1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Suriah dan Intervesi Internasional

17 Juni 2011

Sejumlah harian Eropa mengomentari perkembangan terakhir di Suriah, serta pengangkatan Aiman al Sawahiri sebagai pemimpin baru jaringan teror Al Qaida.

In this citizen journalism image made on a mobile phone and provided by Shaam News Network and with information according to them, showing a Syrian army tank deployed in the Syrian eastern province of Deir el-Zour, Syria, on Tuesday June 14, 2011. The Syrian government claimed to have thwarted cross-border weapons smuggling in the Deir el-Zour area, and human rights activist Mustafa Osso confirmed that tanks were moving in the large eastern province of Deir el-Zour, which borders Iraq, with a growing military campaign forcing many thousands of Syrians to flee from their homes. (Foto:Shaam News Network/AP/dapd) EDITORIAL USE ONLY, NO SALES, THE ASSOCIATED PRESS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS HANDOUT PHOTO
Panser militer Suriah di Deir el ZourFoto: dapd

Harian liberal Perancis Libération berkomentar:

Perancis tidak mungkin membom Libya, dan pada saat bersamaan menutup mata dari pengekangan berdarah yang terjadi di Damaskus. Untuk meraih kecaman DK PBB terhadap rejim Suriah butuh usaha keras. Tetapi tema Suriah melumpuhkan masyarakat internasional jauh lebih besar daripada tema Libya. Sementara dunia Arab sangat menyolok dengan kebungkamannya. Negara-negara besar ambang industri tampak jelas bersikap sinis, karena mereka sendiri melancarkan tekanan baik di negara sendiri, maupun di daerah-daerah, di mana pengaruh mereka luas. Itu tidak terpantau masyarakat internasional. Berkaitan dengan Brasil dan Afrika Selatan, pada prinsipnya mereka memang tidak menginginkan intervensi Barat.

Situasi tegang di Suriah juga dikomentari harian Perancis, Sud-Ouest, di samping konflik di Libya:

Apa bedanya pasir berwarna kuning di padang pasir Libya dan batu-batuan mengandung kapur di dataran tinggi Suriah yang tidak dihuni? Hanya satu: Libya adalah negara, yang tidak menarik bagi siapapun, karena pemimpin politiknya sendirian dan sudah melemah. Jika orang memperhatikan konsekuensi aksi militer yang awalnya bertujuan melindungi masyarakat sipil, orang akan depresi. Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO mengakui, jumlah korban sekarang sampai puluhan ribu. Dan aksi yang seyogyanya hanya akan berlangsung beberapa hari atau pekan, sekarang mungkin akan berjalan setahun.

Aiman al Sawahiri kini menjadi pemimpin jaringan teror Al Qaida, menggantikan Osama bin Laden. Ini juga mendapat sorotan sejumlah harian Eropa.

Aiman al SawahiriFoto: dapd

Harian konservatif Corriere della Sera yang terbit di Milan, Italia berkomentar:

"Bin Laden punya karisma yang tidak dimiliki penggantinya." Itu perkataan Presiden AS, Barack Obama mengenai pemilihan "Doktor" Aiman al Sawahiri untuk mengepalai Al Qaida. Dan al Sawahiri memang mungkin akan menghadapi kesulitan untuk mengendalikan "Osama-Osama kecil". Namun demikian orang sebaiknya tidak menganggap remeh al Sawahiri. Sejarah hidupnya menunjukkan, ia mampu melakukan perubahan-perubahan dramatis. Sekarang, karena sudah menjadi Emir bagi Al Qaida, ia lebih dapat menunjukkan otoritasnya. Biar bagaimanapun bukan citranya saja yang dipertaruhkan, melainkan juga status dan nama jaringan teror itu.

Harian Austria, Salzburger Nachrichten mengomentari pemilihan al Sawahiri berkaitan dengan situasi Al Qaida saat ini:

Seberapa tidak pentingnya Al Qaida sekarang, dapat dilihat dari upaya al Sawahiri dan rekan-rekannya untuk menjadi sebuah faktor yang ada artinya dalam pergolakan yang sedang berlangsung di dunia Arab. Sekarang bahaya kongkrit terutama berasal dari orang-orang yang hanya meniru. Untungnya, bagi aparat keamanan mereka mudah dilacak, karena bertindak seperti pemula. Itu risiko yang bisa ditanggung, dan itu sudah tidak dapat lagi membenarkan pengeluaran biaya, apalagi pembuatan undang-undang baru, yang membatasi kebebasan individu di banyak tempat atas nama perjuangan anti teror.

dpa/afp/Marjory Linardy

Editor: Dyan Kostermans