Penetapan Soeharto jadi pahlawan nasional- apakah sudah tepat dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sekadar ‘bayar utang budi’ Prabowo Subianto atau bukti karakter pantang kalah sang presiden?
Foto: picture-alliance/CPA Media Co. Ltd
Iklan
Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 pahlawan nasional. Yang banyak menjadi kontroversi tentunya penetapan Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto sebagai salah satu yang mendapat gelar kehormatan tersebut. Pengumuman disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon usai upacara penganugerahan gelar di Istana Negara, Senin (10/11), Jakarta.
Fadli Zon menegaskan, keputusan ini didasarkan pada jasa dan kiprah Soeharto dalam sejarah perjuangan bangsa, "Yang terkait dengan perjuangan Pak Harto dalam hal ini sudah dikaji, antara lain itu serangan umum 1 Maret, beliau ikut pertempuran di Ambarawa, ikut pertempuran lima hari di Semarang, menjadi Komandan Operasi Mandala perebutan Irian Barat, dan juga kiprah Presiden Soeharto dalam pembangunan lima tahunan, yang saya kira tadi juga sudah dibacakan, telah membantu di dalam pengentasan kemiskinan,” terang Fadli sebagaimana dikutip dari pernyataan pers sekretariat negara.
"Bangsa Indonesia perlu memandang perjalanan sejarah secara utuh dan objektif. Jasa-jasa Pak Harto telah dikaji secara mendalam dan konkret,” ujar Fadli. Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menambahkan, penganugerahan ini merupakan bentuk penghormatan atas kontribusi tokoh-tokoh bangsa dan mengajak masyarakat meneladani nilai perjuangan mereka. ”Kita melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh. Terutama juga para pendahulu-pendahulu kita. Marilah sekali lagi kita belajar untuk melihat yang baik, melihat jasa-jasanya,” ujar Syaifullah Yusuf.
Iklan
Kekurangan vs kelebihan, tiada manusia yang sempurna?
Pengamat sosial Geger Riyanto pernah mencatatkan opininya: Soeharto, yang memimpin Indonesia selama 32 tahun memiliki cerita-cerita suksesnya. ”Seperti julukannya, Bapak Pembangunan, eranya diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang menjulang. Singkat kata, argumentasi mengapa Soeharto layak dijadikan pahlawan nasional akan selalu ada.”
Namun seandainya pun kelebihannya jauh lebih banyak, kekurangan Soeharto fatal, tandas Geger. "Figurnya adalah ikon sebuah ketidakpatutan yang tak akan pernah bisa dibenarkan—yang mengawut-awut kehidupan satu negara semata untuk kenyamanan satu keluarga. Sepanjang Indonesia disepakati bersilakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya dan kita masih ingat betapa sesaknya hari-hari di bawah pemerintahannya,”tulis Geger.
Mesin Uang Gurita Cendana
Keserakahan keluarga Cendana nyaris membuat Indonesia bangkrut. Oleh banyak pihak keluarga Suharto disebut mengantongi kekayaan sebesar 200 triliun Rupiah. Inilah jurus gurita cendana mengeruk duit haram dari kas negara:
Foto: Getty Images/AFP/J. Macdougall
Gurita Harta
Suharto punya cara lihai mendulang harta haram. Ia mendirikan yayasan untuk berbinis dan mendeklarasikannya sebagai lembaga sosial agar terbebas dari pajak. Dengan cara itu ia mencaplok perusahaan-perusahaan mapan yang bergerak di bisnis strategis, seperti perbankan, konstruksi dan makanan. Menurut majalah Time, Suharto menguasai 3.6 juta hektar lahan, termasuk 40% wilayah Timor Leste
Foto: AP
Yayasan Siluman
Tidak hanya menghindari pajak, yayasan milik keluarga Cendana juga mendulang rejeki lewat dana sumbangan paksaan. Cara-cara semacam itu tertuang dalam berbagai keputusan presiden, antara lain Keppres No. 92/1996 yang mewajibkan perusahaan atau perorangan menyetor duit sebesar 2% dari penghasilan tahunan. Dana yang didaulat untuk keluarga miskin itu disetor ke berbagai yayasan Suharto.
Foto: Getty Images/AFP/J. Macdougall
Bisnis Terselubung
Bekas Jaksa Agung Soedjono Atmonegoro pernah menganalisa laporan keuangan ke empat yayasan terbesar Suharto. "Yayasan ini dibentuk untuk kegiatan sosial," tuturnya. "Tapi Suharto menggunakannya untuk memindahkan uang ke anak dan kroninya." Soedjono menemukan, Yayasan Supersemar menggunakan 84% dananya untuk keperluan bisnis, semisal pinjaman lunak kepada perusahaan yang dimiliki anak dan kroninya
Foto: picture alliance/dpa/A. Lolong
Lewat Kartel dan Monopoli
Cara lain yang gemar ditempuh Suharto untuk menggerakkan mesin uang Cendana adalah melalui monopoli. Teman dekatnya, The Kian Seng alias Bob Hasan, misalnya memimpin kartel kayu lewat Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO). Pengusaha yang kemudian dijebloskan ke penjara itu sering disebut sebagai ATM hidup keluarga cendana.
Foto: Getty Images/AFP/Firman
Bisnis Tepung Paman Liem
Taipan lain yang juga menjadi roda uang Cendana adalah Sudomo Salim alias Liem Sioe Liong. Sejak tahun 1969 pengusaha kelahiran Cina itu sudah mengantongi monopoli bisnis tepung lewat PT. Bogasari. Dari situ ia membangun imperium bisnis makanan berupa Indofood. Pria yang biasa disapa "Paman Liem" ini juga menjadi mentor bisnis buat putra putri Suharto.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Uang Minyak
Bukan rahasia lagi jika Pertamina pada era Suharto menjelma menjadi dompet raksasa keluarga Cendana. Sejak awal sang diktatur sudah menempatkan orang kepercayaannya, Ibnu Sutowo, buat memimpin perusahaan pelat merah tersebut. Sutowo kemudian memberikan kesaksian kepada majalah Time, tahun 1976 ia dipaksa menjual minyak ke Jepang dan menilap 0,10 Dollar AS untuk setiap barrel minyak yang diekspor.
Foto: picture-alliance/dpa
Pewaris Tahta Cendana
Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut sejak awal sudah diusung sebagai pewaris tahta Cendana. Putri tertua Suharto ini tidak cuma menguasai puluhan ribu hektar lahan sawit, stasiun televisi TPI dan 14% saham di Bank Central Asia, tetapi juga memanen harta tak terhingga lewat jalan tol. Hingga 1998 kekayaannya ditaksir mencapai 4,5 triliun Rupiah.
Foto: Getty Images/AFP/B. Ismoyo
Merajalela Lewat Bulog
Dari semua putera Suharto, Bambang adalah satu-satunya yang paling banyak berurusan dengan Liem Sioe Liong. Setelah mendirikan Bimantara Grup, Bambang terjun ke bisnis impor pangan lewat Badan Urusan Logistik yang saat itu didominasi Liem. Menurut catatan Tempo, selama 18 tahun kroni Suharto mengimpor bahan pangan lewat Bulog senilai 5 miliar Dollar AS.
Foto: picture-alliance/dpa
Duit Cengkeh untuk Tommy
Melalui monopoli Hutomo Mandala Putra meraup kekayaan hingga 5 triliun Rupiah. Tahun 1996 ia mendapat status pelopor mobil nasional dan berhak mengimpor barang mewah dan suku cadang tanpa dikenai pajak. Selain itu Tommy juga menguasai Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang memonopoli penjualan dari petani ke produsen rokok. BPPC ditengarai banyak membuat petani cengkeh bangkrut.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Akhir Pahit Diktatur Tamak
Secara lihai Suharto membajak pertumbuhan ekonomi untuk kepentingan keluarga. Menurut Bank Dunia, antara 1988 hingga 1996, Indonesia menerima investasi asing senilai USD130 miliar. Tapi struktur perekonomian yang dibuat untuk memperkaya kroni Cendana justru menyeret Indonesia dalam krisis ekonomi dan mengakhiri kekuasaan sang jendral. (rzn/yf: economist, times, bloomberg, bbc, kompas, tempo)
Foto: Gemeinfrei
10 foto1 | 10
Kendati demikian mungkin saja suatu hari kita lupa, imbuhnya; ”Mungkin, itu yang diharapkan berbagai pihak yang mendesak penabalan kepahlawanannya.” Mungkin ingatan kita yang tersisa tinggal betapa murah harga-harga di masa kepresidenannya, dan betapa tenangnya masyarakat di hari-hari itu. ”Tetapi, saya percaya, banyak yang akan terus memastikan kita mengingat dengan benar. Bahwa hak kita, pada hari-hari kekuasaannya, sama murahnya. Bahwa ketenangan, pada masa itu, dibeli dengan kepatuhan buta.”
Hulubalang bekerja keras wujudkan impian atasan
Mengamati dari sisi berbeda, pengamat militer Aris Santoso menilai penetapan Soeharto sebagai pahlawan - tak lepas dari karakteristik Presiden Prabowo: ”Karakter Prabowo yang sudah terlihat sejak masih aktif sebagai komandan pasukan di masa Orde Baru dulu, yakni pantang untuk dikalahkan, terefleksi saat menjadi presiden sekarang. Dengan kata lain segala kehendaknya harus terlaksana, entah bagaimana caranya, dalam hal ini adalah niat Prabowo mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional,” jelas Aris.
Bila di masa Orde Baru, Prabowo memiliki kolonel atau letkol yang sangat setia, kini saat menjadi Presiden, Prabowo memiliki seorang "hulubalang” (komandan pasukan perang), pada diri Fadli Zon, ungkap Aris yang mengamati bagaimana keteguhan dan kepatuhan Fadli Zon menunaikan tugas atasannya. ”Fadli Zon akhirnya berhasil memuaskan ”tuannya”, ketika Soeharto benar-benar ditetapkan sebagai pahlawan nasional, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Terlalu bersemangatnya Fadli, hingga sampai mengeluarkan statement kontroversial, ketika mengatakan bahwa Suharto tidak terlibat genosida 1965. Sudah tentu statement ini memperoleh perlawanan dari publik, terutama Generasi Z, generasi era digital, yang bisa menemukan jejak digital soal keterlibatan Suharto dalam peristiwa 1965,” imbuh Aris.
Mungkin publik masih permisif terhadap Fadli, mengingat sejak Orde Baru, ia diketahui memang sudah dekat dengan Prabowo, ungkap Aris. Namun posisi "sulit” tengah dihadapi elemen yang dulu tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), seperti Budiman Sujatmiko dan "kawan-kawan", yang terpaksa menerima begitu saja gelar pahlawan nasional bagi Soeharto.
Aris menyebutkan: ”Mungkin istilah yang pas bagi elemen PRD dalam peristiwa ini adalah "lame duck” (bebek lumpuh). Salah satu elemen PRD yang posisinya paling sulit adalah Agus Jabo (Wakil Menteri Sosial), mengingat Kementerian Sosial secara kelembagaan yang memroses gelar pahlawan nasional. Sementara Menteri Sosial Syaifullah Yusuf (Gus Ipul, Sekretaris Jenderal PBNU), tidak terlalu berat beban politisnya, mengingat beberapa tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menentang Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, Misalnya Gus Mus atau Mustofa Bisri dari Rembang dan Anita Wahid (anak Gus Dur),” tandas Aris.
Lalu apa kira-kira motivasi yang mendorong Prabowo untuk segera mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional?
Aris menganalisa: ”Sebagaimana laporan sebelumnya, tampaknya Prabowo sendiri kurang begitu yakin, apakah dia bisa berkuasa lagi untuk periode yang kedua (2029-2034), Prabowo sendiri ragu atas kekuatan fisiknya (baca: kesehatan). Oleh sebab itu, berdasarkan asumsi Prabowo hanya berkuasa satu periode, dia harus tuntas membayar semua "utang budi”, utamanya terhadap Soeharto.”
Aris berharap Prabowo tetap sehat. Namun menurutnya tidak tertutup kemungkinan bahwa pada tahun depan Prabowo bisa saja menetapkan ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dan termasuk dua orang juga sebagai pahlawan nasional.
Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah
Hampir tidak ada diktatur di dunia yang tidak menilap uang negara. Tapi ketika sebagian puas dengan vila atau jet pribadi, yang lain rakus tanpa henti. Berikut daftar koruptor yang paling getol mengumpulkan uang haram
Foto: AP
#1. Soeharto, Indonesia
Selama 32 tahun berkuasa di Indonesia, Suharto dan keluarganya diyakini menilap uang negara antara 15 hingga 35 miliar US Dollar atau sekitar 463 trilyun Rupiah. Jendral bintang lima ini lihai menyembunyikan kekayaannya lewat berbagai yayasan atau rekening rahasia di luar negeri. Hingga kini kekayaan Suharto masih tersimpan rapih oleh keluarga Cendana
Foto: picture alliance/CPA Media
#2. Ferdinand Marcos, Filipina
Ferdinand Marcos banyak menilap uang negara selama 21 tahun kekuasaanya di Filipina. Menurut Transparency International, ia mengantongi setidaknya 10 milyar US Dollar. Terutama isterinya, Imelda, banyak menikmati uang haram tersebut dengan mengoleksi lebih dari 3000 pasang sepatu. Imelda kini kembali aktif berpolitik dan ditaksir memiliki kekayaan sebesar 22 juta USD
Foto: picture-alliance/Everett Collection
#3. Mobutu Sese Seko, Zaire
Serupa Suharto, Mobutu Sese Seko berkuasa di Zaire selama 32 tahun. Sang raja lihai memainkan isu invasi negara komunis Angola untuk mengamankan dukungan barat. Ketika lengser, Mobutu Sese Seko menilap hampir separuh dana bantuan IMF sebesar 12 milyar US Dollar untuk Zaire dan meninggalkan negaranya dalam jerat utang.
Foto: AP
#4. Sani Abacha, Nigeria
Cuma butuh waktu lima tahun buat Sani Abacha untuk mengosongkan kas Nigeria. Antara 1993 hingga kematiannya tahun 1998, sang presiden meraup duit haram sebesar 5 milyar US Dollar atau sekitar 66 trilyun Rupiah. Sesaat setelah meninggal, isterinya lari ke luar negeri dengan membawa 38 koper berisi uang. Polisi kemudian menemukan perhiasan senilai jutaan dollar ketika menggeledah kediaman pribadinya
Foto: I. Sanogo/AFP/Getty Images
#5. Slobodan Milosevic, Serbia
Slobodan Milosevic yang berkuasa di Serbia antara 1989-1997 dan kemudian Yugoslavia hingga 2000 tidak cuma dikenal berkat serangkaian pelanggaran HAM berat yang didakwakan kepadanya, melainkan juga kasus korupsi. Selama berkuasa Milosevic diyakini menilap uang negara sebesar 1 milyar US Dollar atau sekitar 13 trilyun Rupiah.
Foto: picture-alliance/dpa/dpaweb
#6. Jean-Claude Duvalier, Haiti
Selama 15 tahun kekuasaannya di Haiti, Jean-Claude Duvalier tidak cuma bertindak brutal terhadap oposisi, tetapi juga rajin mengalihkan uang negara ke rekening pribadinya di Swiss. Saat kembali dari pengasingan 2011 silam, Duvalier didakwa korupsi senilai 800 juta US Dollar.
Foto: picture-alliance/AP/Dieu Nalio Chery
#7. Alberto Fujimori, Peru
Alberto Fujimori berkuasa selama 10 tahun di Peru. Buat pendukungya, dia menyelamatkan Peru dari terorisme kelompok kiri dan kehancuran ekonomi. Tapi Fujimori punya sederet catatan gelap, antara lain menerima uang suap dan berbagai tindak korupsi lain. Menurut Transparency International ia mengantongi uang haram sebesar 600 juta US Dollar atau sekitar 8 trilyun Rupiah.