1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahIndonesia

Soeharto Jadi Pahlawan: Bayar Utang Budi atau Pantang Kalah?

12 November 2025

Penetapan Soeharto jadi pahlawan nasional- apakah sudah tepat dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sekadar ‘bayar utang budi’ Prabowo Subianto atau bukti karakter pantang kalah sang presiden?

Presiden RI ke2 Soeharto
Foto: picture-alliance/CPA Media Co. Ltd

Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 pahlawan nasional. Yang banyak menjadi kontroversi tentunya penetapan Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto sebagai salah satu yang mendapat gelar kehormatan tersebut. Pengumuman disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon usai upacara penganugerahan gelar di Istana Negara, Senin (10/11), Jakarta.

Fadli Zon menegaskan, keputusan ini didasarkan pada jasa dan kiprah Soeharto dalam sejarah perjuangan bangsa, "Yang terkait dengan perjuangan Pak Harto dalam hal ini sudah dikaji, antara lain itu serangan umum 1 Maret, beliau ikut pertempuran di Ambarawa, ikut pertempuran lima hari di Semarang, menjadi Komandan Operasi Mandala perebutan Irian Barat, dan juga kiprah Presiden Soeharto dalam pembangunan lima tahunan, yang saya kira tadi juga sudah dibacakan, telah membantu di dalam pengentasan kemiskinan,” terang Fadli sebagaimana dikutip dari pernyataan pers sekretariat negara.

"Bangsa Indonesia perlu memandang perjalanan sejarah secara utuh dan objektif. Jasa-jasa Pak Harto telah dikaji secara mendalam dan konkret,” ujar Fadli. Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menambahkan, penganugerahan ini merupakan bentuk penghormatan atas kontribusi tokoh-tokoh bangsa dan mengajak masyarakat meneladani nilai perjuangan mereka. ”Kita melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh. Terutama juga para pendahulu-pendahulu kita. Marilah sekali lagi kita belajar untuk melihat yang baik, melihat jasa-jasanya,” ujar Syaifullah Yusuf.

Kekurangan vs kelebihan, tiada manusia yang sempurna?

Pengamat sosial Geger Riyanto pernah mencatatkan opininya: Soeharto, yang memimpin Indonesia selama 32 tahun memiliki cerita-cerita suksesnya. ”Seperti julukannya, Bapak Pembangunan, eranya diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang menjulang. Singkat kata, argumentasi mengapa Soeharto layak dijadikan pahlawan nasional akan selalu ada.”

Namun seandainya pun kelebihannya jauh lebih banyak, kekurangan Soeharto fatal, tandas Geger. "Figurnya adalah ikon sebuah ketidakpatutan yang tak akan pernah bisa dibenarkan—yang mengawut-awut kehidupan satu negara semata untuk kenyamanan satu keluarga. Sepanjang Indonesia disepakati bersilakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya dan kita masih ingat betapa sesaknya hari-hari di bawah pemerintahannya,”tulis Geger.

Kendati demikian mungkin saja suatu hari kita lupa, imbuhnya; ”Mungkin, itu yang diharapkan berbagai pihak yang mendesak penabalan kepahlawanannya.” Mungkin ingatan kita yang tersisa tinggal betapa murah harga-harga di masa kepresidenannya, dan betapa tenangnya masyarakat di hari-hari itu. ”Tetapi, saya percaya, banyak yang akan terus memastikan kita mengingat dengan benar. Bahwa hak kita, pada hari-hari kekuasaannya, sama murahnya. Bahwa ketenangan, pada masa itu, dibeli dengan kepatuhan buta.”

Hulubalang bekerja keras wujudkan impian atasan

Mengamati dari sisi berbeda, pengamat militer Aris Santoso menilai penetapan Soeharto sebagai pahlawan - tak lepas dari karakteristik Presiden Prabowo: ”Karakter Prabowo yang sudah terlihat sejak masih aktif sebagai komandan pasukan di masa Orde Baru dulu, yakni pantang untuk dikalahkan, terefleksi saat menjadi presiden sekarang. Dengan kata lain segala kehendaknya harus terlaksana, entah bagaimana caranya, dalam hal ini adalah niat Prabowo mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional,” jelas Aris.

Bila di masa Orde Baru, Prabowo memiliki kolonel atau letkol yang sangat setia, kini saat menjadi Presiden, Prabowo memiliki seorang "hulubalang” (komandan pasukan perang), pada diri Fadli Zon, ungkap Aris yang mengamati bagaimana keteguhan dan kepatuhan Fadli Zon menunaikan tugas atasannya. ”Fadli Zon akhirnya berhasil memuaskan ”tuannya”, ketika Soeharto benar-benar ditetapkan sebagai pahlawan nasional, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Terlalu bersemangatnya Fadli, hingga sampai mengeluarkan statement kontroversial, ketika mengatakan bahwa Suharto tidak terlibat genosida 1965. Sudah tentu statement ini memperoleh perlawanan dari publik, terutama Generasi Z, generasi era digital, yang bisa menemukan jejak digital soal keterlibatan Suharto dalam peristiwa 1965,” imbuh Aris.

Mungkin publik masih permisif terhadap Fadli, mengingat sejak Orde Baru, ia diketahui memang sudah dekat dengan Prabowo, ungkap Aris. Namun posisi "sulit” tengah dihadapi elemen yang dulu tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), seperti Budiman Sujatmiko dan "kawan-kawan", yang terpaksa menerima begitu saja gelar pahlawan nasional bagi Soeharto.

Aris menyebutkan: ”Mungkin istilah yang pas bagi elemen PRD dalam peristiwa ini adalah "lame duck” (bebek lumpuh). Salah satu elemen PRD yang posisinya paling sulit adalah Agus Jabo (Wakil Menteri Sosial), mengingat Kementerian Sosial secara kelembagaan yang memroses gelar pahlawan nasional. Sementara Menteri Sosial Syaifullah Yusuf (Gus Ipul, Sekretaris Jenderal PBNU), tidak terlalu berat beban politisnya, mengingat  beberapa tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menentang Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, Misalnya Gus Mus atau Mustofa Bisri dari Rembang dan Anita Wahid (anak Gus Dur),” tandas Aris.

Lalu apa kira-kira motivasi yang mendorong Prabowo untuk segera mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional?

Aris menganalisa: ”Sebagaimana laporan sebelumnya, tampaknya Prabowo sendiri kurang begitu yakin, apakah dia bisa berkuasa lagi untuk periode yang kedua (2029-2034), Prabowo sendiri ragu atas kekuatan fisiknya (baca: kesehatan). Oleh sebab itu, berdasarkan asumsi Prabowo hanya berkuasa satu periode, dia harus tuntas membayar semua "utang budi”, utamanya terhadap Soeharto.”

Aris berharap Prabowo tetap sehat. Namun menurutnya tidak tertutup kemungkinan bahwa pada tahun depan Prabowo bisa saja menetapkan ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dan termasuk dua orang juga sebagai pahlawan nasional.

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait