1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
TerorismeAustria

Austria: Sidang Rencana Serangan Konser Taylor Swift Dimulai

Felicia Salvina sumber: AP, dpa
28 April 2026

Dua terdakwa diadili atas dugaan teror yang menggagalkan konser di Wina, Austria, pada 2024. Salah satu tersangka disebut siap mengaku bersalah atas sebagian dakwaan.

Austria, Wiener Neustadt 2026 | Terdakwa dibawa ke persidangan terkait rencana serangan terhadap konser Taylor Swift
Persidangan terkait rencana serangan terhadap konser Taylor Swift di Wina pada 2024 kini dimulai. Kuasa hukumnya mengatakan bahwa terdakwa disebut akan mengaku bersalah. Foto: Roland Schlager/APA/AFP

Persidangan terkait dugaan rencana serangan terhadap konser Taylor Swift di Austria resmi dimulai pada Selasa (28/04). Persidangan ini mengusut ancaman teroris yang membuat tiga konser Taylor Swift batal di Wina pada Agustus 2024.

Seorang pria Austria berusia 21 tahun bernama Beran A. menjadi terdakwa utama dalam sidang di Wiener Neustadt. Ia didakwa atas sejumlah pelanggaran terorisme. Termasuk keanggotaan dalam organisasi teroris. Satu terdakwa lain bernama Arda K., yang juga berusia 21 tahun, turut diadili dalam kasus ini.

Jaksa menyebut keduanya, bersama satu tersangka lain, Hasan E. kini ditahan di Arab Saudi, membentuk sel teroris yang berencana melakukan serangan. Namun, otoritas menyatakan terdakwa kedua tidak terlibat dalam rencana penyerangan konser Swift.

Kepada Associated Press, pengacara Beran A., Anna Mair mengatakan kliennya berencana mengaku bersalah atas sebagian besar dakwaan. Ia terancam hukuman hingga 20 tahun penjara. Persidangan dijadwalkan akan dilanjutkan pada 12 Mei.

Rencana serangan dan pembatalan konser 

Menurut penyelidikan, terdakwa utama diduga menargetkan serangan terhadap 30,000 kerumunan di luar Stadion Ernst Happel,  juga 65,000 orang di dalam stadion. Ia disebut ingin menggunakan pisau atau bahan peledak rakitan. Hal tersebut dilakukannya dengan tujuan "membunuh orang sebanyak mungkin.”

Pada 7 Agustus 2024, apartemennya sempat digeledah. Di situ, aparat menemukan bahan-bahan untuk merakit bom. Sementara itu, konser dijadwalkan berlangsung sehari setelahnya. Diketahui bahwa Amerika Serikat memberikan informasi intelijen yang turut menjadi pertimbangan dalam pembatalan konser.

Ketiga konser yang dijadwalkan pada 8-10 Agustus 2024 akhirnya dibatalkan oleh penyelenggara sebagai langkah preventif.

"Pembatalan konser kami di Wina sangat menyedihkan,” tulis Swift, dua pekan setelah kejadian. "Alasan di balik pembatalan itu membuat saya merasa takut, sekaligus sangat bersalah karena begitu banyak orang sudah berencana datang ke konser tersebut,” ujarnya.

Taylor Swift menyebut pembatalan konsernya sangat menyedihkan dan mengatakan ia merasa bersalah kepada para penggemar yang sudah datang ke Wina hanya untuk menonton penampilannya.Foto: Daniel Cole/REUTERS

Para Swifties yang datang dari berbagai negara sempat kecewa. Namun, mereka berusaha menghidupkan suasana kota dengan aksi seperti bertukar gelang persahabatan dan bernyanyi bersama.

Jejak jaringan dan rencana serangan lain

Jaksa menyebut terdakwa utama telah berjejaring dengan ISIS dan sempat membahas pembelian senjata serta perakitan bom. Ia juga diduga telah bersumpah setia kepada kelompok tersebut.

Selain rencana di Wina, para tersangka disebut merancang serangan serentak di Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab selama Ramadan 2024. Namun, rencana itu tidak pernah dijalankan.

Salah satu tersangka lain dalam jaringan tersebut, Hasan E., kini ditahan di Arab Saudi setelah diduga menyerang seorang petugas keamanan di Masjidil Haram di Mekah pada 11 Maret 2024.

Kasus ini memicu perbandingan dengan serangan bom bunuh diri dalam konser Ariana Grande di Manchester, Inggris pada 2017 yang menewaskan 22 orang.

 

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait