Perang Iran: South Pars Diserang, Risiko Energi Global Naik
20 Maret 2026
Rabu (18/03), Israel melancarkan serangan ke ladang gas South Pars atau Pars Selatan di Iran. Serangan tersebut menyasar unit kilang darat dan tangki penyimpanan gas di Asaluyeh, serta fasilitas lepas pantai yang terhubung dengan ladang gas tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta pusat energi utama Qatar, Ras Laffan Industrial City yang merupakan fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
Fasilitas seluas hampir 300 kilometer persegi tersebut mengalami kerusakan besar. Ras Laffan Industrial City dikelola oleh perusahaan negara Qatar Energy dan perusahaan swasta yakni Exxon Mobil, TotalEnergies, serta Shell.
Ini merupakan pertama kalinya fasilitas produksi bahan bakar fosil menjadi sasaran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Hingga titik ini, Amerika Serikat (AS) dan Israel berupaya menghindari serangan terhadap fasilitas produksi Iran guna mencegah aksi balasan serupa.
AS "tidak tahu apa-apa" soal serangan
Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa dia “tidak mengetahui apa pun tentang serangan ini," tetapi menegaskan bahwa Israel tidak akan kembali menyerang ladang gas tersebut tanpa adanya provokasi.
Pada saat yang sama, dia memperingatkan Iran bahwa AS akan "menghancurkan seluruh ladang gas South Pars dengan kekuatan dan daya yang belum pernah disaksikan sebelumnya," jika Teheran kembali menyerang Qatar.
Kedua serangan tersebut menandai eskalasi serius dalam perang kawasan dan semakin mengguncang pasar energi global. Pasalnya, ladang gas South Pars merupakan penopang penting pasokan energi dunia dan potensi eskalasi lanjutan masih terbuka lebar.
Harga gas alam dan terutama minyak melonjak tajam pascaserangan.
Ketergantungan Iran terhadap South Pars
Ladang gas South Pars di Iran hanyalah sebagian dari ladang gas di Iran yang terbagi oleh garis maritim di Teluk Persia. Di sisi lain terdapat ladang gas North Dome milik Qatar yang juga dikenal sebagai Qatar North Field.
Gabungan kedua ladang gas tersebut membentuk cadangan energi gas alam terbesar di dunia. Mencakup sekitar sepertiga dari total cadangan gas alam.
Bagi Iran, serangan terhadap produksi di South Pars berdampak ke persoalan domestik. Sanksi dari negara-negara Barat membatasi ekspor, sehingga sebagian besar gas yang diproduksi digunakan di dalam negeri. Sisanya diekspor ke Irak dan Turki.
Ladang gas South Pars menyumbang sekitar 70% produksi gas Iran dan menjadi pilar penting perekonomian negara tersebut, terutama jika digabungkan dengan sektor minyak.
Setiap gangguan berpotensi menurunkan produksi, memperburuk krisis energi domestik, serta memicu penjatahan dan pemadaman listrik yang lebih luas. Ini bisa terjadi meskipun Iran memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia setelah Rusia, serta cadangan minyak terbesar ketiga.
Qatar: Kekhawatiran pasar energi global
Bagi Qatar, serangan terhadap South Pars dan fasilitas produksinya adalah persoalan global. Pasalnya, negara tersebut mengekspor sebagian besar gasnya ke pasar dunia dan merupakan pemasok utama bagi Asia.
Kompleks Ras Laffan Industrial City menyumbang sekitar 20% perdagangan LNG global. Secara keseluruhan, Qatar adalah pengekspor LNG terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Australia.
Penghentian operasi di fasilitas Ras Laffan juga akan mengganggu produksi helium. Helium adalah produk sampingan dari LNG yang penting bagi industri semikonduktor.
Di seluruh Timur Tengah, produksi minyak dan gas menurun. Salah satu penyebab utamanya adalah blokade di Selat Hormuz yang menghentikan pengiriman minyak dan gas dari Teluk Persia ke pasar global.
Namun kini, ketika fasilitas minyak dan gas menjadi sasaran langsung, gangguan berpotensi menjadi jauh lebih lama karena perlunya waktu perbaikan. Bahkan jika perang berakhir dan jalur pelayaran kembali dibuka.
Ketegangan pasar minyak
Perbaikan fasilitas bukan perkara sederhana. Prosesnya rumit, mahal, dan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Artinya, pasokan minyak dan gas ke pasar global yang butuh energi akan semakin berkurang.
Meski Qatar relatif mampu menanggung biaya perbaikan, Iran telah lama tertekan oleh sanksi dan kemungkinan menghadapi keterbatasan dana.
Serangan terhadap ladang gas ini dinilai signifikan "karena menandai serangan pertama terhadap fasilitas hulu mereka sejak perang saat ini dimulai," tulis Jim Reid, pengamat dari Deutsche Bank.
Harga minyak dan gas melonjak setelah serangan tersebut dan "pasar minyak tetap berada dalam ketegangan di Asia pagi ini di tengah kekhawatiran bahwa infrastruktur energi bisa mengalami kerusakan signifikan," lanjut Jim.
Pandangan ini juga diamini analis lain.
"Kerusakan pada fasilitas LNG berarti persoalan di pasar gas global bukan hanya soal kapan arus pengiriman melalui Selat Hormuz kembali normal, tetapi juga berapa lama perbaikan akan berlangsung," tulis Warren Patterson, kepala analis komoditas ING dan Ewa Manthey, analis komoditas dari ING.
Kejadian ini terus memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya harga energi.
"Langkah menyerang aset energi Iran terasa janggal, mengingat dalam beberapa pekan terakhir pemerintah Amerika Serikat justru berupaya meredakan tekanan kenaikan harga minyak," kata Warren dan Ewa.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Joan Aurelia
Editor: Muhammad Hanafi