Suriah mengumumkan gencatan senjata baru dengan SDF, koalisi bersenjata pimpinan Kurdi yang lama menguasai wilayah timur dan timur laut. Kesepakatan ini tercapai usai dua hari bentrokan yang terjadi di wilayah timur.
Pemimpin sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, menandatangani perjanjian dengan kelompok SDFFoto: Syrian Presidency/Anadolu Agency/IMAGO
Iklan
Pemerintah Suriah mengumumkan perjanjian gencatan senjata baru dengan Syrian Democratic Forces (SDF) atau Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin oleh kelompok Kurdi, yang selama bertahun‑tahun menguasai wilayah luas di timur dan timur laut Suriah.
Sepanjang akhir pekan, militer Suriah dilaporkan mengambil alih sejumlah lokasi strategis, termasuk ladang minyak dan gas yang sebelumnya dikuasai SDF.
Menurut kesepakatan tersebut, pemerintah pusat Suriah akan memperoleh akses ke beberapa provinsi di wilayah timur dan timur laut negara itu. Kesepakatan itu juga mencakup rencana integrasi penuh SDF ke dalam Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah, seperti dilaporkan kantor berita pemerintah SANA.
Kesepakatan gencatan senjata ini tercapai setelah dua hari bentrokan baru di wilayah timur Suriah. Dalam bentrokan tersebut, tentara Suriah berhasil mengusir SDF dari sejumlah wilayah di Suriah utara dan timur laut yang telah dikuasai kelompok itu selama lebih dari satu dekade.
Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Perang Tiada Akhir
Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.
Foto: picture alliance/abaca/A. Al-Bushy
Kelompok Loyalis Assad
Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.
Foto: picture alliance/dpa/V. Sharifulin
Militer Turki
Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.
Foto: picture alliance/dpa/S. Suna
Tentara Rusia
Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.
Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.
Foto: picture-alliance/AP Images/US Navy/F. Williams
Pemberontak Free Syrian Army
Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.
Foto: Reuters
Pemberontak Kurdi
Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.
Foto: picture-alliance/AA/A. Deeb
Islamic State ISIS
Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.
Foto: picture-alliance/dpa
Afiliasi Al Qaeda
Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.
Foto: picture-alliance/AP Photo/Nusra Front on Twitter
Pasukan Iran
Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
10 foto1 | 10
Pada Minggu (18/01), pemerintah Suriah juga mengumumkan telah merebut kota strategis Tabqa, yang berlokasi sekitar 55 kilometer di barat Raqqa. Kota tersebut sebelumnya berada di bawah kendali SDF.
Dalam pertemuan dengan utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Tom Barrack, di Damaskus, tak lama sebelum pengumuman gencatan senjata, al-Sharaa menegaskan pentingnya dialog serta upaya membangun kembali Suriah "dengan partisipasi seluruh rakyat Suriah.”
Di tengah perkembangan ini, Presiden Interim Suriah Ahmad al-Sharaa menunda rencana kunjungannya ke Berlin. Ia semula dijadwalkan tiba di Jerman pada Senin (19/01) dan menggelar pertemuan dengan Kanselir Friedrich Merz serta para pemimpin dunia usaha Jerman pada Selasa (20/01).
Al-Sharaa juga dijadwalkan bertemu Mazloum Abdi, pemimpin SDF, pada Minggu (18/01) setelah kesepakatan gencatan senjata antara SDF dan pemerintah Damaskus tercapai. Namun, al-Sharaa mengatakan kepada wartawan bahwa Abdi tidak dapat melakukan perjalanan ke Damaskus karena cuaca buruk dan baru akan menemuinya pada Senin (19/01).
Sejak lama dunia mengkhawatirkan paham Wahabisme sebagai wadah terorisme global. Ajaran puritan itu diyakini tidak cuma menjadi rumah ideologi, tapi penganutnya juga ikut membiayai tindak terorisme di Timur Tengah.
Foto: Reuters/C. Barria
Wahabisme Telurkan Radikalisme?
Sejak 2013 silam parlemen Eropa mewanti-wanti terhadap paham Wahabisme. Bahkan Dewan Fatwa Malaysia menilai faham tersebut kerap melahirkan pandangan radikal dan bisa berujung pada tindak terorisme. Pasalnya Wahabisme menganut prinsip pemurnian Islam. Bentuknya yang cenderung eksklusif dan intoleran terhadap ajaran lain membuat penganut Wahabisme rentan terhadap radikalisasi.
Foto: Reuters
Sumber Ideologi
Kebanyakan kelompok teror dari Nigeria, Suriah, Irak hingga ke Pakistan mengklaim Wahabisme atau Salafisme sebagai ideologi dasar. Al-Qaida, Islamic State, Taliban, Lashkar-e-Toiba, Front al Nusra dan Boko Haram adalah kelompok terbesar yang jantung ideologinya merujuk pada paham Islam puritan itu.
Foto: picture-alliance/dpa
Propaganda dari Riyadh
Hingga kini pemerintah Arab Saudi sudah mengucurkan dana hingga 100 miliar dolar AS untuk mempromosikan paham Wahabisme ke seluruh dunia. Sebagai perbandingan, Uni Soviet cuma menghabiskan dana propaganda Komunisme sebesar 7 miliar dolar AS selama 70 tahun sejak dekade 1920-an. Pakar keamanan mencurigai, sebagian dana dakwah itu disalahgunakan untuk membiayai terorisme.
Foto: picture-alliance/dpa/T. Brakemeier
Dana Gelap di Musim Haji
Pada nota rahasia senat AS dari tahun 2009 yang bocor ke publik, calon presiden AS Hillary Clinton menyebut hartawan Arab Saudi sebagai "donor terbesar" kelompok terorisme di seluruh dunia. Biasanya teroris memanfaatkan musim haji untuk masuk ke Arab Saudi tanpa mengundang kecurigaan aparat keamanan.
Foto: AFP/Getty Images/M. Al-Shaikh
Bisnis Perang
Penyandang dana teror terbesar di Arab Saudi tidak lain adalah hartawan berkocek tebal. Dengan mengandalkan uang minyak, mereka secara langsung atau tidak langsung menyokong konflik bersenjata di Pakistan atau Afganistan. Hal tersebut terungkap dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor di Wikileaks.
Foto: Getty Images/AFP/A. Karimi
Sumbangan buat Laskar Tuhan
Kelompok teroris tidak jarang menggunakan perusahaan atau yayasan untuk mengumpulkan dana perang. Lashkar-e-Toiba di Pakistan misalnya menggunakan lembaga kemanusiaan Jamaat-ud Dakwa, untuk meminta sumbangan. Kedoknya adalah dakwah Islam. Salah satu sumber dana terbesar biasanya adalah Arab Saudi.
Foto: AP
Senjata dari Emir
Arab Saudi bukan satu-satunya negara Islam yang menyokong terorisme. Menurut catatan Pentagon yang dipublikasikan majalah The Atlantic, Qatar membantu Jabhat al-Nusra dengan perlengkapan militer dan dana. Kelompok teror tersebut sempat beroperasi sebagai perpanjangan tangan Al-Qaida di Suriah. Jerman juga pernah melayangkan tudingan serupa terhadap pemerintah Qatar ihwal dana untuk Islamic State
Foto: picture-alliance/AP Photo/K. Jebreili
Dinar untuk al Nusra
Tahun 2014 silam Washington Post memublikasikan laporan yang mengungkap keterlibatan Kuwait dalam pembiayaan kelompok teror di Suriah, seperti Jabhat al Nusra. Laporan yang berlandaskan kesaksikan perwira militer dan intelijen AS itu menyebut dana sumbangan raksasa senilai ratusan juta dolar AS.
Foto: Reuters/H. Katan
Dukungan "tak langsung"
Harus ditekankan tidak ada bukti keterlibatan kerajaan al-Saud dalam berbagai aksi teror di seluruh dunia. Namun pada serangan teror 11 September 2001 di New York, AS, komite bentukan senat menemukan bahwa pelaku memiliki hubungan "tidak langsung" dengan kerajaan dan "mendapat dukungan dari kaum kaya Saudi dan pejabat tinggi di pemerintahan."
Foto: AP
Pencegahan Setengah Hati
Sejauh ini pemerintah Arab Saudi terkesan setengah hati membatasi transaksi keuangan gelap untuk pendanaan terorisme dari warga negaranya. Dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor ke publik, Riyadh misalnya aktif melumat sumber dana Al-Qaida, tapi banyak membiarkan transaksi keuangan untuk kelompok teror lain seperti Taliban atau Lashkar-e-Toiba.
Foto: picture-alliance/dpa/Saudi Press Agency
Bantahan Riyadh
Namun Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, membantah hubungan antara ideologi Wahabi dengan terorisme. "Anggapan bahwa Saudi membiayai ekstremisme atau Ideologi kami menyokong ekstremisme adalah omong kosong. Kami aktif memburu pelaku, uang dan dalang di balik tindak terorisme," tukasnya.
Foto: Reuters/C. Barria
11 foto1 | 11
Pemimpin Kurdi konfirmasi gencatan senjata
Mazloum Abdi, komandan tertinggi SDF, mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu (18/01) malam.
"Untuk mencegah perang ini berubah menjadi perang saudara… kami menerima keputusan untuk menarik diri dari wilayah Deir el-Zour dan Raqqa menuju Hasakeh,” kata Abdi dalam pernyataan yang disiarkan oleh saluran televisi Kurdi Ronahi.
"Kami akan menjelaskan rincian kesepakatan ini kepada rakyat kami dalam beberapa hari ke depan,” tambahnya.
Iklan
AS sambut gencatan senjata
Amerika Serikat menyambut baik kesepakatan gencatan senjata tersebut. Tom Barrack, utusan khusus AS untuk Suriah, menyebutnya sebagai "titik balik yang krusial.”
"Presiden al-Sharaa telah menegaskan bahwa warga Kurdi adalah bagian integral dari Suriah, dan Amerika Serikat menantikan integrasi yang mulus antara mitra historis kami dalam perang melawan ISIS dengan anggota terbaru Koalisi Global, seiring kami melanjutkan perjuangan jangka panjang melawan terorisme,” tulis Barrack di platform X, menggunakan akronim untuk kelompok militan Islamic State.
Barrack juga mengakui bahwa integrasi pasukan pimpinan Kurdi ke dalam struktur negara Suriah merupakan pekerjaan yang "penuh tantangan.” Namun, ia menegaskan Amerika Serikat "berdiri teguh mendukung proses ini di setiap tahap.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris