1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Aksi Penusukan di Israel Berlanjut

15 Oktober 2015

Israel kewalahan hadapi modus baru serangan penusukan dengan pisau yang dilancarkan remaja Palestina. Memasuki minggu ketiga aksi penusukan, Israel menambah tentara dan pos pemeriksaan di perbatasan ke Palestina.

Israel Jerusalem Angriff Damaskus-Tor
Foto: picture alliance/ZUMA Press/M. Abu Turk

Aksi serangan penusukan dengan pisau oleh remaja Palestina terhadap warga Israel dilaporkan nyaris terjadi setiap hari. Walau dilancarkan tindakan keras, dengan menambah jumlah tentara dan pos pemeriksaan di perbatasan ke kawasan pemukiman Palestina di Yerusalem Timur, aksi kekerasan terus memuncak. Presiden Otonomi Palestina, Mahmud Abbas dalam pidato televisi menyerukan agar rakyat Palestina menggelar aksi damai melawan agresi Israel di kawasan Palestina.

Abbas dalam waktu bersamaan juga mengecam Israel sebagai pemicu aksi kekerasan terbaru itu. Dalam waktu bersamaan presiden otonomi Palestina itu meminta agar masyarakat internasional berperan aktif menjadi penengah. "Jika tidak konflik baru ini bisa membakar seluruh timur tengah dan bahkan menyebar ke seluruh dunia" ujar Abbas seperti dikutip kantor berita Jerman DPA.

Pasukan keamanan Israel dikerahkan menjaga pintu perbatasan ke pemukiman Palestina di Yerusalem TimurFoto: picture alliance/AP Photo/S. Scheiner

Pemerintah Israel terlihat kewalahan menghadapi modus baru serangan penusukan dengan pisau yang dilancarkan remaja Palestina yang sudah memasuki minggu ketiga itu. Sidang Kabinet dari PM Benjamin Netanyahu Rabu malam (14/10) memutuskan sejumlah tindakan penjeraan serta hukuman bagi pelaku serangan pisau. Antara lain, rumah pelaku bisa dihancurkan dan dilarang dibangun kembali. Atau bahkan dicabut izin tinggalnya. Berbagai tindakan pemerintah Israel itu dinilai warga Palestina sebagai hukuman kolektif.

Neraca dari aksi kekerasan selama hampir tiga minggu itu, tujuh warga Israel tewas akibat aksi penusukan dan puluhan cedera. Di pihak Palestina sedikitnya 30 orang tewas ditembak aparat keamanan. Spiral kekerasan yang kini memuncak lagi, dicemaskan akan memicu pecahnya intifada ketiga di kawasan itu. Kini juga muncul perang siber lewat jajaring sosial media, yang terutama dilancarkan remaja Palestina. Dalam pesan twitter ini, diunggah video propaganda cara membunuh dengan pisau.

Aksi nekat semacam itu sudah lama diperingatkan oleh pakar keamanan internasional, mengingat politik dan tekanan yang dilancarkan Israel di kawasan pendudukan yang dihuni warga Palestina. Dalam wawancara dengan DW, utusan perdamaian Palestina Saeb Erekat juga sudah mengingatkan, akan meledaknya aksi nekat dari remaja Palestina yang putus asa karena tidak lagi punya masadepan.

Amerika Serikat siap mengirimkan menlu John Kerry sebagai reaksi menanggapi eskalasi kekerasan terbaru di kawasan pendudukan Israel itu. Washington menyebut, tugas Kerry adalah menenangkan situasi. Tapi tidak dijelaskan secara rinci, tindakan apa yang akan dilakukan menlu AS itu di timur tengah untuk mendinginkan situasai panas, yang sebagian juga dipicu oleh kebijakan politik Washington.

as/vlz(dpa,afp,rtr,twitter)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait