1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Benarkah Prabowo Sarankan Warga Bawa Bekal Saat Antre BBM?

23 Oktober 2026

Sebuah video TikTok viral menampilkan suara yang diklaim sebagai Presiden Prabowo Subianto menyarankan warga membawa bekal saat mengantre BBM. Setelah diverifikasi, suara tersebut hasil kecerdasan buatan atau AI.

Foto Presiden Prabowo saat melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Kabinet Merah-Putih di Istana Negara, Jakarta pada 14 September 2026.
Saat isu kelangkaan BBM di Bali jadi sorotan, sebuah konten viral di TikTok memperlihatkan seolah-olah Presiden Prabowo menyarankan warga bawa bekal saat antre BBM.Foto: BPMI Setpres/Kris

Sebuah video di TikTok viral di tengah sorotan terhadap kelangkaan BBM di Bali. Dalam video itu terdengar suara yang diklaim sebagai Presiden Prabowo Subianto menyarankan masyarakat membawa bekal saat mengantre di SPBU.

Konten tersebut telah ditonton tujuh ratus ribu kali lebih dan memicu beragam respons. Sebagian warganet meragukan keasliannya, tetapi tak sedikit pula yang mengira suara itu benar berasal dari Presiden Prabowo.

Klaim: "Antre BBM Bali, Presiden RI: Saya sarankan, antre bawa bekal."

Cek Fakta DW: Suara AI.

Tangkapan layar video TikTok viral yang menampilkan suara Presiden Prabowo Subianto menyarankan warga membawa bekal saat mengantre BBMFoto: tiktok

Bagaimana cara memeriksa suara AI?

Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri klaim tersebut melalui beberapa metode verifikasi.

Langkah pertama dilakukan dengan menggunakan alat pendeteksi audio AI, Deepfake Total. Hasil analisis menunjukkan kemungkinan sebesar 99,8 persen bahwa suara dalam video tersebut merupakan audio hasil rekayasa AI.

Hasil pemeriksaan alat pendeteksi AI sebesar 99,8 persen bahwa suara dalam video tersebut merupakan audio hasil rekayasa AIFoto: Deepfake Total

Namun, hasil dari alat pendeteksi tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar verifikasi. Teknologi semacam ini hanya memberikan estimasi dan masih memiliki keterbatasan sehingga perlu dikombinasikan dengan metode lain.

Karena itu, suara dalam video kemudian dibandingkan dengan rekaman pidato resmi Prabowo yang bisa diakses di kanal resmi pemerintah seperti YouTube Sekretariat Presiden.

Dari perbandingan tersebut ditemukan perbedaan pada sejumlah pola pelafalan. Salah satunya pada kata-kata berakhiran "-kan". Dalam berbagai pidato publik, Prabowo kerap memiliki pelafalan khas yang terdengar seperti "-keun" pada beberapa kata tertentu. Saat mengucapkan kata "disarankan" misalnya, terdengar seperti di-sa-ran-keun. Ini bisa dilihat dari video di akun YouTube Sekretariat Presiden berjudul Pengarahan Presiden Prabowo Kepada Komandan Satuan TNI, Istana Bogor, 7 Februari 2025, tepatnya pada 
timecode 3:02.

Pelafalan khas ini tidak ditemukan pada audio viral di TikTok, terutama pada kata "menyarankan".  Selain itu, suara dalam video viral juga terdengar relatif datar, dengan jeda dan pola napas yang kurang natural dibandingkan rekaman asli.

Semua temuan ini dapat dilihat dalam konten video Cek Fakta DW Indonesia berikut ini.

Tim DW Indonesia juga menelusuri arsip pidato resmi Presiden serta pemberitaan dari media kredibel. Hasilnya, tidak ditemukan transkrip maupun laporan yang menunjukkan bahwa Prabowo pernah menyampaikan pernyataan seperti yang beredar dalam video tersebut.

Verifikasi suara butuh pembanding

Spesialis pemeriksa fakta Mafindo, Aribowo Sasmito, mengatakan perkembangan teknologi audio deepfake kini semakin canggih sehingga makin sulit dibedakan dari suara asli.

Menurutnya, alat pendeteksi AI dapat membantu proses verifikasi, tetapi hasilnya tetap perlu dikonfirmasi dengan metode lain.

"Detektor kadang bisa mendeteksi, kadang tidak. Karena itu perlu dibandingkan dengan kebiasaan cara berbicara, intonasi, dan kata-kata yang biasa digunakan oleh orang yang suaranya dipalsukan," kata Aribowo.

Ia menjelaskan bahwa mengenali kebiasaan berbicara seseorang dapat menjadi petunjuk tambahan, terutama jika tersedia rekaman yang cukup panjang.

"Semakin bagus teknologi deepfake, semakin sulit dibedakan. Karena itu verifikasi perlu menggabungkan berbagai pendekatan, tidak hanya mengandalkan satu alat," ujarnya.

Aribowo juga mengingatkan pentingnya sikap kritis saat menemukan konten yang terdengar janggal atau tidak masuk akal.

"Kalau suatu pernyataan terasa terlalu tidak masuk akal untuk diucapkan seseorang, itu bisa menjadi alasan untuk berhenti sejenak dan memeriksa lebih lanjut sebelum mempercayainya."

Kesimpulannya, klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto menyarankan warga membawa bekal saat mengantre BBM tidak didukung bukti yang ditemukan dalam penelusuran ini. Audio yang beredar menunjukkan sejumlah karakteristik yang mengarah pada hasil rekayasa AI atau audio deepfake.

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait