Jerman akan menggelontorkan miliaran euro untuk anggaran pertahanan, tetapi kebutuhan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik tidak hanya terbatas pada militernya Bundeswehr, melainkan juga untuk pertahanan sipil.
Daniel Schäfer mengatakan permintaan untuk kursus pelatihan bertahan hidup meningkat seiring dengan ancaman seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan geopolitikFoto: Olaf Fuhrmann/FUNKE Foto Services/imago images
Iklan
"Ada pepatah Jerman yang indah: Masa sulit menciptakan orang-orang yang kuat, dan orang-orang yang kuat menciptakan masa-masa yang baik. Namun, masa-masa yang baik justru membuat orang terlena atau naif, dan itulah kondisi kita saat ini," tutur Daniel Schäfer.
Ia adalah seorang pakar urusan bertahan hidup yang tinggal di Berlin. Pepatah yang ia sebutkan tadi merujuk pada kesiapan Jerman secara keseluruhan untuk menghadapi ancaman perang dan situasi krisis, baik di dalam maupun luar negeri. Wajar saja jika ia khawatir.
Schäfer adalah mantan prajurit cadangan di Pasukan Reaksi Cepat Jerman KRK, pernah bertugas di Yugoslavia, dan kemudian bekerja di Kantor Polisi Kriminal Berlin. Sekarang ia mengelola kamp pelatihan bertahan hidup dan menjadi penulis buku pegangan bertahan hidup.
Perusahaannya, SurviCamp, melatih sekitar 2.000 anggota masyarakat setiap tahun dalam berbagai kursus, mulai dari program akhir pekan bertahan hidup di segala cuaca di alam liar Jerman hingga pelatihan ”Bushcraft ”, di mana para peserta dapat belajar cara menyembelih hewan liar dan menyalakan api dengan cara kuno.
Semua keterampilan ini menurutnya harus dimiliki lebih banyak orang sebagai bagian dari keamanan dalam negeri yang mendasar. Ia mengatakan Jerman dapat belajar satu atau dua hal dari Finlandia, negara di mana militer melatih warga sipil tanpa harus menjadi tentara.
Sebagaimana diketahui, dalam perdebatan di parlemen Jerman Bundestag pada hari Kamis (15/03), pemimpin konservatif Kristen Demokrat (CDU) dan calon Kanselir Friedrich Merz mencoba untuk mendapatkan dukungan dari Partai Hijau dalam hal mengubah pengekangan utang, sekaligus memperluas cakupan pengeluaran pertahanan untuk mencakup badan pertahanan sipil dan intelijen.
Pasukan pertahanan dalam negeri Jerman dipindahkan ke angkatan darat di bawah Divisi Pertahanan Dalam Negeri yang baruFoto: IMAGO/Sven Simon
Upaya untuk memperkuat kemampuan pertahanan dalam negeri
Seiring dengan perubahan kebijakan Amerika Serikat baru-baru ini terhadap Eropa, alarm peringatan mengenai kondisi pertahanan dalam negeri berbunyi.
Iklan
Saat perdebatan sengit di parlemen Jerman Bundestag pada hari Kamis (13/3) berlangsung, Merz menjelaskan perlunya lebih banyak pengeluaran untuk pertahanan dan infrastruktur, termasuk memperkuat pertahanan sipil dan badan intelijen.
Sebagai reaksi terhadap invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius tahun lalu telah memerintahkan pembenahan kembali organisasi militer Jerman Bundeswehr, dengan tujuan untuk memperkuat kemampuan militer negara tersebut.
Mulai bulan April, pasukan pertahanan dalam negeri, Heimatschutz, bakal dipindahkan dari Komando Pertahanan Dalam Negeri Bundeswehr, markas bersama yang sedang dibubarkan, ke angkatan darat di bawah Divisi Pertahanan Dalam Negeri yang baru. Hal ini sebagian dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran divisi angkatan darat yang ada ke tempat lain, misalnya ke perbatasan di luar NATO.
Militer Jerman Bundeswehr Dalam Misi NATO
Sejak Jerman Barat bergabung dengan NATO, militer Jerman Bundeswehr telah dilibatkan dalam berbagai misi dan operasi NATO. Sejak tahun 1990, Bundeswehr juga dikerahkan untuk misi "out of area".
Foto: picture-alliance/dpa/M. Hanschke
Peran militer Jerman di NATO
Republik Federal Jerman Barat resmi bergabung dengan aliansi trans-Atlantik NATO pada tahun 1955. Namun baru setelah penyatuan kembali tahun 1990, militer Jerman dikerahkan dalam misi "out of area" NATO. Sejak itu, Bundeswehr telah ditempatkan di beberapa kawasan di seluruh dunia.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Hanschke
Bosnia-Herzegovina, misi NATO pertama Bundeswehr
Tahun 1995, pertama kali Bundeswehr terlibat dalam misi "out of area" NATO sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian di Bosnia-Herzegovina. Selama penempatan tersebut, tentara Jerman bergabung dengan anggota pasukan NATO lainnya untuk menjaga keamanan setelah terjadinya Perang Bosnia. Misi ini mencakup lebih dari 60.000 tentara dari negara anggota dan mitra NATO.
Foto: picture alliance/AP Photo/H. Delic
Menjaga perdamaian Kosovo
Sejak dimulainya misi perdamaian yang dipimpin NATO di Kosovo, sekitar 8.500 tentara Jerman telah ditempatkan di negara itu. Tahun 1999, NATO melancarkan serangan udara terhadap pasukan Serbia yang dituduh melakukan tindakan brutal terhadap separatis etnik Albania dan penduduk sipil. Sekitar 550 tentara Bundeswehr sampai sekarang masih ditempatkan di Kosovo.
Foto: picture-alliance/dpa/V.Xhemaj
Patroli di Laut Aegean
2016, Jerman mengerahkan kapal perang "Bonn" untuk memimpin misi NATO di Laut Aegean. Tugasnya termasuk melakukan "pengintaian, pemantauan dan pengawasan penyeberangan ilegal" di perairan teritorial Yunani dan Turki itu pada puncak krisis pengungsi di Uni Eropa.
Foto: picture alliance/AP Photo/M.Schreiber
Lebih satu dekade di Afghanistan
2003 parlemen Jerman menyetujui pengiriman pasukan Bundeswehr ke Afghanistan dalam misi PBB International Security Assistance Force (ISAF). Jerman saat itu menjadi kontributor ketiga terbesar dan ditunjuk sebagai Komando Markas Regional Utara. Lebih 50 tentara Jerman tewas selama misi ini. Sekarang masih ada hampir 1.000 tentara Jerman yang ditempatkan di Afghanistan sebagai kekuatan pendukung.
Foto: picture alliance/AP Photo/A.Niedringhaus
Panser Jerman untuk Lithuania
Sejak 2017, 450 tentara Bundeswehr telah dikirim ke Lithuania sebagai bagian dari bantuan penjagaan keamanan perbatasan setelah Rusia menduduki Krimea. Selain Jerman, pasukan Kanada, Inggris dan AS juga bergabung dalam satuan pertahanan kolektif NATO di sayap timur.
Foto: picture alliance/dpa/M. Kul
Mengambil alih tongkat komando VJTF
Bundeswehr akan memimpin pasukan gerak cepat baru NATO mulai tahun 2019 yang dinamakan Very High Readiness Joint Task Force (VJTF). Kebijakan baru NATO ini adalah reaksi langsung atas agresi Rusia di Krimea.
Foto: S. Gallup/Getty Images
7 foto1 | 7
Heimatschutz saat ini dibagi menjadi lima resimen yang dikelola oleh para prajurit cadangan, dengan masing-masing resimen berada di bawah kendali negara bagian regional.
Resimen keamanan dalam negeri keenam yang baru, sekarang akan digabungkan dengan lima resimen yang sudah ada, yang terdiri dari prajurit aktif dan prajurit cadangan. Awalnya terdiri dari 6.000 pria dan perempuan, tetapi ada rencana untuk menambah jumlah anggotanya menjadi puluhan ribu orang.
Resimen ini akan bertugas melindungi pelabuhan, fasilitas kereta api, dan titik transit barang jika terjadi krisis atau ancaman yang meningkat, juga termasuk perlindungan jaringan pipa, jalan untuk penempatan pasukan, jembatan, pusat transportasi, dan infrastruktur digital.
Helge Adrians, seorang pakar kebijakan pertahanan dan keamanan di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan (SWP) menyambut baik upaya restrukturisasi tersebut, tetapi juga mengatakan bahwa tidak ada rencana yang jelas tentang bagaimana tepatnya Jerman harus mempersiapkan diri menghadapi jenis ancaman baru yang dihadapinya. Termasuk di antaranya: Propaganda, spionase, dan sabotase.
Kebangkrutan Proyek Persenjataan Jerman
Menteri Pertahanan Jerman Thomas de Maizièzer dikritik bukan hanya sejak skandal menyangkut Euro Hawk. Dalam sejarah Jerman, proyek persenjataan kerap gagal.
Foto: picture-alliance/dpa
Lebih Tinggi, Lebih Luas, Lebih Cepat
Begitulah moto sebagian besar proyek persenjataan besar. Dan pada akhirnya "Terlalu mahal, tidak berhasil, gagal", bukan hanya pada proyek pesawat tak berawak Euro Hawk. Mulai dari kapal selam yang tidak tahan air asin, hingga serangkaian jet tempur yang jatuh. Daftar kegagalan panjang. Berikut gambarannya.
Foto: picture-alliance/dpa
Panser Bagi Orang Cebol
Awal rangkaian kegagalan adalah panser HS 30. Menteri Pertahan Franz Josef Strauß memesan beberapa ribu pada pertengahan tahun 1950-an, walaupun ia hanya kenal contohnya yang terbuat dari kayu. Hasilnya: ruang yang terlalu sempit, rantai yang rapuh dan pendingin yang tidak berfungsi baik. Jika seorang tentara ingin keluar ketika panser sedang berjalan, ia harus mempertaruhkan nyawa.
Foto: Bundesarchiv, B 145 Bild-F027418-0012 / Berretty / CC-BY-SA
Starfighter. Komando Mematikan
Kesalahan berikutnya berakibat lebih buruk. 1958 Frans Josef Strauß menjabat menteri pertahanan. Ia putuskan untuk melengkapi angkatan udara Jerman dengan pesawat Starfighter F 104 buatan perusahaan AS Lockheed. Dari 916 pesawat, 269 jatuh. Bundesrechnungshof, badan penghitung pengeluaran negara, tuduh Strauß hamburkan dana milyaran.
Foto: picture-alliance/dpa
Kapal Selam Yang Alergi Air Laut
Upaya mempersenjatai angkatan laut juga sulit. Setelah Perang Dunia II, kapal selam pertama Jerman dari kelas 201 seharusnya paling modern dari ukuran ini. Tapi dalam waktu singkat, di bagian luarnya bermunculan sejumlah keretakan. Baja yang digunakan tidak tahan air laut. Walaupun demikian, model berikutnya setelah kelas 205 bisa tenggelam tanpa menunjukkan tanda-tanda akan larut di air laut.
Foto: Bundesarchiv, Bild 146-2008-0210 / CC-BY-SA
Kapal Gagal Berharga 200 Juta
Marinir Jerman tetap setia dengan tradisi kegagalan. Kapal perang "Korvette 130" sampai sekarang tidak benar-benar berfungsi. Sejak digunakan tahun 2008, selalu timbul kejutan negatif. Sekrup yang mudah lepas, timbulnya jamur, kopling yang tidak lancar, juga pemersenjataan yang tidak diperhitungkan baik.
Foto: picture-alliance/dpa
Eurofighter. Makin Lama Makin Mahal
Dengan bangga Kanselir Jerman Gerhard Schröder tahun 2003 duduk di dalam kokpit Eurofighters. Itulah proyek Bundeswehr yang paling lama dan paling mahal. Dalam percobaan terbang sebuah pesawat jatuh, karena tidak bisa dikemudikan. 2010 kursi lontar tidak berfungsi, sehingga 55 Eurofighter tidak boleh diterbangkan. Akhirnya biayanya sampai 90 juta dan bukan 50 juta, untuk setiap pesawat.
Foto: picture-alliance/dpa
Tiger. Macan Tanpa Gigi
Helikopter tempur jenis "Tiger" (red - macan) tidak bisa segera ditempatkan dan jelas terlalu mahal. Perwira Bundeswehr juga menilainya tidak tepat untuk digunakan dalam perang di Afghanistan. Helikopter itu tidak cukup dipersenjatai untuk bisa melawan musuh. Secara resmi helikopter itu tidak disebut lagi helikopter tempur melainkan, helikopter pembantu.
Foto: picture-alliance/dpa
Proyek Bergengsi dengan Banyak Hambatan
Proyek-proyek baru Eropa juga tidak semuanya berjalan lancar. Airbus A400 M seharusnya menggantikan beberapa pesawat transpor yang sudah tua, terutama pesawat produksi Jerman-Perancis yang sudah tua, Transall. Sebetulnya pesawat itu sudah harus beroperasi. Tetapi terus gagal karena berbagai masalah teknis. Biarpun demikian, hingga 2020 semua pesawat A400 akan diserahkan kepada Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
"Harus ada rencana yang jelas di baliknya. Apa yang terutama ingin kita capai dengan memperkuat cadangan ini? Melindungi tanah air kita? Memberikan dukungan negara tuan rumah bagi sekutu kita? Memperkuat pasukan aktif? Yang kurang bagi saya adalah prioritas konkret tentang apa yang harus dicapai melalui cadangan ini," tandas Adrians.
"Saya rasa kesiapan untuk bertugas sudah ada, tetapi tujuan yang sebenarnya juga perlu dikomunikasikan dengan kata-kata yang sederhana," imbuhnya.
Tahun lalu, Asosiasi Kota dan Pemerintahan Jerman, yang mewakili 14.000 dewan lokal di Jerman, meminta pemerintah pusat untuk menambah €10 miliar selama 10 tahun ke depan, untuk perlindungan sipil. Usulan ini bertujuan untuk memperbaiki 2.000 bunker era Perang Dingin yang ada di Jerman, agar bisa digunakan lagi.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Namun, Kantor Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana Federal BBK mengatakan kepada DW bahwa hanya 579 bunker yang masih digunakan sebagai tempat perlindungan umum, dengan kapasitas untuk sekitar 478.000 orang (hanya sekitar 0,56% dari jumlah penduduk Jerman).
Presiden BBK, Ralph Tiesler mengatakan dalam sebuah konferensi pada awal Maret lalu bahwa "sistem kesehatan kita belum siap menghadapi situasi baru," mengingat meningkatnya serangan terhadap infrastruktur penting seperti rumah sakit.
Palang Merah Jerman juga memperingatkan kekurangan tempat penampungan, obat-obatan, dan tenaga bantuan, dan meminta dana khusus sebesar €20 miliar untuk mengatasi masalah ini.
Sekretaris Jenderal Palang Merah Jerman, Christian Reuter, mengatakan bahwa janji perubahan besar dalam perlindungan sipil setelah invasi Rusia ke Ukraina belum terwujud.
"Tiga tahun setelah itu, kita masih kekurangan, perlindungan sipil belum siap menghadapi keadaan darurat," ujarnya, mengingat kurangnya tenaga terlatih dalam perlindungan sipil, kapasitas darurat di rumah sakit, dan pasokan antibiotik yang aman.
Reuter menyebut anggaran perlindungan sipil yang ada sekarang, sekitar €500-600 juta per tahun, sangat tidak mencukupi.
Palang Merah Jerman sedang membangun pusat perlindungan sipil terbesar dan paling modern di Luckenwalde, dekat Berlin, dengan dana mereka sendiri karena kurangnya dukungan dari pemerintah.
Pusat perlindungan ini akan memiliki "modul perawatan mobile" yang bisa memberikan semua kebutuhan hidup untuk 5.000 orang dalam keadaan darurat, termasuk tempat tinggal, listrik, dan air. Pemerintah awalnya menjanjikan 10 modul, tapi sejauh ini baru satu modul yang didanai sepenuhnya..
Militer Jerman Bundeswehr di Luar Negeri
Militer Jerman Bundeswehr terlibat dalam berbagai misi internasional di Eropa, Asia, Afrika dan Timur Tengah.
Foto: picture-alliance/dpa
Misi Internasional di Mali
Di Mali ditempatkan sekitar 170 tentara Jerman dalam rangka misi pendidikan dan pelatihan Uni Eropa, EUTM. Angota Bundeswehr ikut melatih tentara Mali. Selain itu, pasukan Jerman juga terlibat dalam misi PBB MINUSMA dengan beberapa pesawat transportasi logistik.
Foto: picture-alliance/dpa
Brigade Jerman-Perancis ke Mali
Parlemen Jerman juga memutuskan pengiriman brigade Jerman-Perancis ke Mali. Brigade ini dibentuk sebagai kerjasama militer Jerman-Perancis akhir 1980-an. Di Mali mereka akan membantu pengamanan warga sipil.
Foto: picture-alliance/dpa
Bantuan untuk Afghanistan
Sejak 2001, Bundeswehr ikut dalam misi internasional ISAF di Afghanistan. Saat ini ada sekitar 3000 tentara Jerman yang ditempatkan di sana. Mereka bergabung di bawah komando pasukan NATO. Mandat pasukan Jerman di Afghanistan akan berakhir tahun 2014.
Foto: picture-alliance/dpa
Misi Mematikan
Sejak bertugas di Afghanistan Desember 2001, 55 tentara Jerman tewas dalam serangan dan kecelakaan. Misi ISAF menjadi misi paling berbahaya bagi Bundeswehr. Sejak ikut dalam misi internasional tahun 1992, 103 tentara Jerman tewas dalam tugas di luar negeri.
Foto: picture-alliance/dpa
Bundeswehr di Kosovo
Misi KFOR di Kosovo adalah misi militer Jerman yang paling lama di luar negeri. Jerman ikut dalam misi KFOR sejak 1999. Bundeswehr pernah mengerahkan sampai 8500 tentara ke Kosovo. Saat ini tinggal 700 tentara. Sampai saat ini, 26 orang tewas dalam misi KFOR.
Foto: DW/Bekim Shehu
Roket Patriot di Turki
Sejak Desember 2012, Jerman bersama-sama dengan Amerika Serikat dan Belanda mengirim roket Patriot ke perbatasan Turki. Anggota NATO itu meminta bantuan pengamanan perbatasan setelah terjadi perang di Suriah. Sekitar 400 tentara Jerman mengoperasikan dua unit roket Patriot dekat perbatasan Turki-Suriah.
Foto: picture-alliance/dpa
Menjaga Perbatasan Laut Libanon
Sejak 2006, Jerman ikut dalam misi PBB UNIFIL di Libanon. Angkatan Laut Jerman berpatroli mengawasi perbatasan laut. Misi UNIFIL adalah salah satu misi pengawasan PBB yang tertua, dan sudah dimulai tahun 1978. Setelah perang Israel-Libanon tahun 2006, mandatnya diperbarui.
Foto: imago/C. Thiel
Perang Anti Teror di Laut Tengah
Setelah serangan teror 11 September 2001, NATO melakukan misi "Operation Active Endeavour" (OAE) di Laut Tengah. Misi tersebut bertujuan mengawasi kegiatan terorisme di kawasan itu. Sejak 2003, Bundeswehr mengirim kapal perang dan kapal selam ke Laut Tengah dalam misi OAE.
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Kesadaran baru tentang bertahan hidup
Reuter juga menekankan pentingnya setiap rumah tangga untuk memiliki persediaan barang-barang esensial buat bertahan hidup, seperti makanan, air, produk kebersihan, radio yang pakai baterai, dan perlengkapan darurat lainnya. Selain itu, dia menyebutkan bahwa masyarakat perlu diberi pemahaman lebih baik mengenai hal ini.
Daniel Schäfer, yang merupakan bagian dari komunitas "prepper," selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan. Ia mengatakan bahwa permintaan untuk kursus pelatihannya semakin meningkat. (Ed: Prepper merujuk pada seseorang yang mempersiapkan diri secara aktif untuk kemungkinan bencana, krisis, atau situasi darurat yang dapat terjadi di masa depan).
Peralatan Bundeswehr Bermasalah
Hampir setiap hari muncul laporan tentang masalah teknis pada perlengkapan militer Bundeswehr. Daftar makin panjang, Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen harus menjawab kritik.
Foto: picture-alliance/dpa
Pesawat Tempur Canggih Eurofighter
Eurofighter adalah pesawat paling modern yang dimiliki militer Jerman Bundeswehr. Tapi menurut pabriknya, ada kesalahan kecil pada pembuatan pesawat itu. Kelayakan terbangnya dipotong dari 3000 jam menjadi 1500 jam. Kementerian Pertahanan menerangkan, kesalahan teknis itu tidak mengganggu kesiapan Bundeswehr.
Foto: picture-alliance/dpa
Pesawat tua
Pesawat tempur lain yang dimiliki Bundeswehr adalah jet Tornado, yang mulai diproduksi 40 tahun lalu. Bundeswehr punya sekitar 89 pesawat Tornado. Tapi hanya 38 pesawat yang siap terbang. Pesawat pengangkut jenis Transall C-160 juga bermasalah. Hanya 25 dari sekitar 57 pesawat yang siap beroperasi.
Foto: picture-alliance/dpa/Udo Zander
Helikopter rusak
Masalah teknis terutama membayangi helikopter Bundeswehr. Dari 31 helikopter modern jenis Tiger, hanya 10 yang saat ini siap beroperasi. Angkatan Laut memiliki 22 helikopter khusus "Sea Lynx", tapi ternyata hanya 4 yang bisa dioperasikan. Juga helikopter pengangkut jenis NH90 dan CH53 punya masalah teknis.
Foto: picture-alliance/dpa/Carsten Rehder
Panser bermasalah
Dari 189 kendaraan lapis baja jenis "Boxer", hanya sekitar 70 yang digunakan untuk pelatihan atau dalam misi-misi khusus. Dari 406 panser jenis "Marder", hanya setengahnya yang siap dioperasikan. Panser ini memang sudah tua, mulai digunakan tahun 1971.
Foto: Johannes Eisele/AFP/Getty Images
Kerusakan teknis kapal perang
Bulan Desember 2001 ditusukan untuk memesan lima kapal perang jenis "K130". Seharusnya kapal itu selesai tahun 2007. Tapi semuanya terlambat, karena masalah mesin dan software. Hanya dua dari lima kapal perang yang bisa langsung beroperasi.
Foto: picture-alliance/dpa
Menteri Pertahanan dikritik
Ursula von der Leyen adalah wanita pertama di Jerman yang memimpin departemen pertahanan. Rangkaian masalah teknis di Bundeswehr adalah krisis besarnya yang pertama sejak dilantik sebagai Menteri Pertahanan akhir 2013.
Foto: Reuters
6 foto1 | 6
Komunitas ”prepper” sering kali menjadi bahan perbincangan dan cemoohan, karena ada sebagian orang mengolok-olok mereka adalah komunitas berpandangan apokaliptik yang paranoid, atau bahkan ingin menggulingkan pemerintah.
Namun, bagi Schäfer, sebagian besar para ”prepper” lebih peduli tentang hal-hal dasar, seperti misalnya bagaimana melindungi diri dan masyarakat dalam situasi perang atau bencana besar. Dia juga mengatakan bahwa dampak nyata dari perubahan iklim, pandemi COVID-19, dan perang di Ukraina membuat banyak orang mulai berpikir lebih serius tentang hal ini.
"Ada kesadaran baru bahwa negara tidak selalu bisa langsung memberi bantuan begitu kita membutuhkannya. Kita harus belajar untuk mandiri dalam krisis dan terus mengasah keterampilan bertahan hidup," jelas Schäfer kepada DW.
Bagi Schäfer, persiapan itu bukan hanya soal persediaan barang-barang penting, tetapi juga soal membangun komunikasi yang baik, jaringan sosial yang kuat, dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit.
"Pengetahuan memang penting, dan ada rasa aman jika kita sudah siap. Tapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk memimpin, ketahanan mental, dan bagaimana tetap tenang di situasi berbahaya. Sayangnya, banyak orang belum tahu cara melakukannya," tambahnya.
"Pada akhirnya, setiap warga negara harus siap untuk melayani negaranya ketika dibutuhkan," pungkas Schäfer.