1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Soft Clubbing dan Seni Menikmati Pesta Secukupnya

3 Oktober 2026

Pesta kini bisa dimulai setelah lari pagi atau berakhir sebelum larut malam. Lewat "soft clubbing", individu dan komunitas mencari cara menikmati musik serta pertemanan tanpa mengorbankan rutinitas sehari-hari.

Para peserta salah satu soft clubbing di Jakarta mengenakan pakaian olahraga dan menari di depan stan DJ | September 2026
Menikmati musik dan kebersamaan tetap menjadi daya tarik pesta, sementara 'soft clubbing' menawarkan waktu yang lebih fleksibel untuk menyesuaikannya dengan rutinitas sehari-hariFoto: Ausirio Sangga Ndolu/DW Indonesia

Bagi Wilma, malam yang menyenangkan tak berarti harus berlangsung sampai klub yang ia datangi tutup. Bertemu teman, bernyanyi, dan menikmati musik baginya sudah cukup. Jika ada jadwal olahraga esok paginya, ia memilih pulang lebih awal.

Pekerja swasta berusia 28 tahun itu merasa tak perlu menunggu penampilan Disc Jockey (DJ) tertentu atau mengikuti acara sampai selesai.

"Biasanya saya hanya sampai tengah malam. Tidak sampai DJ datang, atau sampai klub tutup. Karena kebutuhan saya tidak sampai ke sana, dan saya tidak terbiasa tidur sampai selarut itu,” kata Wilma kepada DW Indonesia.

Wilma masih gemar menikmati pesta. Namun, ia semakin memperhitungkan bagaimana kegiatan malam itu akan memengaruhi aktivitasnya setelah bangun tidur keesokan hari. Waktu istirahat dan rutinitas olahraga menjadi pertimbangan, begitu pula pilihannya untuk tidak mengonsumsi alkohol.

"Pertama, saya mengendarai mobil. Jadi, lebih baik jika saya tidak minum alkohol,” ujarnya. "Ditambah lagi, rutinitas tidur saya lebih cepat. Jadi, saya tidak memaksakan diri untuk minum alkohol.”

Cara Wilma menikmati hiburan jadi salah satu hal yang ditawarkan soft clubbing, yaitu menikmati musik dan pertemanan dengan waktu serta intensitas pesta yang lebih mudah disesuaikan dengan keseharian.

Istilah soft clubbing digunakan untuk menjelaskan beragam kegiatan, mulai dari pesta di kedai kopi, sesi DJ pada sore hari, hingga acara berdansa yang selesai lebih awal. Alkohol tidak lagi menjadi pusat pengalaman dalam pergaulan, sebab musik, suasana, dan interaksi sosial mendapat prioritas yang lebih besar bagi sekelompok orang.

Di Jakarta, konsep itu hadir dalam berbagai bentuk. Ada komunitas yang melanjutkan olahraga pagi dengan musik, ada pesta yang secara khusus melarang alkohol, dan ada pula acara yang memindahkan jam berdansa jadi sore hari.

Stan es krim protein dan minuman menyasar para peserta lari yang melanjutkan waktu bersantai dalam acara soft clubbing di JakartaFoto: Ausirio Sangga Ndolu/DW Indonesia

Dari lintasan lari ke lantai dansa

Pertemuan setelah olahraga menjadi salah satu ruang berkembangnya format hiburan ini. Selesai berlari, peserta tidak langsung berpisah. Mereka melanjutkan waktu bersama dengan makan, minum kopi, atau menikmati musik.

Degen Run Club, misalnya, menggabungkan kegiatan lari bersama pada Minggu pagi dengan agenda bersosialisasi setelahnya. Melalui akun Instagram @degenrunclub, komunitas ini membagikan agenda selepas lari seperti “After the Race” yang digelar di tempat-tempat kekinian di jantung ibu kota Jakarta. Acara ini menghadirkan penampilan musik dan menjadi ruang bagi para peserta untuk bersantai sambil mengobrol. 

Konsep itu juga muncul dalam agenda Discoffee di 7 Speed Coffee, Panglima Polim, Jakarta Selatan. Pada 16 Agustus 2026 lalu, penyelenggara menggelar kegiatan lari santai sejauh lima kilometer, dan dilanjutkan dengan pesta musik. Seluruh rangkaian acara berlangsung pukul 06.00-10.00 WIB.

Ada pula Morning Rave bersama LET’S AFK yang menghadirkan DJ kawakan Indonesia, Angger Dimas, yang dikenal lewat penampilannya di berbagai panggung musik elektronik di dalam dan luar negeri. Acaranya digelar pukul 08.00-11.00 WIB, dengan aturan tanpa alkohol, rokok, maupun vape. Aturan itu ternyata jadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. 

Soft clubbing di pagi dan sore hari

Konsep soft clubbing bukan hanya muncul di pagi hari. Bagi yang lebih suka berdansa menjelang malam, ada pula pesta yang dimulai sore hari dan selesai sebelum waktu tidur. Konsep ini ditawarkan oleh Above30Club, yang berawal di Singapura dan menyasar pengunjung berusia 30-an yang masih ingin berpesta di tengah kesibukan serta tanggung jawab sehari-hari. Pilihan lagu era 1990-an dan 2000-an mengajak pengunjung bernostalgia tanpa harus bergadang.

Konsep tersebut kemudian dibawa ke Jakarta. Pesta Above30Club di Vault Jakarta pada Juli 2026 lalu berlangsung pukul 15.00-20.00 WIB, dengan harga tiket mulai Rp150.000 sampai Rp300.000. Pengunjung bisa bernyanyi dan berdansa sepanjang sore, lalu pulang ketika malam belum terlalu larut.

Kehadiran berbagai acara tersebut memperluas pilihan orang-orang yang masih ingin menikmati suasana pesta dengan batas yang mereka tentukan sendiri.

Bagi Wilma, keputusan membatasi waktu berpesta berangkat dari sesuatu yang lebih personal, dan bukan sekadar tren. Sekitar tiga tahun terakhir, ia mulai memperhatikan gaya hidup sebab orang tuanya memiliki riwayat diabetes dan penyakit jantung.

Wilma menyadari bahwa kebutuhan melepas penat memang tak harus selalu dipenuhi lewat pesta malam. Kegiatan seperti soft clubbing ini menurutnya bisa jadi pilihan. 

"Berolahraga atau bertemu teman yang perlu pergi ke klub atau sekadar pergi ke kedai kopi atau sekadar makan malam, itu sudah cukup untuk melepaskan penat. Jadi, menurut saya, itu terserah kita masing-masing.”

Makna waktu luang bergeser, kebutuhan berkumpul tetap sama

Sosiolog Universitas Negeri Yogyakarta, Amika Wardana, melihat fenomena ini sebagai bagian dari perubahan cara masyarakat memaknai waktu luang. Menurutnya, pilihan hiburan juga berkaitan dengan lingkungan sosial, nilai yang dianggap penting, dan kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok.

Dalam komunitas dengan ikatan tradisi yang kuat, kegiatan bersama kerap mengikuti agenda keagamaan, adat, atau pertemuan warga. Kehidupan perkotaan membuka lebih banyak pilihan untuk berkumpul di luar pola tersebut.

“Ini (soft clubbing) hanyalah contoh bagaimana anak muda mengisi waktu luang mereka. Dulu memang ada waktu luang. Namun di masa lalu, waktu luang itu sakral, sangat religius, terkait agama, tradisi, dan budaya. Sekarang, situasinya lebih terbuka dengan banyak kebutuhan,” kata Amika kepada DW Indonesia.

Seorang DJ memainkan musik dalam acara soft clubbing di salah satu rooftop Jakarta, menghadirkan suasana kelab tanpa harus menunggu malam Foto: Ausirio Sangga Ndolu/DW Indonesia

Kini orang memiliki keleluasaan menentukan kegiatan dan kelompok pergaulannya. Waktu luang juga dapat dimaknai sebagai kesempatan meredakan tekanan pekerjaan, mencari kesenangan, atau bahkan menjaga kebugaran.

Kebutuhan untuk bertemu orang lain tetap ada. Olahraga bersama, pesta musik, hingga pertunjukan komedi menjadi beberapa pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Amika, bentuk kegiatannya dapat terus berubah mengikuti orang-orang yang terlibat.

“Jadi, ini hanya mengubah bentuknya. Dan karena tidak ada aturan, bentuknya bisa berbeda. Itu tergantung pada orang-orang yang mengikutinya,” ujarnya.

Lingkaran pertemanan menjadi salah satu rujukan dalam menentukan kegiatan. Ke mana teman-teman pergi dan apa yang mereka lakukan ikut memengaruhi cara seseorang menghabiskan waktu.

“Dari generasi ke generasi, itu lebih seperti ikatan sosial atau apa kata kerennya? Lingkaran, kan? Ke mana lingkaran atau kelompok mereka pergi,” kata Amika.

Amika juga menilai, pilihan berolahraga, menikmati musik, atau menggabungkan keduanya dapat dipahami sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan dan identitas kelompok. Orang cenderung mengikuti kegiatan karena menyukainya, sekaligus karena di sanalah mereka menemukan teman dan rasa kebersamaan.

Namun, menurut Amika, soft clubbing belum bisa disimpulkan sebagai ciri satu generasi yang lebih sadar kesehatan. Kebiasaan yang menonjol dalam kelompok tertentu belum tentu mewakili seluruh orang seusianya.

“Kita tidak bisa menggeneralisasikannya,” ujarnya.

Di tengah beragam pilihan tersebut, pasar ikut menyediakan ruang. Kebutuhan mengisi waktu luang direspons oleh para pelaku usaha melalui tempat dan kegiatan yang mereka tawarkan.

“Sekarang, situasinya lebih terbuka dengan banyak kebutuhan,” katanya. “Situasi ini disambut baik oleh pasar.” 

Sosiolog Amika Wardana menilai, saat soft clubbing para peserta punya kesempatan bersosialisasi, sementara pelaku usaha dapat menjangkau berbagai komunitasFoto: Ausirio Sangga Ndolu/DW

Perubahan kebiasaan berawal dari ajakan sehari-hari

Wilma mengamini bahwa kebiasaan teman-teman terdekat ikut memengaruhi pilihannya menghabiskan waktu luang. Di lingkaran pertemanannya, perubahan kebiasaan berlangsung melalui ajakan sehari-hari. Ketika sebagian teman memilih lari pada pagi hari, rencana berkumpul pun ikut menyesuaikan. Mereka yang biasanya bertahan lebih lama di kelab bisa memilih pulang lebih awal atau mencoba kegiatan olahraga bersama.

"Menurut saya karena lingkungan orang-orang terdekat saya yang memengaruhi saya secara tidak langsung, perubahan gaya hidup menjadi sebuah tren,” ujar Wilma.

Media sosial, menurutnya, ikut memperluas ajakan itu. Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan bersama teman dapat menarik perhatian orang lain setelah dibagikan secara daring.

"Apa yang dilakukan anak muda dalam olahraga mereka, terkadang dibagikan di media sosial. Hal itu terkadang mengajak pengikut mereka untuk bergabung dalam olahraga tersebut,” katanya.

Wilma sendiri tidak yakin soft clubbing akan menjadi tren jangka panjang. Di antara teman-temannya, ada yang semakin nyaman mengisi waktu dengan olahraga atau pertemuan sederhana, sementara yang lain tetap menikmati kehidupan malam.

Baginya, yang semakin jelas justru batas yang ingin ia jaga.

"Karena saya menyadari prioritas saya selanjutnya setelah malam itu. Jadi, daripada mengganggu aktivitas harian saya, lebih baik jika saya menghindarinya atau melakukannya lebih cepat,” kata Wilma.

Editor: Melisa Lolindu 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait