Prediksi statistik terbaru menunjukkan penurunan tajam angka populasi di Jerman. Alasannya adalah angka kelahiran yang menyusut tajam. Repotnya, derasnya arus migrasi tidak menghentikan penyusutan demografi.
Di Jerman, satu dari empat orang sudah berusia di atas 65 tahunFoto: Fabian Sommer/dpa/picture alliance
Iklan
Angka 1,35 seharusnya membunyikan 'alarm' bagi para pembuat kebijakan di Jerman. Rata-rata, setiap perempuan di Jerman kini cuma melahirkan 1,35 anak. Tingkat kelahiran ini mencapai rekor terendah. Dibutuhkan angka 2,1 agar populasi tetap stabil berdasar perhitungan terbaru Badan Statistik Federal Jerman.
Pada 2025, sekitar 650.000 anak lahir di Jerman, turun dari angka 677.000 pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2024-2025 tercatat sekitar satu juta orang meninggal dunia. Pada 31 Desember 2025, populasi Jerman diperkirakan mencapai sekitar 83,5 juta, 100.000 lebih sedikit dibandingkan akhir 2024.
Memiliki keluarga tetap penting bagi masyarakat, tegas C. Katharina Spiess, Direktur Institut Federal untuk Riset Populasi, saat mempresentasikan statistik demografis di Berlin. "Penduduk masih ingin memiliki anak," jelasnya, "dan pertanyaannya, mengapa mereka tidak memiliki anak?"
Jika mereka yang berusia 19 hingga 29 tahun mengungkap ingin memiliki anak dalam survei dan hal tersebut benar-benar terpenuhi maka tingkat kelahiran Jerman akan naik menjadi 2,4, ujar Spiess.
"Rasa aman sangat penting untuk mewujudkan keinginan memiliki anak. Rangkaian krisis yang terus berlangsung telah mencegah banyak orang mewujudkan keinginan tersebut," tambah direktur lembaga riset tersebut.
Anak-anak dalam risiko kemiskinan?
Selain ketidakpastian akibat instabilitas global, keluarga muda menghadapi tantangan nyata dari kurangnya perumahan yang tersedia di pasar, harga sewa rumah yang kian mahal, dan tempat penitipan anak yang kurang dapat diandalkan.
Karenanya banyak orang tua yang mengurangi jam kerja mereka dan kerap mengahapi ketakutan akan kesulitan finansial. Semakin banyak orang di Jerman yang mengatakan bahwa mereka tidak mampu lagi membiayai kehidupan dengan anak.
Badan Statistik Federal rutin memproyeksikan bagaimana populasi Jerman akan berkembang dalam beberapa dekade. Para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis mengandalkan data ini karena demografi penduduk memiliki konsekuensi besar bagi masa depan negara. Prediksi yang dikeluarkan badan statistik mencakup hingga 2070.
Perbedaan dari proyeksi sebelumnya adalah temuan penyusutan populasi hingga sekitar 10%. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa imigrasi tidak dapat menutupi penurunan tersebut.
Kami Berasal dari Sini: Kehidupan Keturunan Turki-Jerman dalam Gambar
Untuk merayakan ulang tahun ke-60 kesepakatan penerimaan pekerja migran asal Turki di Jerman, museum Ruhr memamerkan foto-foto karya fotografer asal Istanbul, Ergun Cagatay.
Fotografer Ergun Cagatay dari Istanbul, pada 1990 mengambil ribuan foto warga keturunan Turki yang berdomisili di Hamburg, Köln, Werl, Berlin dan Duisburg. Ini akan dipajang dalam pameran khusus “Kami berasal dari sini: Kehidupan keturunan Turki-Jerman tahun 1990” di museum Ruhr. Pada potret dirinya dia memakai pakaian pekerja tambang di Tambang Walsum, Duisburg.
Dua pekerja tambang bepose usai bertugas di tambang Walsum, Duisburg. Dipicu kemajuan ekonomi di tahun 50-an, Jerman menghadapi kekurangan pekerja terlatih, terutama di bidang pertanian dan pertambangan. Menindak lanjuti kesepakatan penerimaan pekerja migran antara Bonn dan Ankara pada 1961, lebih dari 1 juta “pekerja tamu” dari Turki datang ke Jerman hingga penerimaan dihentikan pada 1973.
Ini foto pekerja perempuan di bagian produksi pelapis interior di pabrik mobil Ford di Köln-Niehl. “Pekerja telah dipanggil, dan mereka berdatangan,” komentar penulis Swiss, Max Frisch, kala itu. Sekarang, komunitas Turki, dimana kini sejumlah keluarga imigran memasuki generasi ke-4, membentuk etnis minoritas terbesar di Jerman dengan total populasi sekitar 2.5 juta orang.
Foto menunjukan keragaman dalam keseharian orang Turki-Jerman. Terlihat di sini adalah kedelapan anggota keluarga Hasan Hüseyin Gül di Hamburg. Pameran foto di museum Ruhr ini merupakan liputan paling komprehensif mengenai imigran Turki dari generasi pertama dan kedua “pekerja tamu.”
Saat ini, bahan makanan seperti zaitun dan keju domba dapat ditemukan dengan mudah di Jerman. Sebelumnya, “pekerja tamu” memenuhi mobil mereka dengan bahan pangan itu saat mereka balik mudik. Perlahan-lahan, mereka membangun pondasi kuliner Turki di Jerman, untuk kenikmatan pecinta kuliner. Di sini berpose Mevsim, pemilik toko buah dan sayur di Weidengasse, Köln-Eigelstein.
Anak-anak bermain balon di Sudermanplatz, kawasan Agnes, Köln. Di tembok yang menjadi latar belakang terlihat gambar pohon yang disandingkan dengan puisi dari Nazim Hikmet, penyair Turki: “Hidup! Seperti pohon yang sendiri dan bebas. Seperti hutan persaudaraan. Kerinduan ini adalah milik kita.” Hikmet sendiri hidup dalam pengasingan di Rusia, hingga dia meninggal pada 1963.
Di sekolah baca Al-Quran masjid Fath di Werl, anak-anak belajar huruf-huruf Arab agar dapat membaca Al-Quran. Itu adalah masjid dengan menara pertama yang dibuka di Jerman pada tahun 90-an. Sejak itu warga Turki di Jerman tidak perlu lagi pergi ke halaman belakang untuk shalat atau beribadah.
Cagatay, sang fotografer berbaur dengan para tamu di sebuah pesta pernikahan di Oranienplatz, Berlin-Kreuzberg. Di gedung perhelatan Burcu, para tamu menyematkan uang kepada pengantin baru, biasanya disertai dengan harapan “semoga menua dengan satu bantal.” Pengantin baru menurut tradisi Turki akan berbagi satu bantal panjang di atas ranjang pengantin.
Tradisi juga tetap dijaga di tanah air baru ini. Di pesta khitanan di Berlin Kreuzberg ini, “Masyaallah” tertulis di selempang anak sunat. Itu artinya “terpujilah” atau “yang dikehendaki tuhan.” Pameran antara lain disponsori Kementerian Luar Negeri Jerman. Selain di Essen, Hamburg dan Berlin, pameran juga akan digelar di Izmir, Istanbul, dan Ankara bekerjasama dengan Goethe Institute. (mn/as)
Populasi yang lebih kecil seharusnya tidak menjadi masalah. Tantangan sebenarnya ada pada populasi Jerman yang menua. Jumlah anak-anak dan kaum muda menurun, sementara jumlah lansia diperkirakan akan meningkat drastis, jelas Karsten Lummer, kepala Departemen Populasi di Badan Statistik Federal.
Saat ini, generasi yang disebut baby boomers yang lahir pada tahun 1960-an mulai memasuki masa pensiun.
"Saat ini, terdapat 33 orang usia pensiun untuk setiap 100 orang usia kerja," ungkap Lummer. Pada 2035, kira-kira satu dari empat orang di Jerman akan melewati usia pensiun standar 67 tahun.
Pada tahun 2050, jumlah penduduk yang berusia lebih dari 80 tahun akan melebihi angka saat ini (enam juta) menjadi sekitar sembilan juta.
Sistem sosial mencapai ambang batas
Angka-angka ini mengkhawatirkan para ekonom dan ilmuwan sosial. "Penurunan tajam dan penuaan populasi harusnya sudah diperhitungkan dalam keputusan politik jangka panjang, misalnya di bidang kesehatan dan perawatan lansia," tegas Joachim Ragnitz, seorang ekonom di Institut ifo di Dresden. Ia memperingatkan bahwa sistem pensiun akan menghadapi tekanan berat karena tren kekurangan pekerja yang semakin besar.
Karsten Lummer dari Badan Statistik Federal menegaskan, "Jerman memiliki tingkat kelahiran rendah, tapi sistem sosial masih berperilaku seolah-olah kita memiliki tingkat kelahiran tinggi." Pertanyaan bagaimana sistem yang ideal terlihat di masa depan seharusnya sudah dijawab sejak lama, namun "Kita melewatkan kesempatan itu," jelas Lummer.
Saat ini, sekitar 40% orang berusia lebih dari 80 tahun membutuhkan beberapa bentuk perawatan. Seiring meningkatnya jumlah lansia, permintaan pekerja di sektor perawatan pun turut meningkat. Saat ini, sekitar 280.000 orang bekerja di layanan perawatan lansia rawat jalan. Menurut perhitungan Lummer, pada 2049 sistem ini akan membutuhkan hingga 690.000 pekerja.
Iklan
Pekerja migran di pasar tenaga kerja Jerman
Dalam beberapa tahun terakhir, rendahnya tingkat kelahiran dan emigrasi dari Jerman telah diimbangi oleh imigrasi. Sejak 1990, populasi nasional terus meningkat, dengan total sebelas juta orang pindah ke Jerman. Jumlahnya terutama tinggi pada 2015 dan 2016, dan kembali meningkat setelah 2022, dipicu oleh perang di Suriah dan Ukraina. Meski begitu, imigran sulit diserap pasar tenaga kerja dengan cepat.
Martin Werding, salah satu ahli ekonomi Jerman menyarankan pemerintah federal, melihat minimnya imigran di pasar tenaga kerja Jerman sebagai kegagalan kebijakan. "Pendekatan Jerman sangat berfokus pada pembelajaran bahasa dan pendidikan, sering menghabiskan terlalu banyak waktu memverifikasi kualifikasi mereka daripada mengakuinya," jelas profesor ekonomi itu.
Sepuluh tahun setelah gelombang migrasi 2015–2016, dua pertiga pengungsi kini bekerja, menurut studi dari Institut Riset Ketenagakerjaan. Namun di antara pengungsi Ukraina yang sebagian besar perempuan, angka ini baru sekitar 31%.
Lebih dari satu juta warga Ukraina kini tinggal di Jerman. Mereka adalah kelompok non-Jerman terbesar kedua setelah warga berdarah Turki. "Mereka membawa perubahan besar dalam struktur populasi Jerman," menurut pengamat populasi, C. Katharina Spiess. Ia menekankan bahwa masyarakat kini harus menghadapi pertanyaan penting: "Apakah kita bisa mengandalkan mereka, apakah mereka berniat tinggal di Jerman?"
Dua kali setahun, institut Spiess melakukan survei. "Niat warga Ukraina untuk tinggal di Jerman meningkat signifikan, 42% mengatakan mereka ingin tetap di Jerman,” jelasnya. Namun, pada saat yang sama, ketidakpastian dalam kelompok ini juga meningkat. "Semakin banyak orang yang hari ini mengatakan mereka tidak tahu. Dan di antara anak-anak dan kaum muda, banyak yang mengatakan mereka tidak bisa membayangkan tinggal di sini selamanya."
Badan Statistik Federal tidak dapat membuat prediksi yang tepat sasaran tentang masa depan Jerman. Karena itu, proyeksi populasi dijalankan melalui skenario dengan berbagai angka yang didasarkan pada tiga komponen demografis: tingkat kelahiran, harapan hidup, dan migrasi bersih.
Benang merah dari seluruh skenario tersebut tetap sama: masalah demografi Jerman dapat dibantu dengan pekerja migran, tapi tidak dapat diselesaikan sepenuhnya dengan hal tersebut. Tenaga kerja yang dibutuhkan Jerman (yang juga akan berkontribusi pada anggaran kesehatan dan pensiun) tidak dapat diselesaikan hanya lewat pekerja migran.
Menjaga orang tua tetap sehat dan bugar selama mungkin menurut Karsten Lummer dari Badan Statistik Federal adalah hal paling minim yang bisa dilakukan.
"Kita bisa berharap pada kemajuan teknologi medis," tambahnya sembari menyarankan: orang harus lebih banyak berolahraga, serta secara signifikan mengurangi konsumsi alkohol dan merokok.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizki Nugraha
Gapai Asa di Negeri Orang: Negara dengan Jumlah Pekerja Indonesia Terbanyak
Bekerja di luar negeri jadi pilihan untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi dan pengalaman profesional. Tapi negara mana saja yang punya jumlah pekerja Indonesia terbanyak, baik di sektor formal maupun informal?
Foto: Hotli Simanjuntak/epa/dpa/picture alliance
1. Hongkong
Terhitung per awal 2025, Hongkong tercatat sebagai salah satu negara tujuan utama bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Lebih dari 248 ribu warga Indonesia mengadu nasib di wilayah administratif ini, sebagian besar bekerja di sektor domestik. Daya tarik Hongkong terletak pada standar upah yang kompetitif serta perlindungan hukum yang relatif lebih baik dibanding negara penempatan lainnya.
Foto: leungchopan/YAY Images/IMAGO
2. Taiwan
Taiwan mencatat 5.947 Pekerja Migran Indonesia (PMI) profesional hingga akhir September 2024, menurut data Kementerian Tenaga Kerja. Kebanyakan aktif di profesi “kerah putih” dan tak hanya berasal dari lulusan kampus Taiwan, tetapi juga dari Indonesia melalui rekrutmen langsung.
Foto: ANN WANG/REUTERS
3. Malaysia
Malaysia tetap menjadi salah satu negara tujuan utama PMI, dengan remitansi mencapai Rp74,4 triliun pada 2024, alias hampir sepertiga dari total remitansi yang dikirim ke Indonesia.
Foto: Vincent Thian/picture alliance
4. Jepang
Sejak 2019, Indonesia aktif mengirim pekerja ke Jepang melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil. Hingga akhir Desember 2023, tercatat 34.253 warga Indonesia memegang visa SSW Tipe I. Pemerintah menargetkan penempatan 250.000 PMI berketerampilan khusus dalam lima tahun, atau sekitar 50.000 orang per tahun.
Foto: Kyodo/picture alliance
5. Singapura
Singapura jadi salah satu negara tujuan utama bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), baik di sektor formal maupun informal. Lebih dari 25 ribu PMI asal Indonesia bekerja di negeri jiran. Di sektor informal, mayoritas bekerja sebagai asisten rumah tangga, sementara di sektor formal, pekerja Indonesia menempati posisi strategis di bidang keuangan, teknologi, layanan profesional, hingga perhotelan.
Foto: Sergi Reboredo/VWPics/IMAGO
6. Korea Selatan
Melalui kerja sama antarpemerintah untuk sektor formal seperti manufaktur, perikanan, perkapalan, kebersihan, dan perhotelan, Korea Selatan jadi salah satu negara tujuan utama tenaga kerja Indonesia. Sektor informal seperti pekerja serabutan, buruh pabrik, dan pekerja pertanian tetap menyerap banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja tanpa izin formal atau melalui jalur nonpemerintah.
Foto: AP
7. Arab Saudi
Selain sektor domestik, Arab Saudi kini membuka peluang bagi PMI di sektor formal dan kerah putih. Mulai 2025, pemerintah Indonesia menargetkan penempatan 100.000 PMI di bidang kesehatan, konstruksi, perhotelan, dan layanan profesional seiring kebijakan Arab Saudi yang mendorong diversifikasi ekonomi dan perekrutan tenaga kerja asing terampil.
Foto: Taidgh Barron/ZUMAPRESS/picture alliance
8. Italia
Italia menempati posisi kedelapan sebagai negara tujuan utama PMI, dengan 10.638 pekerja Indonesia ditempatkan hingga Januari 2025. Mayoritas penempatan resmi berfokus pada sektor layanan profesional seperti pariwisata, hospitality, dan administrasi pemerintahan lokal.