Sebuah studi baru menemukan kesamaan antara sifat adiktif makanan ultraolahan atau ultra processed foods (UPF) dengan produk tembakau. Muncul seruan agar regulasinya disamakan.
Sebuah studi baru telah menemukan kesamaan antara sifat adiktif makanan ultra-olahan (UPF) dan tembakau.Foto: Michele Eve Sandberg/Sipa USA/picture alliance
Iklan
Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari tiga universitas di Amerika Serikat (AS) menyebutkan adanya kemiripan antara karakter adiktif ultra processed foods (UPF) atau makanan ultraolahan dan rokok. Mereka merekomendasikan tingkat pengaturan yang setara.
Menurut studi yang dipublikasikan pekan ini dalam jurnal kesehatan Milbank Quarterly, makanan ultraolahan "mengadopsi strategi rekayasa utama dari industri tembakau" yang dirancang untuk mendorong "konsumsi kompulsif."
Penelitian tersebut menemukan bahwa UPF umum seperti minuman ringan, keripik, dan biskuit diproduksi secara industri dengan tujuan mengoptimalkan "dosis" bahan adiktif dan mendorong konsumsi berlebihan.
"UPF bukan sekadar nutrisi, melainkan produk yang secara sengaja dirancang, direkayasa secara intensif, dimanipulasi, dan dioptimalkan secara hedonistik," tulis laporan tersebut.
Mitos Makanan dan Minuman
Persepsi kita terhadap makanan dan minuman terus berubah. Suatu saat bisa dinilai buruk, dan di saat lain dinilai memperpanjang umur. Tetapi bisa juga sebaliknya.
Foto: picture-alliance/dpa/T. Hase
Anggur Yang Kompleks
Alkohol tidak baik bagi kesehatan. Tetapi anggur merah mengandung molekul-molekul yang dianggap baik, misalnya resveratrol dan antosianin. Jadi sebaiknya diminum atau tidak? Studi epidemiologi jangka panjang menunjukkan, minum satu gelas anggur merah per hari baik, tetapi lebih dari itu bisa berbahanya.
Foto: Beboy/Fotolia
Senang Makan Biskuit Mengandung Kayu Manis?
Kayu manis bisa merugikan. Kumarin yang dikandung kayu manis bisa menyebabkan gangguan hati dan ginjal. Tapi jika Anda lihat makanan lainnya, kayu manis hanya salah satu dari banyak bahan yang bisa merugikan tubuh.
Foto: picture-alliance/dpa
Racun atau Obat?
"Kopi sebabkan kanker," atau "kopi berbahaya bagi saraf" adalah beberapa hal yang dulu biasa dikatakan orang tentang kopi. Tetapi sekarang banyak peneliti berpendapat, kopi lebih baik dari reputasinya, bahkan bisa mengurangi risiko kanker. Tapi biar bagaimanapun, tidak perlu minum sampai berlebihan.
Foto: picture-alliance/dpa/T. Hase
Mentega vs. Margarin
Beberapa tahun lalu, kita dianjurkan untuk menghindari mentega, dan hanya makan margarin. Margarin mengandung lebih sedikit lemak daripada mentega yang berasal dari susu. Tetapi banyak orang sekarang memperingatkan, margarin adalah produk tidak alamiah dan penuh kimia, yang diproduksi industri makanan.
Foto: picture-alliance/dpa
Musuh Alamiah
Dulu jika orang meninggal karena penyakit jantung dan stroke, yang disalahkan kolesterol. Karena kolesterol sumbat pembuluh darah dokter katakan itu harus dihindari sebaik mungkin. Yang termasuk makanan berbahaya adalah telur, keju dan daging. Tetapi tubuh perlu kolesterol dan bahkan memproduksinya sendiri. Sekarang biomolekul lemak tidak terlalu dianggap berbahaya, tetapi tetap jangan berlebihan.
Foto: picture-alliance/dpa
Makanan Beku
Banyak orang menghindari sayur yang dibekukan, karena beranggapan sayur yang dibekukan mengandung vitamin lebih sedikit daripada sayur segar. Tetapi sayuran beku mengandung lebih banyak gizi, karena dibekukan segera setelah dipanen, dan tidak tergeletak di rak supermarket berhari-hari sebelum dibeli konsumen.
Foto: PhotoSG - Fotolia
Ikan dan Kandungannya
Beberapa tahun lalu, dikatakan asam lemak omega 3 bisa mencegah sakit kanker, sakit jantung bahkan depresi. Sehingga pakar menganjurkan orang meminum tablet omega 3 setiap hari. Sekarang kita tahu lebih banyak lagi. Asam lemak ini memang penting bagi tubuh. Tetapi jika diminum dalam bentuk tablet tidak menguntungkan.
Foto: Fotolia/joemakev
Vitamin Berlebihan Bisa Merugikan
Vitamin penting bagi metabolisme tubuh. Jadi apa yang lebih sehat daripada menelan pil vitamin setiap hari? Terutama vitamin C dinilai bisa menjaga tubuh dari semua penyakit, termasuk flu biasa. Tetapi penjelasan ilmiahnya tidak ada. Sebenarnya, suplemen bisa merugikan. Setidaknya itu yang diketahui sekarang.
Foto: Fotolia
Apakah Susu Merugikan?
Susu mengandung kalsium, yang baik bagi tulang dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. Itu yang kita ketahui sekarang. Tetapi studi yang dilakukan di Swedia beberapa dekade lalu menunjukkan, orang yang minum banyak susu kemungkinan tidak berumur panjang. Apa sebabnya? Belum ada yang bisa menjawab.
Tidak Semua Yang Organik Baik
Jika dikatakan bahwa sejumlah makanan mengandung zat kimia terlalu banyak, orang biasanya akan memuji makanan organik. Karena diproduksi tanpa pupuk kimia dan zat merugikan lainnya. Tetapi sejumlah studi menunjukkan, makanan organik tidak semuanya mengandung lebih banyak gizi, atau lebih baik daripada makanan non organik. Namun harganya biasanya lebih mahal.
Foto: picture-alliance/dpa
Hidup Seimbang Agar Sehat
Gaya hidup berpengaruh pada tubuh. Statistik menunjukkan, bahwa merokok, minum alkohol dalam jumlah besar dan obesitas tidak sehat. Tapi orang tidak perlu khawatir tentang laporan yang memuji satu makanan dan mengkritik lainnya. Yang penting keseimbangan. Jadi apapun yang dimakan, jangan berlebihan.
Foto: picture alliance/ZB
11 foto1 | 11
Urgensi aturan UPF seperti produk tembakau
Para peneliti dari Universitas Harvard, Universitas Michigan, dan Universitas Duke merekomendasikan penerapan kebijakan regulasi terhadap UPF yang serupa dengan regulasi tembakau.
Iklan
Langkah tersebut mencakup pelabelan yang lebih jelas, pajak yang lebih tinggi, pembatasan ketersediaan di sekolah dan rumah sakit, serta pembatasan pemasaran yang menargetkan anak-anak.
Para penulis studi menekankan bahwa, berbeda dengan tembakau, makanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Hal ini justru membuat urgensi pengaturan UPF semakin tinggi karena "sulit untuk sepenuhnya keluar dari sistem pangan modern."
Temuan ini muncul dua bulan setelah studi UNICEF yang dipublikasikan di The Lancet pada Desember 2025 mengungkap tingkat konsumsi UPF di kalangan anak-anak di 11 negara.
Studi tersebut menemukan bahwa 10-35% anak usia lima tahun ke bawah secara rutin mengonsumsi minuman manis, sementara 60% remaja mengaku mengonsumsi setidaknya satu produk UPF sehari sebelumnya.
UPF di Afrika jadi "alarm kesehatan publik"
Di negara maju, lebih dari 50% asupan kalori penduduk berasal dari UPF yang berpotensi berbahaya. Namun, negara berkembang yang lebih miskin juga semakin berisiko.
Menanggapi studi Milbank Quarterly, Direktur Eksekutif LSM kesehatan Amref Health Africa yang berbasis di Kenya, Githinji Gitahi, memperingatkan adanya "alarm kesehatan publik yang terus membesar" di Afrika.
"Perusahaan telah menemukan titik temu yang nyaman dan menguntungkan, yakni lemahnya regulasi pemerintah terhadap produk berbahaya dan perubahan pola konsumsi," ujarnya kepada The Guardian. "Hal ini menambah tekanan baru yang sebenarnya bisa dicegah pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan."
Namun, sejumlah pihak mengingatkan agar tidak menarik terlalu banyak persamaan antara UPF dan tembakau dan menilai studi terbaru ini berpotensi "terlalu jauh" dalam kesimpulannya.
Kepada The Guardian, Profesor Martin Warren, Kepala Ilmuwan di Quadram Institute, pusat riset pangan di Inggris, mempertanyakan apakah UPF "secara intrinsik bersifat adiktif dalam arti farmakologis, atau lebih mengeksploitasi preferensi yang dipelajari, pengondisian rasa, dan faktor kenyamanan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris