Citra Amerika Serikat sudah cukup tercoreng. Banyak orang yang jengkel dengan berbagai kontroversi yang terus-menerus terjadi di masa pemerintahan Trump dan tak ragu meluapkannya.
Banyak kebijakan di era Trump yang memicu kontroversi: tindakan Badan Imigrasi ICE terhadap para migran, ambisi Trump menguasai Greenland, dan serangan AS terhadap Iran
Foto: Dirk v. Mallinckrodt/Zoonar/picture alliance
Iklan
Meski komentar-komentar ini tidak mewakili pendapat semua orang, tetapi belakangan berbagai komentar seperti ini kian banyak bemunculan di akun media sosial DW, begitu kami membahas seputar Amerika Serikat:
"Haruskah kita benar-benar peduli dengan apa yang terjadi di AS? (…) Tolong DW, berhentilah terobsesi akan segala hal yang berbau Amerika ini," atau ”Tidak ada salahnya kan membahas 'kejenuhan akan Amerika' yang saat ini dialami orang-orang di Eropa bahkan seluruh dunia."
Amerika Serikat pernah menjadi negara yang penuh dengan harapan
Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa kita akan memiliki rasa jenuh atau lelah akan Amerika Serikat. American Way of Life (Gaya Hidup Amerika) dan American Dream (Mimpi Amerika) adalah istilah-istilah yang selama puluhan tahun menjadi harapan, terutama bagi anak muda di seluruh dunia.
Contohnya Jerman, setelah kekalahan dalam Perang Dunia kedua, orang-orang di Jerman Barat segera menyadari bahwa AS tidak sekadar berbagi permen karet, rokok, dan cokelat, tetapi turut membawa budaya mereka yang sangat menarik: Rock 'n' Roll, Jazz, celana jeans, dan coca-cola. Inilah yang membentuk gaya hidup generasi pascaperang yang turut memandang para tentara AS yang santai sebagai panutan.
Selain itu, ada pula dukungan struktural dari negara-negara pemenang perang. Untuk menstabilkan ekonomi dan demokrasi, Marshall Plan atau Program Pemulihan Eropa digagas untuk membantu 16 negara Eropa Barat dalam proses rekonstruksi pasca-Perang Dunia II.
Jerman yang kalah perang juga menerima bantuan yang signifikan dan menjadi penerima bantuan terbesar keempat setelah Inggris, Prancis, dan Italia. Marshall Plan dianggap sebagai bantuan awal yang penting bagi kebangkitan ekonomi Jerman di tahun 1950-an dan 1960-an serta sekaligus menjadi pemantik demokrasi baru setelah runtuhnya kepemimpinan Nazi.
"AS benar-benar telah melakukan pekerjaan yang inovatif," jelas Frank Mehring, Profesor Kajian Amerika di Universitas Radboud Nijmegen. "Karena mereka menyadari bahwa kebudayaan juga dapat meyakinkan orang lain untuk melakukan hal yang benar. Melalui film, fotografi, dan pameran, mereka dapat memahami bahwa mereka tidak perlu terlalu berfocused pada negara mereka masing-masing, tetapi juga harus menemukan peranan baru mereka di Eropa. Dan itulah awal perspektif baru terhadap AS.”
Pada tahun 1963, pandangan pro-Amerika Serikat di Jerman Barat mencapai puncaknya, juga berkat Presiden AS yang populer dan berpenampilan muda, John F. Kennedy.
Kemudian pecahlah Perang Vietnam dan pada dekade-dekade berikutnya muncul cukup banyak peristiwa yang memicu pandangan yang jauh lebih kritis terhadap politik AS.
Bagaimanapun, AS masih dianggap keren, terutama di kalangan muda, sebagai negara asal tren-tren baru film, bintang-bintang pop, dan olahraga.
Survei: Kondisi demokrasi AS buruk
Belakangan ini ada yang berubah: Citra AS telah merosot tajam.
Dua pertiga penduduk Jerman memandang AS secara negatif (berdasarkan survei Statista tahun 2025). Meski begitu, ini tidak hanya terjadi di Jerman tetapi juga banyak negara di dunia.
Menurut Democracy Perception Index (DPI) yang melakukan studi terhadap opini publik terkait kondisi demokrasi, pada tahun 2025 hanya 45% responden di seluruh dunia yang memiliki kesan positif terhadap AS. Reputasinya ini lebih buruk daripada Cina. Pada 2024, angkanya masih 76%.
Survei DPI lainnya memberikan petunjuk 'dalang' di balik penurunan opini publik ini: Presiden Donald Trump.
82% negara yang disurvei menilai Trump secara negatif, dengan ranking di bawah Presiden Rusia Putin (61%) dan Presiden Cina Xi Jinping (44%). Ini membuat Trump menjadi kepala negara yang dinilai paling negatif di dunia.
Perlu dicatat: Survei-survei tersebut dilakukan sebelum peristiwa-peristiwa kontroversial terjadi seperti kekerasan yang dilakukan Badan Imigrasi ICE, ambisi Trump menguasai Greenland dan serangan AS terhadap Iran.
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Banyak orang tua "tidak nyaman" mengirim anak belajar ke AS
Perjalanan ke AS juga menjadi jauh kurang populer, hal ini terlihat dari jumlah remaja Jerman yang ingin pergi ke luar negeri selama setengah atau satu tahun ajaran pada 2026/2027.
Thomas Terbeck, Direktur Eksekutif layanan konsultasi pendidikan "weltweiser", menekankan dalam wawancara dengan DW bahwa "AS masih menjadi tujuan nomor satu."
Meski belum ada angka yang pasti yang menunjukkan penurunan tersebut tahun ini, "Pada pertemuan industri pada bulan Märzi lalu, hampir semua dari sekitar 45 organisasi pertukaran pelajar yang hadir mengonfirmasi bahwa jumlah pendaftar berkurang.” Remaja-remaja tersebut memilih negara berbahasa Inggris lainnya, terutama Kanada, atau tetap tinggal di Jerman. “Banyak orang tua tidak lagi merasa nyaman dengan AS, terutama karena Trump.”
Trauma, perang, perubahan iklim, harapan: Gambar-gambar dalam Kontes World Press Photo 2026 memotret realita saat ini. Berikut beberapa foto pemenang dari berbagai wilayah di dunia.
Foto: Carol Guzy, ZUMA Press, iWitness for Miami Herald
AS: Terpisahkan oleh ICE
Anak-anak perempuan seorang pria berpegangan putus asa saat ia dibawa pergi oleh petugas imigrasi AS usai sidang. Momen ini diabadikan Carol Guzy dan meraih World Press Photo of the Year, di tengah meningkatnya deportasi era Presiden Donald Trump yang memicu iklim ketakutan di AS.
Foto: Carol Guzy, ZUMA Press, iWitness for Miami Herald
Gaza: Darurat bantuan
Situasi sangat genting pada Maret 2025 ketika blokade Gaza dicabut, memungkinkan masuknya bantuan, sebagaimana diabadikan oleh fotografer Gaza, Saber Nuraldin. Warga Palestina berjuang mendapatkan makanan, sementara titik distribusi yang dimiliterisasi menuai kritik internasional dan menelan banyak korban jiwa.
Foto: Saber Nuraldin, EPA Images
Guatemala: Derita perempuan Achi
Selama perang saudara Guatemala (1960–1996), perempuan adat Achi menjadi korban pemerkosaan sebagai senjata perang. Setelah bertahun-tahun memperjuangkan keadilan, pada Mei 2025 pengadilan menghukum para mantan tentara yang terlibat. Fotografer Victor J. Blue menggambarkan para perempuan itu berdiri tegar dalam perjuangan terakhir mereka menuntut keadilan.
Foto: Victor J. Blue for The New York Times Magazine
Filipina: Pernikahan di tengah banjir akibat topan
Sepasang pengantin di Filipina berciuman di tengah banjir, disambut sorak sorai para tamu. Meski topan melanda dan banjir terjadi, mereka memutuskan untuk tidak membatalkan pernikahan. Momen ini melambangkan bukan hanya cinta, tetapi juga ketangguhan. Momen tersebut diabadikan oleh fotografer Aaron Favila untuk kantor berita Associated Press.
Foto: Aaron Favila/Associated Press
Australia: Keberanian di tengah kekerasan
Seorang polisi terlihat syok, dalam foto karya Edwina Pickles untuk The Sydney Morning Herald. Serangan terjadi saat festival Yahudi “Hanukkah by the Sea” di Pantai Bondi, saat dua penyerang dengan ideologi ekstremis menembaki kerumunan dan menewaskan 15 orang. Di antara korban pertama adalah Boris dan Sofia Gurman, pasangan Yahudi asal Ukraina, yang tewas saat berusaha melucuti senjata penyerang.
Foto: Edwina Pickles/The Sydney Morning Herald
Gaza: Kehidupan di tengah gempuran
Sebuah keluarga berbuka puasa Ramadan di tengah puing-puing rumah mereka di Beit Lahia, Gaza. Momen ini kontras dengan kekacauan, kehancuran, kelaparan, dan kekerasan yang terus berlangsung, sekaligus mencerminkan kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut. Para jurnalis di lapangan mendokumentasikan kondisi ini dengan risiko besar. Foto ini diabadikan oleh Saher Alghorra untuk The New York Times.
Foto: Saher Alghorra/The New York Times
Ukraina: Perang dan teknologi baru
Perang di Ukraina mengubah peperangan modern, dengan drone yang dimodifikasi menjadi senjata jarak jauh. Dalam foto David Guttenfelder untuk The New York Times, dua tentara memasang granat pada sebuah drone. Tato harimau di tangan bercincin pernikahan kontras dengan lengan yang teramputasi serta bunga kecil berwarna biru, menyoroti ironi antara perang, kehilangan, dan kemanusiaan.
Foto: David Guttenfelder/The New York Times
Brasil: Konsekuensi kekerasan
Para tersangka dalam operasi besar kepolisian terhadap jaringan narkoba di Rio de Janeiro diabadikan oleh fotografer Eduardo Anizelli dari harian Folha de S.Paulo. Operasi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Brasil dan menewaskan sedikitnya 64 orang. Dampak terparah dirasakan di kawasan favela, permukiman miskin yang mayoritas dihuni warga Afro-Brasil.
Foto: Eduardo Anizelli/Folha de S.Paulo
Arktik: Perubahan iklim menciptakan realitas baru
Seekor beruang kutub betina terlihat sedang memakan bangkai paus sperma di wilayah Arktik, utara Spitsbergen. Musim tanpa es di kawasan ini telah mengalami perpanjangan yang signifikan. Paus tersebut kemungkinan terbawa arus laut hingga ke sana. Seiring menyusutnya es laut, habitat dan sumber makanan pun berubah, terutama bagi beruang kutub yang biasanya berburu anjing laut.
Foto: Roie Galitz
Spanyol: Kebakaran hutan sebagai normal baru
Foto udara karya Brais Lorenzo memperlihatkan San Vicente de Leira yang terdampak parah oleh kebakaran Larouco. Kekeringan, kenaikan suhu, dan perubahan penggunaan lahan memperparah risiko kebakaran hutan. Pada 2025, Eropa mengalami kebakaran hutan terburuk sepanjang sejarah, dengan lebih dari 200.000 hektare lahan terbakar di Galicia saja.
Foto: Brais Lorenzo/EFE/Revista 5W/El País
Jerman: Teknologi baru untuk mengatasi kesepian
Panti jompo di Jerman kekurangan tenaga kerja, membuat banyak lansia merasa kesepian. Untuk mengatasi hal ini, robot seperti “Emma” yang mampu mengenali wajah dan mengingat percakapan diuji coba. Fotografer Paula Hornickel mengabadikan momen hubungan antara Waltraud, salah satu penghuni, dengan robot tersebut. Meski membantu, kehadiran manusia tetap tak tergantikan bagi para lansia.
Foto: Paula Hornickel
Maroko: Tradisi dan pemberdayaan perempuan
Joki Noura berupaya mengendalikan kudanya setelah letusan senjata api, momen paling berbahaya dalam pertunjukan Tbourida. Tradisi berkuda berusia ratusan tahun ini dulunya hanya untuk pria, namun kini perempuan mulai mengambil peran, di antaranya melalui beberapa kelompok Tbourida yang seluruh anggotanya perempuan.
Foto: Chantal Pinzi/Panos Pictures
Afrika Selatan: Peluang baru bagi semua
Para penari muda menunggu di belakang panggung Teater Soweto sebelum pertunjukan mereka, dalam foto karya Ihsaan Haffejee. Pada masa apartheid, balet hanya diperuntukkan bagi kalangan elite kulit putih. Kini, Joburg Ballet School menawarkan kelas dengan biaya terjangkau bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. (LW/AP)
Foto: Ihsaan Haffejee/GroundUp
13 foto1 | 13
Pakar AS, Frank Mehring, meganggapi perkembangan tersebut, "Jika orang tidak lagi bepergian ke AS karena rasa takut, itu adalah masalah, karena rasa takut adalah musuh terbesar kebebasan dan demokrasi."
Ketakutan-ketakutan tersebut seringkali berlebihan dan tidak berdasar, karena banyak orang di AS masih sangat aktif dalam gerakan protes, berjuang untuk demokrasi, dan sangat mengikuti perkembangan informasi. "Memang ada perubahan yang sangat dramatis, banyak orang di sana baik masyarakat adat, kelompok etnis minoritas, hidup dalam kondisi yang berbahaya. Namun, kita tetap tidak boleh menjauh dan merasa bahwa AS sudah hancur.”
Iklan
Setelah Bush, datanglah Barack Obama
Jadi, apakah benar orang-orang telah jenuh terhadap AS?
Tidak menurut Frank Mehring."AS memang memecah belah, tapi masih banyak orang yang peduli." Ia merujuk pada gerakan perdamaian yang memobilisasi jutaan orang Jerman dalam protes menentang penempatan rudal Pershing-II AS yang dilengkapi hulu ledak nuklir pada awal tahun 80-an.
"Saat itu, orang-orang turun ke jalan dengan mengekan jeans dan terinspirasi oleh lagu-lagu Bob Dylan serta Woodstock untuk menyuarakan penolakan mereka. Mereka menemukan bahasa yang tepat untuk mengkritik AS lewat keunikan budaya AS.” Menurutnya, daya tarik budaya Amerika tetap terjaga bahkan di tengah hujan kritik yang sangat keras.
Menurutnya, kelelahan yang terkait dengan Donald Trump dan fokus media terhadapnya bisa berubah lagi pada pemilihan presiden AS berikutnya.
"Di bawah George W. Bush, citra AS juga memburuk secara signifikan, lalu datanglah Barack Obama.”
Article ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman