1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Sistem Peringatan Tsunami Thailand Perlu Perawatan

31 Juli 2017

Hampir 80% sistem peringatan dini Tsunami milik Thailand mengalami kerusakan atau membutuhkan perawatan. Terutama perbaikan menara pemancar dan buoy di pesisir selatan yang sarat wisatawan dianggap mendesak.

Tsunami Frühwarnsystem Pazifischer Ozean Boje
Foto: AP

Hingga 80 persen infrastruktur peringatan dini bahaya Tsunami milik Thailand membutuhkan perawatan mendesak. Sistem tersebut terdiri atas menara pemancar, buoy dan alarm bahaya. "Sekitar 2.000 unit harus diperbaiki. Kita membangun sistem ini pada 2006 dan sekarang saatnya dirawat," kata Kobchai Boonyaroana, Wakil Kepala Badan Penanggulangan dan Mitigasi Bencana.

"Baterainya harus diisi ulang," imbuhnya. "Saya telah mengsintruksikan agar perawatan dilakukan secepatnya, terutama di pesisir selatan yang merupakan kawasan pariwisata. Mungkin ada sejumlah perlengkapan yang rusak," dan tidak diketahui, kata Kobchai.

Namun begitu Pusat Peringatan Bencana Nasional (NDWC) di Bangkok membantah adanya kerusakan pada sistem peringatan dini Tsunami. Prasert Kunneang, Jurubicara NDWC mengklaim sistem tersebut diuji dan dirawat setiap hari. "Jika besok ada gelombang Tsunami, sistem peringatannya akan berfungsi normal," ujarnya.

Sekitar 5.395 orang meninggal dunia saat gelombang Tsunami yang dipicu gempa bumi berkekuatan 9.15 pada skala Richter menerpa pesisir selatan Thailand 2004 silam.

Jumlah tersebut tidak seberapa dibandingkan jumlah korban di Indonesia yang mencapai sedikitnya 130.000 korban jiwa.

Meski begitu gelombang Tsunami 2004 nyaris melumpuhkan sektor pariwisata Thailand yang menyumbang sekitar 12 persen pada Produk Domestik Brutto. Pemerintah di Bangkok mengatakan akan melakukan peringatan bahaya Tsunamin secara manual lewat televisi dan radio selama perawatan masih berlangsung.

rzn/ap (rtr,afp)