Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Taklukkan Argentina 1-0
20 Juli 2026
Timnas Spanyol akhirnya memecah kebuntuan setelah menunggu lebih dari 100 menit di laga final. Kick off sempat molor karena rangkaian seremoni, termasuk pidato aktor Hollywood, Tom Cruise. Waktu jeda babak pertama pun berlangsung lebih lama dari biasanya.
Namun, penantian itu terbayar. Pada menit ke-106, Ferran Torres mencetak gol yang memastikan kemenangan 1-0 atas Argentina sekaligus mengantar Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah.
"Saya sangat terharu. Ketika melihat kembali perjalanan ini, dan memikirkan semua yang telah kami capai, generasi pemain ini telah memenangkan segalanya, benar-benar segalanya," kata pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.
"Pertandingan seharusnya sudah bisa diputuskan jauh lebih awal, tetapi ini adalah final Piala Dunia, dan Anda harus berjuang hingga batas kemampuan, bahkan saat menghadapi lawan yang hanya bermain dengan sepuluh orang. Kami siap menghadapi apa pun," tambahnya.
Usai peluit panjang berbunyi, Kapten Timnas Spanyol Rodrigo Hernández Cascante (Rodri) yang juga dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen memimpin rekan-rekannya naik ke podium untuk menerima trofi juara.
Namun, momen selebrasi itu sempat diwarnai insiden kecil. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang hadir bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, mendapat sorakan cemooh dari sebagian penonton saat memasuki lapangan. Trump juga terlihat tetap berdiri di atas panggung ketika trofi diserahkan kepada Spanyol.
Rodri beberapa kali tampak memberi isyarat agar Trump bergeser dari tengah panggung. Tak lama kemudian, Infantino menghampiri Trump dan mengajaknya berdiri di sisi panggung sehingga para pemain Spanyol bisa melanjutkan perayaan juara mereka.
Messi kesulitan, Spanyol kuasai pertandingan
Sejak awal pertandingan, Spanyol tampil jauh lebih dominan dibanding Argentina. Seperti saat menyingkirkan Prancis di semifinal, tim asuhan Luis de la Fuente langsung menguasai penguasaan bola dan terus menekan pertahanan lawan.
Bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, nyaris membawa timnya unggul saat laga baru berjalan lima menit. Tak lama berselang, di sisi lain lapangan, Lionel Messi gagal memanfaatkan umpan terobosan setelah lebih cepat diamankan kiper Spanyol, Unai Simón.
Momen itu menjadi salah satu peluang terbaik Messi sepanjang pertandingan. Penyerang berusia 39 tahun tersebut kesulitan memberi pengaruh besar bagi Argentina. Final ini juga berpotensi menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia.
"Harus diakui, mereka memang lebih baik," kata Messi seusai pertandingan.
"Kami kalah dan kami menerima hasil itu, tapi bukan berarti kami melupakan semua yang sudah kami capai selama turnamen ini. Saya ingin berterima kasih kepada seluruh pendukung, para pemain, dan negara," lanjutnya.
Memasuki pertengahan babak pertama, Spanyol terus mendominasi jalannya laga. Meski begitu, Argentina masih mampu bertahan dengan disiplin. Peluang terbaik sebelum turun minum datang dari Mikel Oyarzabal, tetapi tendangannya berhasil dimentahkan kiper Emiliano "Emi" Martínez.
Halftime show bikin pemain harus menunggu lebih lama
Final Piala Dunia 2026 juga mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, FIFA menggelar pertunjukan jeda babak pertama bergaya Super Bowl yang menampilkan sejumlah musisi dunia, di antaranya Madonna, Justin Bieber, dan BTS. Akibatnya, waktu turun minum yang biasanya berlangsung 15 menit diperpanjang hingga hampir dua kali lipat.
Meski begitu, panjangnya jeda tidak mengubah jalannya pertandingan. Spanyol tetap mendominasi penguasaan bola dan terus membangun serangan, sementara Argentina memilih bertahan rapat, bermain agresif, dan mengandalkan penyelamatan Emi untuk menjaga gawangnya tetap aman.
Situasi Argentina makin sulit pada masa injury time babak kedua setelah gelandang Enzo Fernández diganjar kartu merah. Bermain dengan 10 orang, juara bertahan itu dipaksa melanjutkan pertandingan hingga babak tambahan waktu. Final pun kembali ditentukan lewat perpanjangan waktu, sesuatu yang kini terjadi dalam lima dari enam final Piala Dunia terakhir.
Meski mulai kehabisan tenaga, Argentina masih mampu bertahan dari gempuran Spanyol. Di sisi lain, La Roja beberapa kali menyia-nyiakan peluang emas sebelum akhirnya memecahkan kebuntuan di babak tambahan waktu.
Ketenangan jadi kunci keberhasilan Spanyol
Mungkinkah Argentina, yang bahkan tidak mampu melepaskan satu tembakan pun sepanjang pertandingan, justru mencuri kemenangan?
Sebaliknya, Spanyol justru membuktikan mereka bukan tim yang mudah panik. Dalam perjalanan menuju final, mereka beberapa kali mencetak gol penentu di menit-menit akhir pada fase gugur.
Final ini bahkan sedikit mengingatkan pada laga pembuka Spanyol di turnamen, saat mereka ditahan imbang 0-0 oleh Cape Verde. Setelah hasil itu, Spanyol sempat luput dari perhatian dan dianggap kurang tajam untuk menjadi kandidat juara.
Namun, seiring berjalannya turnamen, tim asuhan Luis de la Fuente justru menunjukkan permainan yang matang. Mereka mampu mengendalikan pertandingan dengan baik sekaligus terus mempertajam lini serang hingga akhirnya membawa pulang gelar Piala Dunia pertama sejak 2010.
Keberhasilan ini juga melengkapi dominasi sepak bola Spanyol. Timnas perempuan Spanyol saat ini juga berstatus sebagai juara dunia setelah menjuarai Piala Dunia 2023.
"Pada akhirnya, gol ini bukan hanya milik saya atau 26 pemain di tim. Gol ini milik 47 juta orang," kata Ferran Torres, pencetak gol kemenangan Spanyol.
"Saya percaya hari ini takdir sudah tertulis. Kami memang jauh dari para pendukung kami, tetapi kami berusaha membuat mereka merasa sedekat mungkin dengan kami," ujarnya.
Piala Dunia dibayangi perang Iran dan kontroversi Balogun
Laga final di New Jersey menutup turnamen yang menghadirkan banyak cerita dari sisi olahraga. Ada kejutan Cape Verde yang melaju jauh, persaingan Lionel Messi dan Kylian Mbappé dalam perebutan gelar pencetak gol terbanyak, hingga kejutan besar seperti tersingkirnya Jerman oleh Paraguay, dan keberhasilan Norwegia mengalahkan Brasil.
Namun, sepanjang turnamen, isu politik juga sulit diabaikan.
Larangan masuk ke Amerika Serikat terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan, menambah sorotan bahwa Piala Dunia kali ini belum sepenuhnya menjadi ajang yang bisa diikuti semua negara di dunia. Sementara itu, perlakuan terhadap Timnas Iran, yang harus melakukan perjalanan bolak-balik untuk menjalani pertandingan dan memiliki waktu persiapan lebih singkat, kembali mengingatkan publik pada ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Keterlibatan Presiden Trump dalam upaya mencabut hukuman larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, juga memperkuat pertanyaan lama mengenai independensi dan tata kelola FIFA.
Meski begitu, pada akhirnya turnamen tetap ditentukan oleh apa yang terjadi di lapangan. Pada Minggu (19/07) malam di New Jersey, sejarah kembali berpihak kepada Spanyol yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Hani Anggraini