Situasi Somalia Meruncing Dramatis
24 Juni 2009
Pasukan kami dalam kondisi siaga penuh. Dengan kata-kata ini Presiden Somalia Sheik Sharif Ahmed Senin (22/06) lalu menyatakan keadaan darurat di negaranya. Hal ini dipedulikan oleh milisi Al Shabaab dan pasukan Hizb- al Islam yang sudah sejak lama menguasai kawasan-kawasan strategis di ibukota Mogadishu. Hanya tinggal soal waktu kapan pelabuhan dan bandar udara yang saat ini masih dijaga oleh pasukan perdamaian Uni Afrika juga jatuh ke tangan mereka.
Berdasarkan latar belakang itu pemerintah Somalia meminta bantuan militer kepada negara tetangganya Ethiopia, Kenya dan Jibuti. Akhir tahun 2006 tanpa mandat PBB, tapi dengan dukungan diam-diam Amerika Serikat, Ethiopia melakukan intervensi di Somalia. Mereka memang berhasil memukul kelompok radikal. Tapi setelah perlawanan sengit bahkan dari kelompok Somalia yang moderat, Ethiopia harus menarik tentaranya Januari lalu. Abdi Rashid pakar Somalia dari Kelompok studi krisis Internasional di Nairobi memperingatkan akan campur tangan militer negara tetangga tersebut
Abdi Rashid:
„Kita melihat berbagai intervensi militer di Somalia sejak tahun 1991 dan semua gagal. Jadi saya tidak melihat bagaimana serangan dari Kenya dan Ethiopia, walaupun dengan mandat, dapat menyelamatkan situasi. Kita harus lebih banyak melakukan proses politik, daripada menyerukan intervensi militer."
Sementara itu pemerintah Ethiopia membantah keterangan saksi mata bahwa sebagian pasukannya telah dialihkan melampaui perbatasan ke Belet Huen. Disebutkan Ethiopia masih menunggu mandat PBB. Namun juru bicara pemerintah Ethiopia Shimeles Kemal kepada Deutsche Welle, menegaskan kesiagaan negaranya.
Sementara ini semakin jelas tanda-tanda bahwa Somalia akan menjadi tempat beraksi kelompok Jihad Internasional yang berjuang atas nama Islam murni di Afrika Timur. Alasan ini juga yang menyebabkan timbulnya persaingan antara Al Shabaab dan kelompok Hizb al-Islam yang moderat.
Abdi Rashid: „Diyakini memang benar bahwa Al Shabaab semakin meningkatkan pembentukan pasukan yang didukung oleh kelompok Jihadis asing, yang datang ke Somalia dari seluruh kawasan Islam di dunia. Jika kita melihat Irak dan negara-negara lainnya kita juga tidak perlu terkejut. Jumlahnya berkisar antara 400 sampai 500 pejuang. Tapi tidak ada jumlah yang akurat dan jumlah pejuang asing juga selalu dilebih-lebihkan.“
Sudah lama krisis di Somalia menyeret seluruh kawasan itu ke dalam krisis. Musuh bebuyutan Eritrea dan Ethiopia melanjutkan perang lewat wakil-wakilnya di Somalia. Sementara itu Kenya sudah lama menjadi tempat merekrut kelompok Jihad Somalia. Mereka secara terbuka mengancam akan membumi hanguskan Nairobi, jika Kenya membantu pemerintah transisi Somalia.
Lukas Schadomsky / Dyan Kostermans
Editor: Agus Setiawan