1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Perempuan Terus Berjuang di Skena Musik Indonesia

24 Juli 2026

Semakin banyak musisi perempuan yang mengisi daftar putar para pendengar. Namun, isu ketimpangan masih sering luput. Mulai dari kasus pelecehan seksual, objektifikasi, hingga stereotipe peran perempuan di bidang ini.

Jill Van Diest vokalis dari band Stepforward saat tampil
Teknik vocal screaming menjadi ciri khas Jill Van Diest selama berkarya dengan band beraliran hardcore dari Jakarta, Stepforward.Foto: Instagram Stepforward

Pada 42 tahun yang lalu indonesia meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan atau ⁠Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW). Konvensi ini disepakati dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1984.

Namun, komitmen penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan masih belum bisa dirasakan dalam berbagai lini sosial. Salah satunya dalam industri musik di Indonesia

Pada masa kini, perempuan makin mendapat ruang yang lebih besar di industri musik. Musisi perempuan baik yang berkarier solo atau tergabung dalam band semakin marak mengisi daftar putar para pendengar. Tidak hanya untuk berkarya dan tampil di atas panggung, mereka juga berperan penting di balik berjalannya ekosistem musik di Indonesia.

Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi. Semakin banyaknya ruang bagi perempuan dalam industri, tidak berarti objektifikasi, stigma, dan stereotip terhadap perempuan hilang begitu saja.

Industri musik hari ini pun jadi cerminan atas kondisi sosial yang lebih besar terjadi pada masyarakat, di mana perempuan masih harus berjuang mendapatkan kesempatan yang setara dengan laki-laki di berbagai lini struktur sosial. 

Perempuan dalam lingkungan yang didominasi laki-laki 

Salah satu yang tetap bertahan dalam industri ini adalah Jill Van Diest. Mungkin bagi pendengar musik yang lebih mainstream, namanya tidak terlalu dikenal. Namun, dia sudah berkiprah di dunia musik sejak tahun 1995 dengan kelompok musik bernama Stepforward.

Mereka adalah salah satu pionir yang mempopulerkan genre hardcore dengan nuansa heavy metal kepada pendengar musik di Indonesia. Tidak mudah baginya saat mengawali karier sebagai vokalis band cadas. Berada di lingkungan yang didominasi laki-laki membuatnya sempat mempertanyakan apakah ini pilihan yang tepat baginya. 

"Ada satu pandangan yang menyatakan perempuan itu tidak memiliki tempat di dunia musik hardcore, bahkan ada yang bilang ‘it belongs to the dudes’. Gue sih enggak peduli, di sini gue bisa jadi diri sendiri dan gue memang suka dengan musiknya," ungkap Jill. 

Ibu dua anak ini juga menceritakan bahwa ketika pertama ia manggung dengan Stepforward, dia sudah menjadi mendapatkan pelecehan seksual dari salah satu penontonnya. Sempat pula dilempari botol plastik saat di panggung.

Menyikapi kejadian itu Jill memutuskan untuk menghentikan penampilannya saat itu. Peristiwa itu malah semakin membuatnya tertantang untuk membuktikan bahwa ia mampu terus berkarya dan akhirnya bertahan di jalur musik keras hingga saat ini.

Tantangan perempuan di industri musik 

Hal yang masih kerap terjadi di industri musik pada perempuan adalah objektifikasi. Aktivis dan musisi Kartika Jahja menuturkan bahwa perempuan masih sering dianggap objek dan tidak dilibatkan sebagai subjek atau pelaku dalam dunia musik.

"Perempuan lebih sering diletakkan atau kadang meletakkan diri mereka sendiri di posisi-posisi yang lebih mengambil peran sebagai object of desireobject of fantasy atau product to be marketed," ungkap Tika.  

Selain memutuskan untuk kembali bermusik, aktivis dan musisi Kartika Jahja juga aktif mendampingi perempuan penyintas kekerasan seksual.Foto: Kartika Jahja personal archives

Musisi yang juga dikenal lewat karyanya bersama Tika and The Dissidents ini juga memaparkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi dalam skala industri musik nasional.

"Tantangan yang dialami perempuan-perempuan di dangdut Pantura itu sangat luar biasa. Seksisme, diskriminasi, eksploitasi hingga kekerasan seksual itu terjadi hampir setiap mereka tampil," ujarnya kepada DW Indonesia.

Ia juga menambahkan bahwa formula tersebut kadang terinternalisasi dalam perempuan sehingga masalah teknis seperti sound engineering, music producing, hingga art directing di balik panggung musik itu dirasa bukan kemampuan mereka. 

Kesempatan lebih untuk perempuan 

Di sisi lain, sektor-sektor penting di balik industri musik Indonesia juga sudah memberikan ruang bagi perempuan. Aldila Karina selaku direktur komunikasi label musik Demajors dan Synchronize Festival menuturkan bahwa di tempatnya bekerja ketimpangan gender sudah mulai terkikis.

Saat awal berkarier di Demajors ia mengaku menjadi satu-satunya perempuan, tapi saat ini sekitar 35% dari seluruh total karyawan adalah perempuan. 

"Sekarang sudah ada beberapa music producer, tim teknis hingga sound engineer perempuan. Kita harus memiliki kesadaran untuk memberikan porsi untuk keterwakilan perempuan. Bukan cuma dari perempuan saja, tapi justru laki-laki juga perlu memberikan kesempatan."  

Lewat Synchronize Festival, Dila juga membuat inisiatif bertajuk "Student Road Show", kampanye bagi para pelajar agar mereka tidak ragu berkarier dalam industri musik.

"Tidak hanya menjadi musisi, industri musik diharapkan bisa menjadi ladang pekerjaan yang baik di masa mendatang dan tentunya tidak terbatas dengan gender," ujarnya.

Musik sebagai cerminan situasi sosial

Musisi sering kali menangkap apa yang terjadi dalam kehidupan sosial ke dalam karya-karyanya. Begitu juga dengan Jill dengan Stepforward menelurkan lagu berjudul Perempuan dari album perdana mereka. Dalam karya itu ia ingin menyampaikan bahwa perempuan punya kebebasan untuk berada dalam posisi apa pun yang mereka inginkan.

"Lewat lagu Perempuan gue ingin menunjukan bahwa jangan pandang perempuan itu berbeda, gue bisa buktiin bahwa perempuan juga punya kualitas karya yang baik sekalipun gue mainin musik hardcore, yang sangat sedikit perempuan di dalamnya," ungkapnya. 

Aldila Karina dalam Synchronize Festival juga menyerukan gerakan 'saling jaga'. kampanye untuk menjadikan festival musik menjadi ruang aman bagi semua terutama perempuan.Foto: Instagram Aldila Karina

Tema-tema mengenai kesetaraan gender juga semakin banyak dilantunkan oleh musisi-musisi tanah air. Tika menyambut positif hal tersebut dan mengatakan, “isu seksisme, homofobia dan kekerasan seksual sudah lazim untuk dibicarakan, bahkan tidak hanya oleh perempuan, laki-laki juga ikut menyuarakan itu. Jadi sekarang kesetaraan ini bukan cuma perjuangan perempuan saja.” 

Tika yang juga aktif menjadi pendamping perempuan penyintas kekerasan seksual juga berharap pandangan perempuan bisa lebih didengarkan dalam kehidupan sosial maupun inisiatif para pemangku kebijakan.

Penghapusan ketimpangan bagi perempuan tentunya juga tidak hanya perlu digaungkan dalam industri musik. Dila mengingatkan bahwa saat ini perempuan tidak perlu takut untuk mencoba beragam hal.

"Kita bisa bermimpi sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya seperti halnya laki-laki. Dalam bidang apa pun kesempatan harus diberikan kepada perempuan karena mereka layak mendapatkannya," pungkas Direktur Komunikasi Synchronize Fest tersebut.

Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait