1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sidang Raya ke-32 Gereja Protestan Jerman Berakhir

25 Mei 2009

Sidang Raya Gereja Protestan ke-32 di Jerman berakhir hari Minggu (24/05) di kota Bremen. Selama lima hari sekitar 300.000 orang peserta berdiskusi secara intensif, bukan hanya dalam soal agama.

BdT Kirchentag in Bremen
Ribuan orang menghadiri kebaktian penutup Sidang Raya ke-32 Gereja Protestan Jerman.Foto: AP

Sebenarnya penyelenggaraan itu mirip dengan Sidang Raya sebelumnya. Selalu didiskusikan pula berbagai masalah yang sedang disoroti masyarakat dan jangkauannya juga akan mencapai masa depan. Misalnya perubahan sistem keuangan dan tatanan ekonomi kapitalis. Keterlibatan dalam pasaran kerja dan akses tak terbatas pada sistem pelayanan kesehatan. Atau mengenai persamaan peluang untuk memperoleh pendidikan, terutama bagi kaum migran, lalu mengenai tantangan yang dihadapi terkait perubahan struktur kependudukan, dan juga mengenai dialog antaragama secara lebih intensif. Di antara sejumlah tokoh politik, kebudayaan, ekonomi dan ilmiah yang diundang ke Bremen untuk berdiskusi, terdapat mantan kanselir Jerman Helmut Schmidt. Dia berdiskusi mengenai tanggung jawab dalam krisis global, yang merupakan topik besar dalam Sidang Raya tsb. Dikatakannya: "Biarpun aksi penyelamatan bank akan sukses, itu tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dunia pada pasaran keuangan. Harus ada sistem yang dapat diandalkan untuk melakukan regulasi dan pengawasan terhadap semua lembaga keuangan."

Selain Presiden Horst Köhler yang menyampaikan pidato pembukaan, juga Kanselir Angela Merkel hadir dalam sebuah diskusi. Banyak yang diketengahkannya menyangkut pemahaman demokrasi dan martabat manusia. Perlu diingat sebelum reunifikasi Jerman, Angela Merkel hidup di Jerman Timur, dimana kebebasan beragama, hak azasi dan martabat manusia tidak banyak artinya. Oleh sebab itu Kanselir Merkel mengemukakan betapa pentingnya untuk aktif secara politis, mengemukakan pendapat secara terbuka dan ikut dalam pemilu: "Itulah demokrasi. Karena, tiap orang dapat mengatakan pendapatnya, tetapi bila pendapat yang beragam itu berdiri sendiri, dia kurang didengar. Oleh sebab itulah kita punya berbagai perhimpunan, kelompok, prakarsa, yang semuanya harus selalu bergabung. Sebab 80 juta pendapat yang berbeda akan lenyap begitu saja bila tidak dipadukan."

Walaupun serupa, tetapi dalam beberapa hal Sidang Raya Gereja Protestan Jerman kali ini agak berbeda. Mengingat sedang berlangsungnya pula kampanye pemilu, maka penyelenggaraan itu dijadikan ajang untuk menyebarkan pesan politik yang baru. Sebenarnya lebih baik lagi bila orang mengurangi sikap tunduk, tidak terlalu bertepuk tangan dan lebih memperlihatkan pendapat yang berbeda, terutama pada masa sedang terjadinya sejumlah masalah sosial. Begitu kritik dari sejumlah peserta. Tetapi senator urusan kebudayaan kota Bremen merangkap ketua penyelenggara Sidang Raya mengemukakan, jaman semata-mata melakukan perlawanan sudah lewat. Walaupun begitu tidak dapat dikatakan, bahwa para peserta bersikap apatis dan putus asa. Mereka akan tetap berperan dan mengeluarkan suara-suara kritis, baik di dalam maupun di luar jemaat gereja. Karin von Weck mengatakan: "Saya berharap, misalnya jajaran pemimpin gereja juga mengambil semangat positif dari Sidang Raya ini ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Misalnya menelaah mengapa hal-hal tertentu dalam karya gereja tidak bisa berfungsi seperti selama Sidang Raya ini?

Peter Kolakowski / Dewi Gunawan-Ladener
Editor: Hendra Pasuhuk