1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Studi: Populasi Jerman Menyusut Lebih Cepat

4 Maret 2026

Prediksi statistik terbaru menunjukkan penurunan tajam angka populasi di Jerman. Alasannya adalah angka kelahiran yang menyusut tajam. Repotnya, derasnya arus migrasi tidak menghentikan penyusutan demografi.

Dua lansia berjalan dengan alat bantu di taman panti jompo
Di Jerman, satu dari empat orang sudah berusia di atas 65 tahunFoto: Fabian Sommer/dpa/picture alliance

Angka 1,35 seharusnya membunyikan 'alarm' bagi para pembuat kebijakan di Jerman. Rata-rata, setiap perempuan di Jerman kini cuma melahirkan 1,35 anak. Tingkat kelahiran ini mencapai rekor terendah. Dibutuhkan angka 2,1 agar populasi tetap stabil berdasar perhitungan terbaru Badan Statistik Federal Jerman.

Pada 2025, sekitar 650.000 anak lahir di Jerman, turun dari angka 677.000 pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2024-2025 tercatat sekitar satu juta orang meninggal dunia. Pada 31 Desember 2025, populasi Jerman diperkirakan mencapai sekitar 83,5 juta, 100.000 lebih sedikit dibandingkan akhir 2024.

Memiliki keluarga tetap penting bagi masyarakat, tegas C. Katharina Spiess, Direktur Institut Federal untuk Riset Populasi, saat mempresentasikan statistik demografis di Berlin. "Penduduk masih ingin memiliki anak," jelasnya, "dan pertanyaannya, mengapa mereka tidak memiliki anak?"

Jika mereka yang berusia 19 hingga 29 tahun mengungkap ingin memiliki anak dalam survei dan hal tersebut benar-benar terpenuhi maka tingkat kelahiran Jerman akan naik menjadi 2,4, ujar Spiess.

"Rasa aman sangat penting untuk mewujudkan keinginan memiliki anak. Rangkaian krisis yang terus berlangsung telah mencegah banyak orang mewujudkan keinginan tersebut," tambah direktur lembaga riset tersebut.

Anak-anak dalam risiko kemiskinan?

Selain ketidakpastian akibat instabilitas global, keluarga muda menghadapi tantangan nyata dari kurangnya perumahan yang tersedia di pasar, harga sewa rumah yang kian mahal, dan tempat penitipan anak yang kurang dapat diandalkan.

Karenanya banyak orang tua yang mengurangi jam kerja mereka dan kerap mengahapi ketakutan akan kesulitan finansial. Semakin banyak orang di Jerman yang mengatakan bahwa mereka tidak mampu lagi membiayai kehidupan dengan anak.

Badan Statistik Federal rutin memproyeksikan bagaimana populasi Jerman akan berkembang dalam beberapa dekade. Para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis mengandalkan data ini karena demografi penduduk memiliki konsekuensi besar bagi masa depan negara. Prediksi yang dikeluarkan badan statistik mencakup hingga 2070.

Perbedaan dari proyeksi sebelumnya adalah temuan penyusutan populasi hingga sekitar 10%. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa imigrasi tidak dapat menutupi penurunan tersebut.

Para 'baby boomers' memasuki masa pensiun

Populasi yang lebih kecil seharusnya tidak menjadi masalah. Tantangan sebenarnya ada pada populasi Jerman yang menua. Jumlah anak-anak dan kaum muda menurun, sementara jumlah lansia diperkirakan akan meningkat drastis, jelas Karsten Lummer, kepala Departemen Populasi di Badan Statistik Federal.

Saat ini, generasi yang disebut baby boomers yang lahir pada tahun 1960-an mulai memasuki masa pensiun.

"Saat ini, terdapat 33 orang usia pensiun untuk setiap 100 orang usia kerja," ungkap Lummer. Pada 2035, kira-kira satu dari empat orang di Jerman akan melewati usia pensiun standar 67 tahun.

Pada tahun 2050, jumlah penduduk yang berusia lebih dari 80 tahun akan melebihi angka saat ini (enam juta) menjadi sekitar sembilan juta.

 

Sistem sosial mencapai ambang batas

Angka-angka ini mengkhawatirkan para ekonom dan ilmuwan sosial. "Penurunan tajam dan penuaan populasi harusnya sudah diperhitungkan dalam keputusan politik jangka panjang, misalnya di bidang kesehatan dan perawatan lansia," tegas Joachim Ragnitz, seorang ekonom di Institut ifo di Dresden. Ia memperingatkan bahwa sistem pensiun akan menghadapi tekanan berat karena tren kekurangan pekerja yang semakin besar.

Karsten Lummer dari Badan Statistik Federal menegaskan, "Jerman memiliki tingkat kelahiran rendah, tapi sistem sosial masih berperilaku seolah-olah kita memiliki tingkat kelahiran tinggi." Pertanyaan bagaimana sistem yang ideal terlihat di masa depan seharusnya sudah dijawab sejak lama, namun "Kita melewatkan kesempatan itu," jelas Lummer.

Saat ini, sekitar 40% orang berusia lebih dari 80 tahun membutuhkan beberapa bentuk perawatan. Seiring meningkatnya jumlah lansia, permintaan pekerja di sektor perawatan pun turut meningkat. Saat ini, sekitar 280.000 orang bekerja di layanan perawatan lansia rawat jalan. Menurut perhitungan Lummer, pada 2049 sistem ini akan membutuhkan hingga 690.000 pekerja.

Pekerja migran di pasar tenaga kerja Jerman

Dalam beberapa tahun terakhir, rendahnya tingkat kelahiran dan emigrasi dari Jerman telah diimbangi oleh imigrasi. Sejak 1990, populasi nasional terus meningkat, dengan total sebelas juta orang pindah ke Jerman. Jumlahnya terutama tinggi pada 2015 dan 2016, dan kembali meningkat setelah 2022, dipicu oleh perang di Suriah dan Ukraina. Meski begitu, imigran sulit diserap pasar tenaga kerja dengan cepat.

Martin Werding, salah satu ahli ekonomi Jerman menyarankan pemerintah federal, melihat minimnya imigran di pasar tenaga kerja Jerman sebagai kegagalan kebijakan. "Pendekatan Jerman sangat berfokus pada pembelajaran bahasa dan pendidikan, sering menghabiskan terlalu banyak waktu memverifikasi kualifikasi mereka daripada mengakuinya," jelas profesor ekonomi itu.

Sepuluh tahun setelah gelombang migrasi 2015–2016, dua pertiga pengungsi kini bekerja, menurut studi dari Institut Riset Ketenagakerjaan. Namun di antara pengungsi Ukraina yang sebagian besar perempuan, angka ini baru sekitar 31%.

 

Lebih dari satu juta warga Ukraina kini tinggal di Jerman. Mereka adalah kelompok non-Jerman terbesar kedua setelah warga berdarah Turki. "Mereka membawa perubahan besar dalam struktur populasi Jerman," menurut pengamat populasi, C. Katharina Spiess. Ia menekankan bahwa masyarakat kini harus menghadapi pertanyaan penting: "Apakah kita bisa mengandalkan mereka, apakah mereka berniat tinggal di Jerman?"

Dua kali setahun, institut Spiess melakukan survei. "Niat warga Ukraina untuk tinggal di Jerman meningkat signifikan, 42% mengatakan mereka ingin tetap di Jerman,” jelasnya. Namun, pada saat yang sama, ketidakpastian dalam kelompok ini juga meningkat. "Semakin banyak orang yang hari ini mengatakan mereka tidak tahu. Dan di antara anak-anak dan kaum muda, banyak yang mengatakan mereka tidak bisa membayangkan tinggal di sini selamanya."

Badan Statistik Federal tidak dapat membuat prediksi yang tepat sasaran tentang masa depan Jerman. Karena itu, proyeksi populasi dijalankan melalui skenario dengan berbagai angka yang didasarkan pada tiga komponen demografis: tingkat kelahiran, harapan hidup, dan migrasi bersih.

Benang merah dari seluruh skenario tersebut tetap sama: masalah demografi Jerman dapat dibantu dengan pekerja migran, tapi tidak dapat diselesaikan sepenuhnya dengan hal tersebut. Tenaga kerja yang dibutuhkan Jerman (yang juga akan berkontribusi pada anggaran kesehatan dan pensiun) tidak dapat diselesaikan hanya lewat pekerja migran.

Menjaga orang tua tetap sehat dan bugar selama mungkin menurut Karsten Lummer dari Badan Statistik Federal adalah hal paling minim yang bisa dilakukan.

"Kita bisa berharap pada kemajuan teknologi medis," tambahnya sembari menyarankan: orang harus lebih banyak berolahraga, serta secara signifikan mengurangi konsumsi alkohol dan merokok.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait