Ekonomi terbesar kedua di dunia ini sempat melesu akibat melemahnya konsumsi domestik. Industri otomotif Cina akhirnya ikut terpukul. Dari Tianjin, tempat berlangsungnya “Summer Davos”, Manuela Kasper-Claridge melaporkan
'Summer Davos 2025' akan berlangsung di kota metropolitan Tianjin yang ramaiFoto: Ding Junhao/VCG/MAXPPP/dpa/picture alliance
Iklan
"Bahkan ketika berjalan pun, kami tetap lebih cepat dari yang lain,” ujar Sun, seorang pengusaha properti sambil tersenyum percaya diri, ketika menggambarkan kondisi ekonomi Cina dibandingkan negara-negara lain.
Sun punya sejarah merajut kejayaan bisnis properti. Kekayaannya berasal dari penjualan apartemen di berbagai penjuru negeri. Namun, dia meminta agar namanya tidak disebutkan secara lengkap. Saat ini, Sun mengakui bisnisnya tengah lesu. Banyak unit apartemen kosong. Karena harga properti sedang menjulang tinggi.
Bagaimana perkembangan situasi ke depan? Sun hanya mengangkat bahu. "Ah, nanti juga beres,” ujarnya ringan, menggantungkan harapan pada sinyal intervensi yang mungkin akan datang dari pemerintah.
Sun menghasilkan uangnya dari bidang real estate, namun saat ini bisnisnya sedang mandekFoto: Manuela Kasper-Claridge/DW
Janji dan realita di Summer Davos
Dalam pertemuan "Summer Davos 2025” yang diselenggarakan oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF), di Tianjin, Perdana Menteri Cina Li Qiang seperti biasa tampil dengan wajah optimistis saat menyampaikan pidatonya.
Pertemuan tahunan ini adalah wadah diskusi ekonomi dan teknologi yang lebih progresif, futuristik, dan inovatif sebagaimana pertemuan utama WEF di Davos, Swiss yang diadakan tiap Januari (musim dingin). Summer Davos tahun ini di Tianjin diselenggarakan tanggal 24 hingga 26 Juni 2025,
Namun, di luar aula, optimisme itu tak mudah menemukan tempat. Banyak warga negeri tirai bambu ini memilih untuk mengencangkan ikat pinggang, ketimbang foya-foya berbelanja.
Di mal-mall megah Tianjin, toko-toko terlihat kosong. Jam tangan mewah, perhiasan, tas desainer—semuanya terpajang indah, seolah memanggil konsumen yang tak kasatmata. Bahkan salon kecantikan pun sunyi. Di sebuah salon, empat penata rambut berdiri termangu menanti pelanggan di hari kerja biasa.
Dibuat di Cina, Dijual ke Seluruh Dunia
Banyak produk yang dijual di Eropa tampak seperti diproduksi di Eropa, tetapi sebenarnya "Made in China". DW mengajak Anda melihat sejumlah produk tersebut. Ada yang Anda kenal?
Foto: Reuters/A. Song
Berbagai jenis produk!
Seorang staf penjualan sedang bekerja menjual lahan rumput yang dibuat dari plastik, di Yiwu Wholesale Market in Yiwu, provinsi Zhejiang, Cina, 10 Mei 2019. Kota Yiwu di bagian timur Cina adalah tempat penjualan terbesar produk dari berbagai jenis dan ukuran, dari pensil, kaos kaki hingga cangkir.
Foto: Reuters/A. Song
Impor-ekspor budaya?
Kedua perempuan ini sedang berdiskusi di sebuah kios yang menjual produk-produk Natal di Yiwu Wholesale Market. Kota Yiwu memiliki 1,2 juta penduduk. Letaknya 285 kilometer dari Shanghai, dan diberi sebutan "Christmas Town" (kota Natal) karena memproduksi 60% dekorasi Natal dunia.
Foto: Reuters/A. Song
Tampak meyakinkan
Berbagai plakat bergaya "vintage", misalnya plakat mobil, tampak dijual di sebuah kios. Penampilannya meyakinkan, seolah asli dari negeri yang dipaparkan di plakat itu.
Foto: Reuters/A. Song
Nasionalisme?
Bahkan bendera dari berbagai negara juga bisa dibeli di sini. Misalnya bendera dengan slogan "Keep America Great!" untuk kampanye pemilu 2020 Presiden AS Donald Trump juga ada di sini.
Foto: Reuters/A. Song
Berbagai peralatan
Ingin memasang sekrup sendiri? Butuh obeng dan peralatan kerja lainnya? Bisa dicari di sini, di Yiwu Wholesale Market, provinsi Zhejiang, Cina.
Foto: Reuters/A. Song
Model senjata
Seorang staf penjualan berkutat mengurus penjualan produk di kiosnya, yang mengkhususkan diri pada model senapan dan pistol kuno. Dengan bertambahnya pemasukan dana dari Timur Tengah, Yiwu berubah menjadi tempat perdagangan antara Cina dan Timur Tengah. Ibaratnya Jalur Sutra baru yang menghubungkan kedua kawasan ekonomi.
Foto: Reuters/A. Song
Ingat waktu
Perlu mengingat waktu? Di sini tidak masalah. Ada berbagai jam dari berbagai ukuran. Untuk ditempatkan di dinding, atau weker yang diletakkan di sebelah tempat tidur. Tinggal pilih sesuai selera.
Foto: Reuters/A. Song
Tidak sendirian
Pasar besar Yiwu Wholesale Market di Cina memiliki banyak kios. Hampir semuanya menjual dekorasi Natal. (Sumber: Reuters. Ed.: ml/hp)
Foto: Reuters/A. Song
8 foto1 | 8
"Kendaraan tanpa tujuan"
Di showroom mobil listrik, pemandangan serupa berulang. Para staf penjaga tampak "mati kebosanan", dan sibuk menghibur diri dengan ponsel masing-masing. Sebuah mobil listrik merek NIO teranyar teronggok kesepian. Tak ada yang melirik, tak ada yang ingin menjajal simbol kemajuan otomotif Cina itu.
Minat beli yang rendah menghantam keras para produsen. Di tengah persaingan pasar yang sangat ketat, berkecamuk perang harga berkepanjangan. Mobil baru dijual seharga harga mobil bekas. Praktik ini dikenal dengan istilah "zero mileage.”
"Menguntungkan bagi konsumen,” tandas Killian Aviles, Kepala Asia Pasifik dari Dekra Group, perusahaan asal Jerman yang bergerak di bidang pengujian dan konsultasi industri otomotif. "Mereka bisa mendapatkan mobil canggih dengan harga miring. Tapi margin keuntungan produsen habis terkikis,” keluhnya.
Dia menambahkan, konsolidasi tak bisa dihindari. "Hanya perusahaan yang paling kuat dan sehat yang akan bertahan.”
Daftar Negara Pengutang Terbesar di Dunia
Secara umum negara-negara maju mencuat berkat nilai utang yang menggunung dan terus membengkak. Menurut Dana Moneter Internasional, Jepang, Amerika Serikat dan Cina adalah tiga negara dengan jumlah utang terbesar.
Foto: picture-alliance/dpa
Jepang - 10,46 Triliun Dolar AS
Perekonomian negeri sakura yang ikut terjerat resesi global banyak mengalami kemajuan sejak era Perdana Menteri Shinzo Abe. Namun begitu, rasio utang Jepang terhadap produk domestik bruttonya masih yang tertinggi di dunia, yakni sekitar 245,5 %. Kenaikan utang antara lain berkat kebijakan ofensif Abe yang memperbesar belanja pemerintah demi pertumbuhan ekonmi.
Foto: picture-alliance/dpa
Yunani - 447 Miliar Dolar AS
HIngga detik ini Yunani masih menggantungkan nasibnya pada uluran tangan Eropa. Negeri yang babak belur oleh krisis ekonomi itu memiliki rasio utang sebesar 171% dari PDB-nya. Athena saat ini tengah berupaya mengajukan pemotongan utang kepada para krediturnya.
Foto: Reuters/A. Konstantinidis
Italia - 2,25 Triliun Dolar AS
Setelah Yunani, Italia mencatat rasio utang tertinggi kedua di Eropa dengan kisaran 136% terhadap produk domestik brutto. Jurus yang dirapal pemerintah di Roma untuk menanggulangi utang yang menggunung adalah dengan memprivatisasi aset negara, antara lain sebagian saham di perusahaan jasa pos nasional, Poste Italiane.
Foto: picture-alliance/dpa
Portugal - 293 Miliar Dolar AS
Selama bertahun-tahun Portugal memompa kemakmuran lewat utang. Hasilnya tahun 2015 rasio utang negara di selatan Eropa itu meningkat tajam menjadi 128,7% terhadap PDB. Namun begitu pemerintah di Lisabon telah banyak mencatat kemajuan dengan program penghematan anggarannya.
Foto: AFP/Getty Images
Singapura - 310 Milliar Dolar AS
Kecil tapi besar. Itulah perekonomian Singapura yang sayangnya juga termasuk jumlah utangnya. Saat ini Singapura mencatat rasio utang sebesar 105% terhadap PDB. Jika dibagi rata, setiap penduduk negeri jiran itu berutang 57,5 ribu Dolar AS atau sekitar 750 juta Rupiah per kepala.
Foto: AFP/Getty Images
Amerika Serikat - 16,3 Triliun Dolar AS
Rasio utang Amerika Serikat berada di kisaran 105,1% terhadap produk domestik brutto. Dampaknya rating kredit AS diturunkan dari AAA menjadi AA+ 2011 lalu. Sejak krisis melanda 2008 silam, Washington menggelontorkan dana miliaran untuk menopang pertumbuhan, antara lain lewat belanja infrastruktur, keringanan pajak untuk dunia bisnis dan kebijakan intervensi pasar modal
Foto: Getty Images
Cina - 8,2 Triliyun Dolar AS
Kendati berjumlah besar, utang Cina tidak banyak membebani perekonomiannya. Saat ini rasio utang negeri tirai bambu itu cuma berkisar 41,3% dari produk domestik brutto. Yang mengejutkan adalah kenaikan utang domestik Cina yang meroket sejak 2007. Beijing diwanti-wanti agar memperhatikan pertumbuhan utangnya jika tidak ingin mengalami perlambatan pertumbuhan.
Foto: Getty Images/K. Frayer
Indonesia - 293,7 Miliar Dollar AS
Produk Domestik Brutto Indonesia yang menembus angka 1 Triliun USD tahun 2014 silam membuat rasio utang pemerintah mengecil, menjadi cuma 26% dari total PDB. Dalam hal utang, Indonesia tergolong sehat dan termasuk negara dengan rasio utang terkecil di dunia.
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Menoleh ke luar, tapi masa depan tak berada di sana
Salah satu harapan kini diarahkan pada sektor ekspor, terutama ke Eropa. Namun peluang Cina bergantung pada apakah negara-negara Eropa akan membuka pasarnya, atau malah menaikkan bea masuk. Meski begitu, terlalu bergantung pada ekspor bukan lagi jalan bagi masa depan.
"Cina sudah menyadari bahwa era pertumbuhan berbasis ekspor telah berakhir,” tandas peneliti senior dari Center for China Analysis di London Diana Choyleva, "Negara ini masih bergelut dengan kelebihan investasi dan produksi. Yang harus digerakkan sekarang adalah konsumsi dalam negeri.”
Duit Cina Hidupkan Rel Kereta Afrika
Memperbaiki infrastruktur transportasi luar negeri, Cina investasi besar-besaran di Afrika. Benua itu merayakan kembalinya kejayaan kereta api.
Foto: Getty Images/AFP
Kereta cepat dari Abuja ke Kaduna
Sejak Juli 2016, rel sepanjang 175 kilometer menghubungkan ibukota Nigeria, Abuja, ke negara bagian Kaduna di utara. Biaya pembangunannya sekitar 800 juta Euro. Bank Ekspor-Impor China menyediakan dana sekitar 450 juta Euro.
Foto: DW/U. Musa
Kepala negara di atas rel
Presiden Nigeria Muhmmadu Buhari jadi tamu istimewa dalam perjalanan perdana kereta api yang baru. Tiket untuk perjalanan selama dua jam 40 menit dibandrol sekitar 45 ribu Rupiah untuk kelas ekonomi dan 60 ribu Rupiah untuk kelas satu.
Foto: DW/U. Musa
Kereta dalam kota di Addis Ababa
Jalur kereta api ringan (dalam kota) pertama di ibukota Ethiopia mulai beroperasi aktif pada tahun 2015. Dibangun oleh China Railway Group - juga dengan dana dari EximBank Cina. Teknisi Tionghoa dilibatkan dalam operasional dan pemeliharaan sistem kereta api ringan hingga tahun 2020. Kemudian Perusahaan Kereta Api Ethiopia harus mengambil alih pemeliharaannya.
Foto: picture-alliance/dpaMarthe van der Wolf
Menghubungkan Afrika Timur
Sekitar 25.000 warga Kenya dan 3.000 pekerja Cina bahu-membahu dalam pembangunan rute jalur kereta sepanjang 472 kilometer antara Mombasa dan Nairobi. Sekitar 90% biaya konstruksi, yakni sekitar 3,6 miliar euro dibiayai oleh Cina. Kemudian, kota-kota seperti Kampala dan Juba juga harus terhubung.
Foto: Reuters/N. Khamis
Museum kereta api di Livingstone
Kembali ke masa lalu: Pada tahun 1856, jalur kereta antara Alexandria dan Kairo dibuka. Mesin uap ini telah beroperasi sejak awal abad ke-20 sampai tahun 1976 di Zambia. Kereta ini dipamerkan di Museum Kereta Api di Livingstone.
Foto: Getty Images/AFP/S. de Sakutin
Memburuk di akhir pemerintahan kolonial
Sejumlah jalur kereta api dibangun oleh penjajah di Afrika. Kereta digunakan untuk mengangkut bahan baku ke pantai, sebelum dikirim ke Eropa. Banyak dari rute ini yang bobrok. Peninggalan di foto itu termasuk jalur kereta api asli antara Swakopmund dan Walvis Bay, yang dibangun pada tahun 1914 dan diperbaiki pada tahun 1980.
Foto: picture-alliance/Ardea/K. Terblanche
Jaringan rel Afrika
Laporan Bank Pembangunan Afrika 2015: Perkeretaapian penting untuk benua tersebut. Kereta api bisa menjadi alat transportasi murah dan mengurangi kemacetan perkotaan. Laporan tersebut juga mengritik kondisi jaringan rel yang buruk, terutama yang membentang di utara dan selatan, dimana jaringannnya seringkali tidak saling terkait satu sama lain.
Akankah stasiun yang tutup dibuka kembali?
Seiring berkembangnya ekonomi di banyak negara Afrika, penekanan baru telah diberikan pada perbaikan transportasi. Jika Cina dan investor lainnya terus berinvestasi, stasiun kereta sepi seperti yang ada di Addis Ababa bisa berfungsi kembali.
Foto: Getty Images/AFP/M. Medina
Melongok jauh ke Afrika Selatan
Jaringan rel regional Gautrain menghubungkan Pretoria dan Johannesburg dengan bandara terbesar di Afrika. Jaringannya akan diperluas dari 80 sampai 230 kilometer dalam 20 tahun ke depan. Dengan jalur sekitar 21.000 kilometer, Afrika Selatan memiliki jaringan kereta api terbesar di benua ini. Sudan memiliki 7.300 kilometer, dan Mesir memiliki 5.100 kilometer.
Foto: imago/ZUMA Press
Kereta cepat dari Perancis di Tangier
Kereta berkecepatan tertinggi di benua ini direncanakan beroperasi di utara. 12 kereta TGV Perancis telah dikirim Juni 2016 lalu. Perjalanan antara Tangier dan Casablanca kini memakan waktu 2 jam 10 menit dengan kecepatan hingga 320 kilometer per jam, jadi bukan lagi 4 jam 45 menit. Jalur ini kemudian akan berlanjut ke Aljazair dan Tunisia.
(Ed: Aarni Kuoppamäki/ap/yf)
Foto: Getty Images/AFP
10 foto1 | 10
Ketika robot membangun robot
Cina sendiri tetap memupuk ambisi besar, menjadi pemimpin dunia di berbagai sektor. Di Tianjin, para tamu diajak melihat pabrik robot milik Siasun Robotics. Dengan slogan "mengubah dunia lewat sistem robotik,” mereka mengekspor produk ke 40 negara, termasuk robot untuk industri nuklir.
Meski robot terbaru tidak diperlihatkan, mesin-mesin standar yang digunakan di industri otomotif cukup menjadi bukti arah masa depan. "Dalam waktu dekat, robot akan membangun robot,” ujar manajer produksi penuh kebanggaan.
Dan ketika seseorang bertanya, "Lalu, manusia harus bikin apa?” — tak seorang pun menjawab.
Iklan
Di pinggir sungai, realita berbicara
Di tepian Sungai Hai He yang mengalir tenang melewati kota pelabuhan Tianjin, sejumlah warga duduk bersama. Mereka membawa bekal makanan dari rumah, berpiknik di bawah langit kota. Keluarga, orang tua, anak muda bercampur-baur. Beberapa berdansa di tempat terbuka.
Restoran-restoran di sekitar tampak separuh kosong. Boleh jadi, ongkosnya terlalu mahal bagi warga untuk makan di sana. Lebih baik berhemat. Lagi pula, makanan buatan sendiri seringkali tak kalah enak.
Artikel ini pertama kali rilis dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh: Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha
Para Aktivis Iklim Berkumpul di Swiss untuk Pawai ke Davos
Para pengunjuk rasa memprotes kurangnya tindakan atas perubahan iklim. Mereka bergerak mendekati lokasi Forum Ekonomi Dunia di Davos yang dimulai pekan ini.
Foto: AFP/F. Coffrini
McDonald's jadi salah satu target aksi protes aktivis iklim
Beberapa demonstran berpakaian seperti Ronald McDonald, karakter yang mewakili rumah makan cepat saji McDonald's. Perusahaan itu dikritik karena dipandang sebagai salah satu pembeli daging sapi terbesar dunia, sebuah industri yang telah menjadi target para aktivis iklim di masa lalu.
Foto: Getty Images/F. Coffrini
Mengkritik kebijakan Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump tidak luput dari kemarahan para aktivis yang bergerak menuju Davos. Tahun ini WEF akan mengumpulkan hampir 3.000 peserta dari lebih dari 100 negara, termasuk 53 kepala negara, di antaranya Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Donald Trump sejak awal membantah adanya perubahan iklim dan mengumumkan penarikan AS dari Perjanjian Iklim Paris.
Foto: Getty Images/AFP/F. Coffrini
Ambil alih kepemimpinan
Seorang pria memegang plakat yang menyarankan Forum Ekonomi Dunia perlu dipimpin, tetapi bukan oleh para pemimpin yang mengambil bagian dalam pertemuan di Davos, melainkan oleh PBB. Para aktivis berkumpul di Landquart, Swiss, dan mulai mendaki mendekati lokasi pertemuan di Davos.
Foto: AFP via Getty Images
Mengingatkan tanggung jawab
Para aktivis mengingatkan dampak ekologis dari tindakan manusia, sebelum mulai berpawai ke pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos. Sebuah studi baru-baru ini melaporkan bahwa lautan dunia memanas pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ini kemungkinan akan mengakibatkan lebih banyak krisis lingkungan dan lahan, seperti kebakaran hutan yang saat ini melanda Australia.
Foto: Getty Images/F. Coffrini
Mogok untuk iklim
Seorang perempuan mengenakan topi musim dingin dengan lencana bertuliskan "Mogok untuk iklim". Ungkapan ini menjadi identik dengan gerakan yang dimotori aktivis iklim remaja asal Swedia, Greta Thunberg, dan meluas menjadi gerakan mogok anak-anak sekolah "Fridays for future." (hp/rap)