1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiSomalia

Perompak Somalia Incar Kapal yang Hindari Timur Tengah

13 Mei 2026

Saat kapal-kapal mengalihkan jalur mengitari Afrika demi menghindari konflik di Timur Tengah, pembajakan di lepas pantai Somalia kembali merebak. Biaya asuransi dan keamanan naik, waktu pelayaran makin panjang.

Dua polisi maritim Somalia dari Pasukan Polisi Maritim Puntland dia atas sebuah kapal berwarna putih dengan tulisn "PMPF" dan angka 12. Foto dari 26 November 2023.
Tiga kapal telah dibajak di tengah kebangkitan kembali aksi pembajakan di dekat Somalia dalam beberapa minggu terakhir.Foto: Jackson Njehia/AP/picture alliance

Dua bulan terakhir ini telah menjadi mimpi buruk bagi pelayaran dunia, dengan Selat Hormuz nyaris tertutup bagi lalu lintas komersial, sementara ancaman serangan-serangan baru terhadap kapal-kapal di Laut Merah terus membayangi.

Kini, sebuah krisis ketiga mulai mendidih: Kebangkitan kembali pembajakan di lepas pantai Somalia.

Sebelum eskalasi terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meledak, sekitar separuh kapal yang menuju Eropa dari Asia dan Teluk telah menghindari Laut Merah dan Terusan Suez akibat serangan-serangan sebelumnya yang dilancarkan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Dihadapkan pada ancaman serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden, perusahaan-perusahaan pelayaran besar memilih jalan memutar panjang mengitari Afrika bagian selatan.

Pengalihan jalur ini menambahkan dua hingga tiga pekan serta ribuan mil laut perjalanan laut, membawa kapal-kapal melintasi pesisir Somalia — perairan yang dahulu menjadi panggung pembajakan para perompak Somalia yang mencapai puncaknya pada tahun 2011. Sejak saat itu, insiden-insiden sporadis terus dilaporkan.

Akankah Houthi Menutup Selat Bab el-Mandeb?

02:31

This browser does not support the video element.

Pembajakan kembali hadir sebagai ancaman yang mengusik

Hamparan laut itu kini menyaksikan pembajakan yang kembali terjadi dengan ganas: Tiga kapal dibajak di lepas Somalia dan Yaman dalam tiga pekan terakhir saja.

Hingga tanggal 8 Mei 2026, kapal tanker minyak Honour 25 dan Eureka serta kapal kargo Sward masih berada di bawah kendali para perompak.

Para ahli meyakini bahwa kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi di Somalia tengah memanfaatkan perang Iran untuk melancarkan pembajakan, sementara patroli-patroli angkatan laut internasional yang pertama kali dikerahkan pada tahun 2008 untuk melawan para perompak kini terkuras oleh peristiwa-peristiwa di sekitar Hormuz dan Laut Merah.

Peneliti senior untuk ancaman transnasional dan kejahatan terorganisasi di Institute for Security Studies, Tim Walker mengatakan bahwa para perompak kini melihat semakin sedikit daya tangkal di sepanjang garis pantai Somalia yang membentang sejauh 3.300 kilometer — garis pantai terpanjang di seluruh daratan Afrika.

“Sebagian kelompok, yang diorganisasi oleh ... para gembong pembajakan, kini berupaya merebut kapal-kapal dan menahan mereka demi uang tebusan, bersama para awak di dalamnya — kadang-kadang menuntut tebusan yang sangat tinggi demi pemulangan mereka dengan selamat,” ujar Walker kepada Deutsche Welle.

Operasi Atalanta milik Uni Eropa, misi angkatan laut yang ditugaskan melindungi pelayaran di lepas Somalia, memang mempertahankan kehadiran tetapnya di Samudra Hindia bagian barat, beroperasi bersama Gugus Tugas Gabungan Multinasional 151. Namun misi itu bukan pasukan pengawal kapal, melainkan bertanggung jawab mematroli wilayah-wilayah yang amat luas.

Para perompak yang didanai dengan baik menggunakan dhow

Menurut Lloyd's List Intelligence, setidaknya terdapat dua kelompok perompak aktif yang terutama berbasis di Puntland, wilayah semiotonom di timur laut Somalia. Mereka tampak memiliki sumber daya yang melimpah.

Para perompak telah merebut kapal-kapal tradisional besar yang dikenal sebagai dhow — digunakan untuk menangkap ikan dan perdagangan lokal — lalu mengalihfungsikannya menjadi kapal induk. Kapal-kapal ini memungkinkan para perompak memperluas jangkauan mereka dan bertahan di laut selama berminggu-minggu sebelum menggunakannya sebagai landasan peluncuran untuk menyerang kapal-kapal komersial.

Troels Burchall Henningsen, profesor asisten di Institute for Strategy and War Studies, mengatakan kepada Deutsche Welle: “Sebagian pembajakan terbaru melibatkan dhow besar, yang memerlukan perangkat navigasi, senjata, dan perlengkapan untuk naik ke atas kapal. Ini adalah operasi besar yang membutuhkan investasi.”

“Ada jauh lebih banyak kapal di kawasan itu dan sebagian tidak menerapkan langkah-langkah keamanan terbaik,” papar Walker, seraya menggambarkan bagaimana sebuah kapal tanker yang berlayar menuju Mogadishu dibajak dekat pesisir Somalia, tempat kapal itu berada dalam kondisi paling rentan.

Pembajakan dapat semakin menaikkan biaya pelayaran

Di saat konflik-konflik Timur Tengah telah lebih dahulu mendorong naik premi asuransi pelayaran, menambahkan sekitar satu juta dolar biaya bahan bakar untuk setiap pelayaran, serta membuat tarif angkutan melambung tinggi, para pemimpin industri pelayaran memperingatkan bahwa kebangkitan besar pembajakan dapat mendorong biaya jauh lebih tinggi lagi dan semakin mengacaukan perdagangan global.

Pada puncak krisis pembajakan sebelumnya tahun 2011, kerusakan ekonomi akibat pembajakan diperkirakan mencapai sekitar tujuh miliar dolar Amerika per tahun, menurut Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga pemikir asal Jepang.

Kerugian itu mencakup biaya operasi militer, pengalihan jalur, pelayaran dengan kecepatan lebih tinggi — yang menghabiskan lebih banyak bahan bakar — perlengkapan keamanan tambahan, serta penjaga bersenjata di atas kapal.

Hanya sebagian sangat kecil dari keseluruhan biaya tersebut, hampir 160 juta dolar Amerika, yang dibayarkan sebagai uang tebusan, demikian perhitungan lembaga pemikir itu.

Dana pembangunan untuk Somalia dipangkas

Sementara perang Iran menciptakan pengalihan perhatian yang menguntungkan bagi para perompak, perubahan kebijakan Washington terhadap Afrika Timur tampaknya juga memainkan peran dalam kebangkitan kembali pembajakan.

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat mendanai proyek-proyek pembangunan di Somalia — khususnya di komunitas-komunitas pesisir — demi mengurangi kemiskinan dan mencegah para pemuda bergabung dengan kelompok-kelompok perompak.

Namun di bawah pemerintahan Trump saat ini, hampir seluruh bantuan pembangunan nonkeamanan telah ditangguhkan. Washington justru memusatkan perhatian pada operasi kontra-terorisme langsung melawan kelompok militan islamis al-Shabab.

“Ketika sumber daya itu dikurangi, jaringan intelijen dan patroli maritim tidak lagi memiliki kemampuan yang sama untuk beroperasi,” ratap Burchall Henningsen.

Sementara itu, organisasi-organisasi maritim telah menyarankan perusahaan-perusahaan pelayaran untuk menghindari perairan teritorial Somalia, termasuk pelabuhan-pelabuhannya. Penempatan penjaga bersenjata di atas kapal juga disebut sangat efektif melawan serangan para perompak.

“Belum pernah ada pembajakan kapal [di lepas Somalia] yang berhasil terhadap kapal yang dikawal penjaga bersenjata di atasnya,” pungkas Burchall Henningsen.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha

 

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya