Situasi di Somalia
29 Desember 2006
Mengenai situasi di Somalia, harian Perancis Le Monde menulis:
„Kaburnya para milisi Islam dari Mogadishu setelah tentara Etiopia mendekat, tidak akan disesali di Afrika dan di bagian dunia lain. Tapi hal ini hendaknya tidak menutupi kenyataan, bahwa pendudukan Etiopia tidak menyelesaikan masalah Somalia. Juga jangan dilupakan, bahwa pemerintahan transisi yang dibentuk tahun 2004 dalam perundingan di Nairobi ternyata tidak mampu membangun kembali negara itu karena tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat. Belum bisa dikatakan, apa pelajaran yang mungkin bisa ditarik dari pertempuran di Somalia. Namun tanpa upaya keras masyarakat internasional tidak banyak yang akan berubah bagi warga Somalia.“
Harian Inggris Independent berpendapat, di balik penyerbuan Etiopia terlihat jelas dukungan Amerika Serikat. Harian ini menulis:
„Somalia mungkin saja punya pemerintahan nasional. Tapi kekuasaannya terutama ditopang dari Addis Abeba. Terlihat jelas ada pengendalian Amerika Serikat, yang khawatir akan muncul rejim Islam fundamentalistis di Somalia. Gantinya sebuah konflik internal yang terbatas di kawasan Somalia, sekarang ada kemungkinan front pertempuran meluas jadi front Islam melawan Kristen. Dalam perang ini, baik negara-negara tetangga, negara-negara Arab maupun Amerika Serikat punya kepentingan sendiri. Karena itu tidak mungkin ada solusi cepat dari PBB.
Harian Inggris lainnya, The Times menilai, hanya pasukan perdamaian PBB dan solusi politik bisa menyelesaikan masalah Somalia. Harian ini menulis:
“Solusi politik adalah satu-satunya harapan yang bisa membawa stabilitas. Yang paling bagus adalah, jika pasukan perdamaian masuk ke Mogadishu dan sebuah perundingan antara semua partai yang bertikai bisa terlaksana di bawah payung PBB. Setelah kemenangan militer, Etiopia sekarang mungkin tidak merasa perlu ada perundingan diplomatik. Namun negara itu tentu punya cukup pengalaman di Afrika untuk tahu, bahwa jauh lebih mudah untuk masuk ke Somalia daripada untuk keluar lagi.“
Harian Rusia Kommersant berkomentar:
„Ada masyarakat yang berfungsi menurut struktur kemasyarakatan yang rumit dengan sistem pembagian kekuasaan antar suku dan klan. Campur tangan dari luar, sekalipun maksudnya baik, seringkali malah mengakibatkan kekacauan. Contoh terbaik adalah Afghanistan dan Somalia. Masuknya koalisi internasional ke Afghanistan dan jatuhnya rejim Taliban tidak membawa stabilitas di negara itu. Hal yang sama akan terjadi jika Etiopia menduduki Somalia.“ (hp)