1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sikap Jerman terhadap Perang Irak Masih Mendua

20 Maret 2008

Jerman dan Perang Irak. Tema yang hingga kini belum mencapai kata sepakat. Sebagian lega, bahwa Saddam Hussein tidak berkuasa lagi, tetapi sebagian lagi berpendapat Perang Irak tidak adil bagi rakyatnya.

Symbolbild Deutschland Irak
Foto: DW
Jerman tidak mendukung perang melawan Irak, baik secara militer mau pun keuangan. Pernyataan Gerhard Schröder tahun 2002 ini memastikannya terpilih kembali sebagai kanselir Jerman dan menggoyahkan hubungan dengan Amerika Serikat. "Kami tidak mau terlibat dalam sebuah petualangan. Dan diplomasi buku cek telah benar-benar berakhir, saudara-saudara sekalian." Schröder yang 2002 kalah popularitasnya berdasarkan jajak pendapat, telah menemukan tema yang membantunya untuk bangkit kembali. Cara Amerika Serikat menghadapi Saddam Hussein tidak disukai oleh warga Jerman. Saat serangan dilakukan terhadap kelompok Taliban usai peristiwa 11 September 2001, Jerman masih mendukung. Tetapi tuduhan terhadap Saddam Hussein semakin terkesan mengada-ada. Saat pesaing Schröder, Edmund Stoiber, kemudian menyerangnya karena sikapnya terhadap perang Irak, maka selesai sudah pertarungan. Schröder menang. Angela Merkel, saat itu sebagai pimpinan oposisi, bersikap lebih apik. Ia tidak mengeritik penolakan Schröder akan perang, melainkan karena Schröder sebelumnya tidak meminta persetujuan dari negara-negara Eropa lainnya. Ini kemudian memecah Eropa menjadi Eropa Lama dan Eropa Baru. Demikian istilah yang diberikan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat itu Donald Rumsfeld. Maret 2003, beberapa jam usai perundingan untuk perang, Merkel menyatakan perang tersebut sebagai kekalahan diplomasi dan politik. "Dengan memandang ke depan, kita akan melakukan segala cara agar kekuasaan dan kemampuan negosiasi Uni Eropa, sekutu transatlantik, dan PBB bisa berkembang melalui satu kesepakatan." Schröder dan Menteri Luar Negeri Joschka Fischer waktu itu melakukan segala cara untuk tidak dianggap semakin bersikap kasar terhadap PBB. Mereka menyetujui penggunaan pangkalan militer Amerika di Jerman dan memberikan bantuan militer bagi Turki dan Israel untuk perlindungan akan kemungkinan adanya serangan dari Irak. Tidak lama usai perundingan tentang perang berakhir, Jerman menyediakan bantuan bagi pembangunan kembali di Irak. Pada pertemuan pembangunan kembali Irak 2005 di Brussel, Menteri Luar Negeri Jerman Fischer menyatakan bentuk bantuan lain. "... Apakah kita menyetujui perang tersebut atau tidak, gagalnya proses demokratisasi harus kita tanggung bersama. Ini tidak boleh terjadi." Tidak lama setelah pergantian pemerintahan akhir 2005, arkeolog Jerman Susanne Osthoff diculik di Irak. Penculiknya menuntut Jerman menghentikan bantuan bagi Irak. Kanselir Jerman yang baru terpilih Angela Merkel memutuskan untuk menolak permohonan tersebut. "Pemerintahan Jerman, saya, dan parlemen, tidak akan membiarkan kami diperas." Kemudian, diketahui bahwa saat Perang Irak pegawai dinas rahasia Jerman memasok informasi kepada dinas rahasia Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Steinmeier yang saat itu menjabat sebagai koordinator dinas rahasia Schröder, membenarkan langkah tersebut. "Langkah itu benar, karena walau pun ada perbedaan, Amerika Serikat tetap menjadi mitra dan sekutu. Langkah itu benar, karena kita memiliki lawan yang sama, yaitu terorisme internasional." (vl)