1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialGlobal

Pestisida di Ladang Pisang: Keadilan Tak Pernah Berbuah

19 Februari 2026

Pengadilan Prancis menolak klaim kompensasi terhadap perusahaan multinasional AS oleh para pekerja pertanian Nikaragua yang teracuni oleh pestisida Nemagon. Petani masih bergantung pada bahan kimia berbahaya.

Korban pestisida di Nikaragua
Para korban keracunan Nemagon di Nikaragua menderita kemandulan, gagal ginjal kronis, penyakit kulit, atau kankerFoto: dpa/picture alliance

Para pekerja perkebunan pisang di wilayah Chinandega, Nikaragua, yang jatuh sakit atau bahkan kehilangan kesuburan setelah bersentuhan dengan pestisida beracun itu, harus menelan pil pahit ketika pengadilan di Paris menolak perkara mereka pada hari Selasa (17/02).

"Kami kalah pada pokok perkara kebijakan publik. Pengadilan menilai jumlah ganti rugi tidak proporsional—menurut kami, itu kekeliruan dalam menakar derita,” ujar pengacara mereka, Raphael Kaminsky, kepada AFP. Ia memastikan perkara ini akan dibawa ke mahkamah tertinggi Prancis.

Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, ribuan pekerja di sekitar perkebunan terpapar Nemagon dalam waktu lama. Akibatnya: kemandulan, gagal ginjal kronis, gangguan kulit, hingga kanker. Pestisida itu mengandung dibromokloropropana (DBCP), senyawa yang dirancang untuk membasmi hama tanah—dan rupanya juga masa depan manusia.

Tahun 2006, pengadilan Nikaragua memerintahkan Shell, Dow Chemical, dan Occidental Chemical—para penjual pestisida tersebut—untuk membayar kompensasi sebesar 805 juta dolar AS kepada para korban. Namun, segala upaya menagihnya di Amerika Serikat kandas.

Nemagon dilarang di AS pada 1977 setelah terbukti menyebabkan kemandulan pada pekerja pria. Ironisnya, ia tetap berlayar ke negeri-negeri lain—termasuk Nikaragua—dan digunakan hingga 1980-an. Racun yang diusir dari rumah sendiri, rupanya masih laku di halaman tetangga.

Profesor di Universitas Cile, Grettel Navas, yang meneliti polusi beracun dan kesehatan publik, mengatakan sulit mengukur kerusakan yang terjadi. Ia mewawancarai para korban pada 2017–2018 dan menyaksikan penantian panjang mereka akan kompensasi yang bermakna.

"Mungkin luka terdalam adalah kelelahan fisik dan batin. Lebih dari 30 tahun memperjuangkan pengakuan dan keadilan—dan keadilan itu seperti menanti datangnya kereta yang tak kunjung tiba. Banyak pekerja meninggal sambil menunggu.”

Ia menambahkan, para korban Nemagon di Nikaragua tak bisa banyak berharap pada dukungan pemerintah. Lembaga publik, katanya, kian rapuh dalam menangani kasus ini maupun dalam melindungi warga dari paparan pestisida dan kerusakan ekologis.

Para korban keracunan Nemagon di Nikaragua telah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kejelasan atau penyelesaian atas kasus merekaFoto: AFP

Pestisida terlarang di Eropa, bebas melanglang buana

Nemagon memang sudah tak dipakai lagi. Namun, puluhan pestisida beracun lainnya masih disemprotkan di ladang-ladang dunia—dilarang di Eropa, tetapi bebas diekspor ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin. 

Residu pestisida mencemari udara, air, dan tanah; membunuh satwa yang tak dituju; menggerus keanekaragaman hayati. Paparan jangka panjang terhadap herbisida, insektisida, fungisida, dan nematisida meningkatkan risiko kemandulan, keguguran, gangguan pernapasan dan saraf, hingga berbagai jenis kanker.

"Eropa berjanji pada 2020 untuk menghentikan praktik ini,” ujar Angeliki Lysimachou dari Pesticide Action Network Europe. "Dan sejauh ini, belum ada langkah nyata.”

Pada Oktober 2020, Komisi Eropa berikrar akan "memimpin dengan memberi teladan” dan memastikan bahan kimia berbahaya yang dilarang di Uni Eropa tidak diproduksi untuk ekspor. Namun investigasi Unearthed dan Public Eye pada September 2025 menunjukkan bahwa perdagangan ekspor pestisida terlarang justru meluas.

Menurut Frances Verkamp dari Friends of the Earth Europe, kebijakan ekspor Uni Eropa masih memungkinkan pengiriman pestisida terlarang ke Amerika Latin. "Ini bentuk neokolonialisme yang menjijikkan,” katanya, "seolah tubuh dan tanah di dunia belahan selatan lebih murah harganya dibanding tubuh dan tanah di Eropa.”

Pestisida yang dilarang di Uni Eropa masih diekspor untuk digunakan di luar negeriFoto: Raminder Pal Singh/epa/picture alliance

Tanaman ekspor dan ketergantungan pada racun

Di Kosta Rika, negara yang sering dipuji sebagai pelopor perlindungan lingkungan, Soledad Castro Vargas dari Universitas Zurich mendokumentasikan jejak panjang pestisida. Dari ibu kota San Jose, ia berkisah tentang komunitas yang dulu bergantung pada herbisida bromacil untuk nanas dan fungisida chlorothalonil untuk sayuran kecil. Residu bahan itu masih ditemukan di tanah dan air minum hingga kini.

Chlorothalonil dilarang di Uni Eropa pada 2019, tetapi baru empat tahun kemudian di Kosta Rika. Bromacil dikeluarkan dari pasar Eropa sejak 2009, namun dipakai di Kosta Rika hingga 2017. Racun rupanya punya umur simpan yang panjang—terutama bila keuntungan ikut menjaganya.

Castro menyebut apa yang ia lihat  "menghancurkan.” Komunitas kecil tak punya sumber daya untuk memantau pencemaran atau mencari sumber air baru. Sementara iklim tropis yang hangat dan lembap, surga bagi produksi pangan sepanjang tahun, juga surga bagi hama dan patogen.

"Itulah paradoks pertanian tropis,” katanya. Kondisi yang memungkinkan panen tak kenal musim, sekaligus mempersulit produksi.

Tanaman komersial Amerika Latin seperti pisang telah diberi pestisida selama beberapa dekadeFoto: AP Photo/picture alliance

Monokultur—menanam satu komoditas bernilai tinggi untuk ekspor—mempercepat penyebaran hama. "Penanaman monokultur memperkuat hama dan patogen,” ujarnya, yang pada akhirnya makin mengikat petani pada pestisida sintetis.

Sebuah studi Oktober 2025 menunjukkan penggunaan pestisida sintetis lazim di pertanian industri maupun skala kecil, dan terus meningkat—terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah.

Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut penggunaan global pestisida telah dua kali lipat sejak 1990. Antara 2013–2023 naik 14%, meski turun 2% di akhir periode. Namun, data nyata bisa jadi lebih tinggi, karena pelaporan terbatas. Diperkirakan dua pertiga lahan pertanian dunia berisiko tercemar pestisida.

"Pertanian industri, pasar global, struktur utang, dan sistem input korporasi telah menciptakan ketergantungan struktural,” kata Navas, lingkaran yang sulit diputus.

Praktik agroekologi — seperti menggunakan bebek untuk memakan siput dan serangga — dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida di pertanian, seperti di Cape Town, Afrika SelatanFoto: Esa Alexander/REUTERS

Jalan keluar dari "treadmill” kimia

Laporan khusus PBB tentang pangan pada 2017 menyoroti alternatif: Praktik pertanian yang menyesuaikan kondisi lokal, rotasi tanaman untuk menjaga kesehatan tanah, serta memupuk keanekaragaman hayati untuk pengendalian hama alami—bahkan menggunakan bebek untuk memangsa serangga pengganggu.

Pendekatan ini dikenal sebagai agroekologi, dan dinilai mampu menyediakan pangan cukup bagi dunia.

Namun untuk turun dari "treadmill pestisida kimia,” petani butuh dukungan—pemerintah, sistem penyuluhan independen, serikat tani—agar berani merancang ulang sistem tanam yang bersahabat dengan alam, tidak semata mengejar laba jangka pendek.

"Petani yang sudah melakukannya senang dengan hasilnya,” ujar Lysimachou. "Biaya kerap turun, keuntungan bisa naik, tapi mereka beralih dengan risiko sendiri, tanpa dukungan finansial. Tidak semua orang punya kemewahan itu.”

Menurut Navas, dukungan itu juga berarti regulasi yang tegas dan setara di seluruh dunia. "Jika suatu pestisida terbukti berbahaya di Uni Eropa, besar kemungkinan risikonya sama di Amerika Latin. Biologi manusia tidak berubah karena melintasi perbatasan, jadi mengapa perlindungan hukumnya berbeda?”

Dan di situlah pertanyaan itu menggantung: jika bahayanya sama, mengapa standar perlindungan nyawa tidak setara?

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait