1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

Studi: Makanan Ultraolahan Bersifat Adiktif Mirip Rokok

Matt Ford sumber: dpa
4 Februari 2026

Sebuah studi baru menemukan kesamaan antara sifat adiktif makanan ultraolahan atau ultra processed foods (UPF) dengan produk tembakau. Muncul seruan agar regulasinya disamakan.

Makanan ultraolahan di supermarket
Sebuah studi baru telah menemukan kesamaan antara sifat adiktif makanan ultra-olahan (UPF) dan tembakau.Foto: Michele Eve Sandberg/Sipa USA/picture alliance

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari tiga universitas di Amerika Serikat (AS) menyebutkan adanya kemiripan antara karakter adiktif ultra processed foods (UPF) atau makanan ultraolahan dan rokok. Mereka merekomendasikan tingkat pengaturan yang setara.

Menurut studi yang dipublikasikan pekan ini dalam jurnal kesehatan Milbank Quarterly, makanan ultraolahan "mengadopsi strategi rekayasa utama dari industri tembakau" yang dirancang untuk mendorong "konsumsi kompulsif."

Penelitian tersebut menemukan bahwa UPF umum seperti minuman ringan, keripik, dan biskuit diproduksi secara industri dengan tujuan mengoptimalkan "dosis" bahan adiktif dan mendorong konsumsi berlebihan.

"UPF bukan sekadar nutrisi, melainkan produk yang secara sengaja dirancang, direkayasa secara intensif, dimanipulasi, dan dioptimalkan secara hedonistik," tulis laporan tersebut.

Urgensi aturan UPF seperti produk tembakau

Para peneliti dari Universitas Harvard, Universitas Michigan, dan Universitas Duke merekomendasikan penerapan kebijakan regulasi terhadap UPF yang serupa dengan regulasi tembakau.

Langkah tersebut mencakup pelabelan yang lebih jelas, pajak yang lebih tinggi, pembatasan ketersediaan di sekolah dan rumah sakit, serta pembatasan pemasaran yang menargetkan anak-anak.

Para penulis studi menekankan bahwa, berbeda dengan tembakau, makanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Hal ini justru membuat urgensi pengaturan UPF semakin tinggi karena "sulit untuk sepenuhnya keluar dari sistem pangan modern."

Temuan ini muncul dua bulan setelah studi UNICEF yang dipublikasikan di The Lancet pada Desember 2025 mengungkap tingkat konsumsi UPF di kalangan anak-anak di 11 negara.

Studi tersebut menemukan bahwa 10-35% anak usia lima tahun ke bawah secara rutin mengonsumsi minuman manis, sementara 60% remaja mengaku mengonsumsi setidaknya satu produk UPF sehari sebelumnya.

UPF di Afrika jadi "alarm kesehatan publik"

Di negara maju, lebih dari 50% asupan kalori penduduk berasal dari UPF yang berpotensi berbahaya. Namun, negara berkembang yang lebih miskin juga semakin berisiko.

Menanggapi studi Milbank Quarterly, Direktur Eksekutif LSM kesehatan Amref Health Africa yang berbasis di Kenya, Githinji Gitahi, memperingatkan adanya "alarm kesehatan publik yang terus membesar" di Afrika.

"Perusahaan telah menemukan titik temu yang nyaman dan menguntungkan, yakni lemahnya regulasi pemerintah terhadap produk berbahaya dan perubahan pola konsumsi," ujarnya kepada The Guardian. "Hal ini menambah tekanan baru yang sebenarnya bisa dicegah pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan."

Namun, sejumlah pihak mengingatkan agar tidak menarik terlalu banyak persamaan antara UPF dan tembakau dan menilai studi terbaru ini berpotensi "terlalu jauh" dalam kesimpulannya.

Kepada The Guardian, Profesor Martin Warren, Kepala Ilmuwan di Quadram Institute, pusat riset pangan di Inggris, mempertanyakan apakah UPF "secara intrinsik bersifat adiktif dalam arti farmakologis, atau lebih mengeksploitasi preferensi yang dipelajari, pengondisian rasa, dan faktor kenyamanan."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Prihardani Purba

Matt Ford Reporter dan editor DW Sports, spesial meliput sepak bola Eropa, budaya fans, dan politik olahraga.@matt_4d
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait