Hasil riset terbaru dari Inggris mengungkap fakta, pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak hingga 6 bulan terlepas dari status infeksinya.
Ilustrasi: Kawasan keramaian umum yang berisiko tinggi penularan Covid-19Foto: Christoph Hardt/Geisler-Fotopress/picture alliance
Iklan
Hasil penelitian ini menambah panjang daftar efek jangka panjang pandemi terhadap kesehatan global dan perkembangan otak.
Studi tersebut menunjukkan, pandemi mempercepat penuaan otak rata-rata hingga 5,5 bulan, terlepas dari apakah orang terinfeksi virus corona atau tidak. Perubahan ini paling terlihat pada orang tua, pria, dan mereka yang berasal dari latar belakang sosioekonomi yang rentan.
Usia otak berkaitan dengan fungsi kognitif, dan dapat berbeda dari usia orang sebenarnya.
Usia otak seseorang dapat diperlambat atau dipercepat oleh penyakit seperti diabetes, HIV, dan penyakit Alzheimer. Penuaan otak yang lebih cepat dapat memengaruhi memori, fungsi sensorik, dan fungsi emosional. Para penulis studi mengatakan bahwa penuaan otak yang mereka amati kemungkinan masih dapat kembali 'diremajakan'.
"Pandemi memicu stres pada kehidupan orang, terutama mereka yang menghadapi banyak kesulitan. Kami belum menguji apakah penuaan yang kami lihat dapat kembali 'diremajakan', tetapi hal tersebut tentu mungkin dilakukan, dan itulah kabar baiknya,” ujar penulis utama studi tersebut, Dorothee Auer, seorang ahli saraf di Universitas Nottingham, Inggris.
Frank Slack, direktur HMS Initiative for RNA Medicine dan Cancer Research Institute di Harvard Medical School di AS, mengatakan, "penelitian ini merupakan karya yang luar biasa, menunjukkan pada populasi besar bahwa COVID-19 memiliki dampak serius pada kesehatan otak, terutama pada pria dan orang tua.” Slack tidak terlibat dalam penelitian ini.
Studi Accelerated brain ageing during the COVID-19 pandemic ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Communications.
Lima Tahun Sejak Pandemi, COVID-19 Masih Jadi Momok
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih 7 juta orang meninggal akibat COVID-19. Lima tahun setelah pecahnya pandemi, pemimpin dunia dan masyarakat masih harus menghadapi dampaknya.
Foto: LUIS TATO/AFP/Getty Images
Situasi darurat global
Desember 2019, penyakit paru-paru baru didiagnosis di Wuhan, Cina dan menimbulkan kematian. Dalam beberapa minggu, virus corona baru memicu tantangan global: Tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Otoritas kesehatan dengan cepat mengembangkan tes usap untuk mendiagnosis penyakit ini, dalam foto sedang dilakukan oleh tenaga medis di Beijing
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Petugas medis bekerja hingga lewat batas
Dengan cepat menjadi jelas bahwa COVID-19 sering kali berakibat fatal, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang sebelumnya memiliki catatan kondisi medis. Tenaga medis seperti perawat ini di Brussels ini bekerja hingga kelelahan. Fakta bahwa virus ini terus bermutasi selama pandemi, menambah tantangan dunia medis.
Foto: ARIS OIKONOMOU/AFP/Getty Images
Sistem kesehatan nyaris ambruk
Jumlah pasien yang sangat banyak membuat banyak rumah sakit mencapai batasnya. Di rumah sakit di kota Chongqing, Cina, Desember 2022 tempat tidur dijejali di lobi rumah sakit. Di India, sistem kesehatan nyaris ambruk, dengan orang-orang yang putus asa menunggu di luar fasilitas kesehatan yang penuh sesak. Saat itu India mencatatkan 2.000 kematian per hari akibat COVID-19.
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Italia kewalahan
Di Eropa, Italia terdampak sangat berat. Akhir Maret 2020, truk militer mulai mengangkut korban meninggal COVID-19 di Bergamo ke krematorium di sekitar area, karena fasilitas di kota tersebut sudah kelebihan beban. Lombardy pernah mencatatkan 300 kasus kematian hanya dalam satu hari.
Foto: MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images
Masker: Repot tapi perlu
Kala itu, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa masker wajah, yang sangat penting untuk membantu membatasi penyebaran virus. Di awal pandemi, masker dijahit dari kain, tetapi masker N95 segera menjadi standar. Di banyak tempat, memakai masker di tempat umum menjadi kewajiban selama dua tahun lebih. Peneliti menegaskan, masker yang dipakai dengan baik, membantu mengurangi sebaran infeksi
Foto: MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images
Sepinya jalanan bagai dikota hantu
Jalanan New York sepi sejak tahap awal pandemi. Hampir semua negara menerapkan pembatasan kontak dan lockdown (penguncian) panjang untuk melindungi orang dari virus. Tempat penitipan anak dan sekolah sebagian besar tetap tutup, begitu juga kafe, restoran, pub, kolam renang, dan salon rambut. Di mana-mana orang berusaha bekerja dari rumah.
Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images
"Bye, bye" kehidupan sosial
Pandemi memaksa banyak bisnis terhenti. Perdagangan dan perekonomian runtuh, dan kehidupan sosial terputus di mana-mana, sehingga menyebabkan krisis keuangan global. Bahkan setelah pembatasan dilonggarkan, langkah-langkah perlindungan tetap diberlakukan, misalnya pemakaian layar pembatas plastik di toko dan restoran, seperti yang terlihat di ibu kota Thailand, Bangkok
Foto: MLADEN ANTONOV/AFP/Getty Images
Atur jarak, jangan derkat-dekat, ah!
Di Mission Dolores Park, San Francisco, lingkaran di rumput menunjukkan seberapa dekat orang diperbolehkan duduk, jarak tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan risiko infeksi. Meskipun infeksi menurun selama bulan-bulan musim panas, langkah-langkahhigiene, dengan jaga jarak sering kali tetap ketat. Di beberapa negara, orang bahkan tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka.
Foto: JOSH EDELSON/AFP/Getty Images
Antre vaksinasi
Agustus 2021, para warga India akhirnya bisa divaksinasi dengan vaksin Covishield. Di Uni Eropa, vaksin COVID-19 pertama dari BioNTech/Pfizer tersedia akhir 2020. Lalu, vaksin dari Moderna dan AstraZeneca disetujui melalui prosedur percepatan. Orang lanjut usia dan sakit, dan tenaga kesehatan, menjadi yang pertama divaksin. Banyak negara miskin harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan vaksin.
Foto: DIPTENDU DUTTA/AFP/Getty Images
Dilarang biar aman, malah protes
Langkah-langkah ketat untuk memperlambat sebaran COVID-19 mendapat penolakan dari beberapa kalangan di seluruh dunia, seperti yang terlihat di Paris pada September 2021. Di banyak negara, termasuk Jerman, ekstremis sayap kanan menyusup ke dalam protes tersebut. Teori konspirasi jadi bagian tak terpisahkan dari oposisi menentang kebjiakan resmi dan vaksin. Virus corona diklaim 'senjata biologis.'
Foto: BENOIT TESSIER/REUTERS
Balik lagi ke sekolah
Di Jerman, anak-anak kembali ke sekolah setelah liburan musim panas 2020, setelah berbulan-bulan belajar di rumah akibat lockdown (penguncian). Homeschooling menjadi ujian berat bagi orang tua dan siswa, dan menurut studi, bahkan lima tahun setelah pandemi dimulai, banyak anak dan remaja masih menderita kesepian dan masalah kesehatan mental.
Foto: INA FASSBENDER/AFP/Getty Images
Kompetisi tanpa sorak sorai
Pada Juli 2021, para pesepeda ini menunjukkan keterampilan mereka di Olimpiade Tokyo, namun hampir tidak ada yang bisa mendukung mereka. Setelah pecahnya pandemi, acara olahraga yang awalnya direncanakan pada 2020 ditunda setahun — namun virus corona masih menguasai dunia setahun kemudian. Akibatnya, Olimpiade Musim Panas digelar di depan tribun yang sebagian besar kosong.
Foto: LIONEL BONAVENTURE/AFP/Getty Images
Berakhir dengan kewaspadaan
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengakhiri keadaan darurat kesehatan internasional 5 Mei 2023, namun menyatakan virus corona tetap berbahaya. Menurut WHO, sekitar 7 juta orang dipastikan meninggal akibat COVID-19, namun perkiraan lain menyebutkan jumlah totalnya mencapai 20 juta. Di London, simbol hati merah digunakan untuk memperingati orang-orang yang meninggal akibat COVID-19.
Foto: JUSTIN TALLIS/AFP/Getty Images
13 foto1 | 13
Apa pengaruh pandemi terhadap fungsi otak manusia?
Penelitian ini menggunakan pemindaian otak dan tes kognitif, untuk menyelidiki dampak negatif COVID-19 terhadap penuaan fisik dan kognitif otak.
Para peneliti menganalisis hasil pemindaian otak dari orang dewasa sehat, yang diambil sebelum dan setelah pandemi, sebagai bagian dari riset UK Biobank.
"[Ini] adalah momen langka, mengamati bagaimana peristiwa besar dalam hidup dapat memengaruhi otak,” kata Stamatios Sotiropoulos, seorang ahli saraf di Universitas Nottingham dan penulis utama studi ini.
Mula-mula para peneliti menggunakan data pemindaian otak dari 15.334 orang sehat, untuk melatih algoritma pembelajaran mesin memperkirakan usia otak dengan akurat.
Model tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi usia otak dari 996 orang dewasa yang terbagi dalam dua kelompok.
Kelompok utama (kelompok pandemi) dengan peserta yang memiliki data pemindaian sebelum dan setelah pandemi, serta kelompok lainnya, kelompok pembanding (kontrol), hanya memiliki data pemindaian otak sebelum pandemi terjadi.
Iklan
Otak menua juga pada mereka yang tidak terinfeksi COVID-19
Penelitian ini mengungkapkan, otak partisipan dari kelompok pandemi menua rata-rata 5,5 bulan lebih cepat dibandingkan otak kelompok pembanding, bahkan ketika dicocokkan dengan berbagai penanda kesehatan.
Jacobus Jansen, seorang ahli saraf di Maastricht UMC, Belanda, mengatakan hasil yang mengejutkannya adalah "penuaan tidak bergantung apakah responden terinfeksi COVID-19 atau tidak." Hal ini menunjukkan, faktor lingkungan dan psikologis selama pandemi(stres, isolasi, perubahan rutinitas) bisa menyebabkan perubahan struktur otak, bukan virus itu sendiri.
Pertanyaan lainnya yang ingin dijawab oleh para peneliti adalah, bagaimana pandemi ini memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan kognitif masyarakat. Faktor genetik tertentu, menurut penelitan lainnya, dapat membuat beberapa klompok orang lebih rentan mengalami penuaan otak akibat COVID-19.
"[Pada tahun 2022], kami mendeskripsikan penuaan dini otak penderita COVID yang parah. Sayangnya, semua pasien yang kami periksa telah meninggal dunia akibat COVID, sehingga tidak memungkinkan untuk menindaklanjuti dan menganalisis arsitektur otak secara mendetail dari waktu ke waktu," kata Slack.
Manfaat bilingual untuk otak
01:14
This browser does not support the video element.
Dapatkah meremajakan kembali otak?
Studi neurosains menunjukkan, ada beberapa cara untuk memperlambat penuaan otak dan mengurangi risiko penurunan kognitif.
Olahraga, misalnya, adalah faktor yang mencegah penuaan otak, itulah sebabnya "akan sangat menarik untuk menilai pola olahraga selama pandemi, di samping stres psikologis, dalam model mereka,” kata Maria Mavrikaki, seorang ahli saraf di Harvard Medical School, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Penelitian lain menunjukkan, penuaan otak dapat diperlambat dengan perubahan gaya hidup seperti makan makanan yang sehat, tetap aktif secara fisik dan mental, mengelola stres, dan tidur yang cukup.
Saat gaya hidup sehat dan olah raga menjadi bagian dari rutinitas, fungsi otak kita akan tetap optimal di masa depan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris