Timnas Jerman bersiap menuju final Piala Dunia 2014 melawan Argentina dan pemain bintang Lionel Messi. Veteran Miroslav Klose belum mau bahas pensiun, sementara bek Benedikt Höwedes menepis kritik.
Foto: picture-alliance/dpa
Iklan
Pelatih Jerman Joachim Löw dan anak-anak asuhnya sudah beranjak dari euforia kemenangan dan memusatkan perhatian bagi laga hari Minggu (13/7) di stadion Maracana, Rio de Janeiro, terutama untuk mengatasi empat kali pemain terbaik dunia, Lionel Messi. Asisten Löw, Hansi Flick, membeberkan bahwa cara untuk 'melumpuhkan' Messi tengah digodok.
"Tentu kami mengamati dengan seksama ketika Belanda berhasil menahan Messi," ujar Flick. "Kami juga sudah beberapa kali melawan Argentina dan jelas kami punya rencana, yang tidak akan saya ungkapkan."
Bahkan saat Belanda berhasil membuat Messi 'pincang,' dibutuhkan lebih dari satu pemain untuk mengawalnyaFoto: Reuters
Strategi Belanda secara singkat melibatkan seorang pemain, umumnya Nigel de Jong, untuk mengekor Messi setiap saat, dan langsung berusaha menyabet bola begitu kaki pemain bernomor punggung 10 itu menyentuh bola. Meski masih berkontribusi, dampak Messi sepanjang laga hanya minimal.
Argentina membukukan posisi pada final melawan Jerman usai menang adu penalti melawan Belanda hari Rabu (9/7). Bek kiri Benedikt Höwedes mengatakan bahwa "lawan hebat" sudah menunggu di final.
"Sekarang kami ingin membawa pulang gelar juara. Kalau kami sampai gagal, tinggal segelintir orang saja yang akan membicarakan laga semifinal kemarin," tambah Höwedes, merujuk kepada penghancuran tuan rumah Brasil dengan skor akhir 7-1 hari Selasa (8/7).
Höwedes juga menjawab kritik - termasuk dari mantan pelatih klub Felix Magath yang menyebut lini pertahanan kiri Jerman sebagai lemah.
"Dikritik oleh pakar, atau bekas pelatih, tidak membuat saya gentar," ungkap sang kapten Schalke.
Klose belum beri kepastian
Ketika ditanya apakah karier internasionalnya akan berlanjut, Miroslav Klose berkelakar: "Saya sendiri belum tahu. Sayangnya saya masih mampu bermain. Saya sering menekankan bahwa saya ingin terus bermain lebih lama lagi. Berapa lama tepatnya akan menjadi keputusan yang saya ambil secara spontan."
Dugaan Klose akan pensiun telah mencuat dalam beberapa tahun terakhir, tapi kali ini mungkin saja terjadiFoto: picture-alliance/dpa
Gol Klose saat melawan Brasil, gol kedua dari tujuh gol Jerman, menaruh striker Lazio ini ke dalam buku sejarah. Gol itu menjadi yang keenambelas bagi Klose selama kiprahnya membela Jerman dalam Piala Dunia, lebih banyak dari pemain manapun sepanjang sejarah.
Klose menjadi satu-satunya pemain veteran Jerman dalam timnas kali ini yang sempat mengecap kekalahan 2-0 atas Brasil pada final Piala Dunia 2002.
"Ini akan menjadi laga yang benar-benar berbeda," ucap Klose. "Kami harus memberikan yang terbaik. Saya tahu betul rasanya kalah pada laga final."
Flick mengakui bahwa sejumlah faktor menguntungkan Jerman menjelang laga final, termasuk isu sederhana seperti waktu istirahat. Jerman mengalahkan Brasil sehari sebelum kemenangan Argentina pada semifinal; dan kalau Argentina membutuhkan 120 menit serta penalti melawan Belanda, kemenangan atas Brasil telah digenggam timnas Jerman hanya dalam waktu setengah jam.
cp/vlz (dpa, rtr, afp)
Kemenangan Jerman atas Brasil pada semifinal tidak hanya manis, tapi juga membuai. Namun Argentina akan memberi tantangan yang lebih besar di Maracana: berikut enam alasan kedua tim berpotensi juara.
Foto: imago/Ferdi Hartung
Profesionalisme Tiada Henti
Melawan Argentina yang padu, akan sulit bagi Jerman untuk mencetak gol pada awal pertandingan seperti saat menghadapi Perancis dan Brasil. Namun setelah berkali-kali menjadi 'pengiring pengantin,' timnas Jerman kali ini terus membuktikan diri sebagai mesin yang efisien. Kini mereka datang untuk menuntaskan tugas.
Foto: picture-alliance/ATP
Tidak Kehilangan Messi
Tak seperti Neymar, Lionel Messi akan terus membawa obor harapan di Maracana. Meski hanya berbekal satu gol Piala Dunia ketika berangkat ke Brasil, Messi akhirnya berhasil membawa pasukan biru putih melampaui perempatfinal. Sebagai kapten Argentina, Messi berkesempatan membalas kekalahan 4-0 di tangan Jerman ketika diasuh Diego Maradona pada Piala Dunia 2010.
Foto: Reuters
Formasi Lama yang Baru
Joachim Löw dihujani kritik ketika mengubah posisi kapten Philipp Lahm saat menghadapi Aljazair. Kembali ke formasi yang lebih lazim ketika melawan Perancis mengantar Jerman menuju stabilitas lini pertahanan. Perempatfinal dan semifinal menunjukkan bahwa Löw mampu belajar dari kegagalan. Kini ia memasuki laga terbesar dalam hidupnya dengan kedewasaan taktis yang baru ditemukan.
Foto: picture-alliance/dpa
Pertahanan Baja
Pelatih Belanda Louis van Gaal mengakui bahwa timnya gagal mendapatkan peluang berarti pada semifinal. "Ini membuktikan sesuatu tentang timnas Argentina,” ujar van Gaal. Dalam 120 menit, Sergio Romero hanya perlu menyelamatkan satu tendangan. Sebaliknya, Ghana, Aljazair, dan Amerika Serikat berhasil menunjukkan bahwa serangan Jerman dapat dibendung dengan upaya kolektif di lini belakang.
Foto: Reuters
Performa Terbaik
Tak ada timnas tanpa cela pada Piala Dunia kali ini. Argentina masuk final tanpa memproduksi serangan brilian yang dijanjikan skuat mereka. Kelemahan lini pertahanan Jerman terekspos Ghana pada babak grup. Kekurangan striker selain Miroslav Klose juga terungkap ketika melawan Aljazair. Argentina akan menjadi lawan sulit, namun performa timnas Jerman saat ini tengah berada dalam kondisi terbaik.
Foto: picture alliance/augenklick/GES
Jerman Terbuai?
Kemenangan yang datang lima hari lebih awal: Bisakah Jerman kembali berjaya? Jerman baru bersinar dua kali sepanjang Piala Dunia 2014 – dengan Portugal dan Brasil yang menyerah sebelum paruh waktu. Uniknya, Jerman bisa mengandalkan dukungan fans tuan rumah karena Argentina adalah musuh bebuyutan Brasil. Ironisnya Jerman dapat melengkapi kisah tragis Brasil apabila gagal mengatasi Argentina.