini akan bertugas melindungi pelabuhan, fasilitas kereta api, dan titik transit barang jika terjadi krisis atau ancaman yang meningkat, juga termasuk perlindungan jaringan pipa, jalan untuk penempatan pasukan, jembatan, pusat transportasi, dan infrastruktur digital.

Helge Adrians, seorang pakar kebijakan pertahanan dan keamanan di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan (SWP) menyambut baik upaya restrukturisasi tersebut, tetapi juga mengatakan bahwa tidak ada rencana yang jelas tentang bagaimana tepatnya Jerman harus mempersiapkan diri menghadapi jenis ancaman baru yang dihadapinya. Termasuk di antaranya: Propaganda, spionase, dan sabotase.

"Harus ada rencana yang jelas di baliknya. Apa yang terutama ingin kita capai dengan memperkuat cadangan ini? Melindungi tanah air kita? Memberikan dukungan negara tuan rumah bagi sekutu kita? Memperkuat pasukan aktif? Yang kurang bagi saya adalah prioritas konkret tentang apa yang harus dicapai melalui cadangan ini," tandas Adrians.

"Saya rasa kesiapan untuk bertugas sudah ada, tetapi tujuan yang sebenarnya juga perlu dikomunikasikan dengan kata-kata yang sederhana," imbuhnya.

Tahun lalu, Asosiasi Kota dan Pemerintahan Jerman, yang mewakili 14.000 dewan lokal di Jerman, meminta pemerintah pusat untuk menambah €10 miliar selama 10 tahun ke depan, untuk perlindungan sipil. Usulan ini bertujuan untuk memperbaiki 2.000 bunker era Perang Dingin yang ada di Jerman, agar bisa digunakan lagi.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Namun, Kantor Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana Federal BBK mengatakan kepada DW bahwa hanya 579 bunker yang masih digunakan sebagai tempat perlindungan umum, dengan kapasitas untuk sekitar 478.000 orang (hanya sekitar 0,56% dari jumlah penduduk Jerman).

Presiden BBK, Ralph Tiesler mengatakan dalam sebuah konferensi pada awal Maret lalu bahwa "sistem kesehatan kita belum siap menghadapi situasi baru," mengingat meningkatnya serangan terhadap infrastruktur penting seperti rumah sakit.

Palang Merah Jerman juga memperingatkan kekurangan tempat penampungan, obat-obatan, dan tenaga bantuan, dan meminta dana khusus sebesar €20 miliar untuk mengatasi masalah ini.

Sekretaris Jenderal Palang Merah Jerman, Christian Reuter, mengatakan bahwa janji perubahan besar dalam perlindungan sipil setelah invasi Rusia ke Ukraina belum terwujud.

"Tiga tahun setelah itu, kita masih kekurangan, perlindungan sipil belum siap menghadapi keadaan darurat," ujarnya, mengingat kurangnya tenaga terlatih dalam perlindungan sipil, kapasitas darurat di rumah sakit, dan pasokan antibiotik yang aman.

Reuter menyebut anggaran perlindungan sipil yang ada sekarang, sekitar €500-600 juta per tahun, sangat tidak mencukupi.

Palang Merah Jerman sedang membangun pusat perlindungan sipil terbesar dan paling modern di Luckenwalde, dekat Berlin, dengan dana mereka sendiri karena kurangnya dukungan dari pemerintah.

Pusat perlindungan ini akan memiliki "modul perawatan mobile" yang bisa memberikan semua kebutuhan hidup untuk 5.000 orang dalam keadaan darurat, termasuk tempat tinggal, listrik, dan air. Pemerintah awalnya menjanjikan 10 modul, tapi sejauh ini baru satu modul yang didanai sepenuhnya..

Kesadaran baru tentang bertahan hidup

Reuter juga menekankan pentingnya setiap rumah tangga untuk memiliki persediaan barang-barang esensial buat bertahan hidup, seperti makanan, air, produk kebersihan, radio yang pakai baterai, dan perlengkapan darurat lainnya. Selain itu, dia menyebutkan bahwa masyarakat perlu diberi pemahaman lebih baik mengenai hal ini.

Daniel Schäfer, yang merupakan bagian dari komunitas "prepper," selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan. Ia mengatakan bahwa permintaan untuk kursus pelatihannya semakin meningkat. (Ed: Prepper merujuk pada seseorang yang mempersiapkan diri secara aktif untuk kemungkinan bencana, krisis, atau situasi darurat yang dapat terjadi di masa depan).

Komunitas ”prepper” sering kali menjadi bahan perbincangan dan cemoohan, karena ada sebagian orang mengolok-olok mereka adalah komunitas berpandangan apokaliptik yang paranoid, atau bahkan ingin menggulingkan pemerintah.

Namun, bagi Schäfer, sebagian besar para ”prepper”  lebih peduli tentang hal-hal dasar, seperti misalnya bagaimana melindungi diri dan masyarakat dalam situasi perang atau bencana besar. Dia juga mengatakan bahwa dampak nyata dari perubahan iklim, pandemi COVID-19, dan perang di Ukraina membuat banyak orang mulai berpikir lebih serius tentang hal ini.

"Ada kesadaran baru bahwa negara tidak selalu bisa langsung memberi bantuan begitu kita membutuhkannya. Kita harus belajar untuk mandiri dalam krisis dan terus mengasah keterampilan bertahan hidup," jelas Schäfer kepada DW.

Bagi Schäfer, persiapan itu bukan hanya soal persediaan barang-barang penting, tetapi juga soal membangun komunikasi yang baik, jaringan sosial yang kuat, dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit.

"Pengetahuan memang penting, dan ada rasa aman jika kita sudah siap. Tapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk memimpin, ketahanan mental, dan bagaimana tetap tenang di situasi berbahaya. Sayangnya, banyak orang belum tahu cara melakukannya," tambahnya.

"Pada akhirnya, setiap warga negara harus siap untuk melayani negaranya ketika dibutuhkan," pungkas Schäfer.

 

Diadaptasi dari artikel DW bahasa Inggris

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya