1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikSpanyol

Perang Iran Bikin Trump dan Spanyol Saling Sengit

Jan-Philipp Scholz | Nicole Ris
6 Maret 2026

Presiden AS Donald Trump mengecam Spanyol setelah menolak membantu serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Mungkinkah AS memutus hubungan dagang dengan Spanyol seperti ancaman Trump?

 Madrid 2025
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran melanggar hukum internasional.Foto: Juan Carlos Rojas/picture alliance

Ketika Donald Trump menerima Kanselir Jerman Friedrich Merz di Gedung Putih pada Selasa (03/03) malam, presiden Amerika Serikat itu melontarkan kritik keras terhadap Spanyol. Ia mengatakan kepada para wartawan di ruangan bahwa "Spanyol sudah  bertingkah sangat buruk,” dan bahwa "kami akan memutus semua perdagangan” dengan negara anggota Uni Eropa tersebut.

Alasannya adalah karena Spanyol sejak awal menentang serangan terhadap Iran dan menolak mengizinkan pangkalan militernya digunakan AS untuk menyerang negeri Mu.

Sementara Merz menyebut serangan udara AS dan Israel terhadap Iran sebagai sebuah "dilema” hukum, Perdana Menteri Sosialis Spanyol Pedro Sánchez mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran besar terhadap hukum internasional. Pemerintahnya kemudian melarang AS menggunakan dua pangkalan militer yang dioperasikan bersama di Andalusia, Spanyol selatan, untuk melancarkan perang terhadap Iran.

Tak lama setelah pernyataan keras Trump, Sánchez mempublikasikan pesan video yang menegaskan kembali sikap anti-perangnya, dengan mengatakan kepada publik bahwa "kami mengatakan tidak pada pelanggaran hukum internasional, yang melindungi kita semua, terutama warga sipil.”

Ia menambahkan bahwa siapa pun yang bertindak seperti AS sedang "bermain roulette Rusia dengan nasib jutaan orang”.

Spanyol tidak mengizinkan pesawat perang Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya.Foto: A. Perez Meca/Europa Press/ABACA/picture alliance

Perdana Menteri Spanyol mendapat dukungan publik

Kata-kata keras sang perdana menteri tampaknya mendapat sambutan dari banyak warga negaranya."Saya rasa pemerintah kami hanya konsisten dengan kebijakan luar negerinya — kta tidak seharusnya hanya tunduk pada AS,” tandas Gladys Gbegnedji, seorang manajer proyek dari Madrid, kepada DW.

Francisco Huesa, seorang guru dari Sevilla, juga mendukung pemerintahnya. Ia mengatakan kepada DW bahwa ia tidak khawatir akan konsekuensi negatif dari perselisihan ini. "Bagaimana mungkin negara-negara Eropa yang menyebut diri mereka demokratis justru mendukung serangan yang melanggar hukum internasional?” tanya Huesa dalam wawancaranya dengan DW. Ia juga menyatakan kekecewaan besar terhadap peran Jerman dalam konflik saat ini.

Huesa dan banyak warga Spanyol lain yang menyaksikan kemarahan Trump tidak bisa tidak menyadari bahwa tamunya, Kanselir Merz, tidak membela Spanyol sama sekali. Sebaliknya, Merz meyakinkan Trump bahwa Spanyol akan diyakinkan untuk memberikan lebih banyak dana kepada NATO di masa depan. Baru setelah pertemuan itu Merz mengatakan kepada wartawan bahwa Uni Eropa akan bereaksi terhadap setiap tindakan hukuman AS terhadap Spanyol.

Hal ini mendorong Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares untuk mengkritik pemimpin Jerman tersebut dengan mengatakan: "Selama kami berada di pemerintahan, kami telah melihat tiga kanselir Jerman:Angela Merkel, Olaf Scholz, dan sekarang Merz — dan di bawah Merkel serta Scholz, ada semangat yang jelas pro-Eropa.”

Kanselir Jerman Friedrich Merz (kiri) tidak membela Spanyol ketika ia bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.Foto: Mark Schiefelbein/AP Photo/picture alliance

Apakah perang ini akan memecah Eropa?

Sementara ilmuwan politik Spanyol Rafael Calduch Cervera khawatir bahwa perang Iran memperdalam perpecahan di dalam Uni Eropa, ia juga mengkritik Perdana Menteri Sánchez. Menurut Cervera, Sánchez berada di bawah tekanan domestik dari mitra koalisi sayap kirinya, sehingga ia menggunakan retorika kebijakan luar negeri yang sangat keras. Cervera menilai retorika ini sebenarnya ditujukan kepada publik Spanyol di dalam negeri, tetapi juga membuat Spanyol berada dalam posisi yang canggung di panggung global.

Meski demikian, Cervera tidak memperkirakan hubungan ekonomi antara Spanyol dan AS akan terputus, meskipun ada ancaman dari Trump. "Kebijakan perdagangan adalah tanggung jawab Uni Eropa dan bukan urusan pemerintah nasional,” pungkas Cervera kepada DW.

Karena itu, setiap tindakan hukuman kemungkinan akan memicu langkah balasan dari Eropa, yang tentu saja diketahui oleh AS. Itulah sebabnya Cervera menganggap ancaman Trump terhadap Spanyol sebagai sebuah "peringatan serius,” tetapi ia tidak memperkirakan hubungan kedua pihak akan memburuk lebih jauh.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha

 

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya