Tabloid Pro-Demokrasi Hong Kong Diberedel dan Terancam Bubar
22 Juni 2021
Tabloid pro-demokrasi Hong Kong, Apple Daily, terancam tutup usai pemerintah mendakwa lima petinggi dan membekukan aset perusahaan. Akibatnya media oposisi itu cuma punya "beberapa hari" sebelum berhenti beroperasi
Edisi Apple Daily pada Jumat (18/06) yang memuat berita penggerebekan polisi di kantor pusatnya, di Hong KongFoto: Kin Cheung/AP Photo/picture alliance
Iklan
Penangkapan terhadap kelima pegawai eksekutif Apple Daily dilakukan menyusul tuduhan melanggar UU Keamanan Nasional. Menurut klaim, perusahaan kini hanya memiliki "beberapa hari" sebelum penutupan total.
"Apple Daily kemungkinan hanya punya beberapa hari sebelum ditutup. Dewan Direksi sepakat pada Senin (21/06) untuk menunda keputusan akhir pada Jumat (25/06) depan, menunggu hasil permohonan pencairan aset," tulis harian pro-demokrasi itu dalam tajuknya.
Beberapa hari lalu pemerintah Hong Kong membekukan aset Apple Daily sebesar USD 2,3 juta. Selain kelima anggota direksi yang sedang didakwa, pendirinya, Jimmy Lai, sudah lebih dulu dijebloskan ke penjara. Kepada kelimanya, pemerintah mendakwa "dugaan persekongkolan dengan kekuatan asing atau elemen eksternal untuk membahayakan keamanan nasional."
Sebagai reaksi, Apple Daily meminta pemerintah mencairkan sebagian asetnya untuk membayar gaji pegawai. Jika aset tetap dibekukan, maka direksi akan terpaksa menghentikan operasi harian yang telah terbit sejak 1995 itu. Edisi hari Sabtu (26/06) nantinya akan menjadi edisi terakhir yang dicetak.
Petinggi Next Digital, perusahaan induk yang menerbitkan Apple Daily, mengaku kian kesulitan mempertahankan operasi. "Kami kira kami bisa bertahan hingga akhir bulan. Tapi kini situasinya menjadi bertambah sulit," kata Mark Simon yang bermukim di Amerika Serikat.
Dua anggota dewan direksi, Cheung Kim-hung dan kepala redaksi Apple Daily, Ryan Law, sama-sama dituduh meminta negara asing menjatuhkan sanksi terhadap Hong Kong dan Cina. Permohonan penangguhan penahanan dengan uang jaminan telah ditolak pengadilan.
Jika terbukti, keduanya terancam menghadapi tuntutan hukuman seumur hidup.
Kamis (16/06), kepolisian Hong Kong menggerebek kantor pusat Apple Daily, menyita dokumen dan komputer milik pegawaiFoto: dpa/Apple Daily/AP/picture alliance
Serangan sistematis terhadap kebebasan pers
Kamis (17/06) silam, sebanyak 500 polisi menggeledah kantor Apple Daily dan memeriksa semua komputer milik pegawai. Dalam sebuah pernyataannya, polisi berdalih penggerebekan dilakukan setelah Apple Daily menerbitkan 30 artikel koran yang menuntut penjatuhan sanksi terhadap Hong Kong dan Cina.
Iklan
Aksi tersebut selaras dengan laporan Reuters dari Mei silam, yang melaporkan Menteri Keamanan John Lee mengancam dua bank, HSBC dan Citibank, akan mendakwa pegawainya dengan ancaman kurung tujuh tahun jika kedapatan mengizinkan transaksi dengan Jimmy Lai.
Kasih Sayang Tuhan di Tengah Demonstrasi Hong Kong
Pendeta Alan Keung terjun langsung ke dalam protes di wilayah administratif khusus Cina ini. Ia tawarkan segala bantuan yang dibutuhkan termasuk doa, ceramah, dan pembasuh mata akibat gas air mata.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Dari mimbar turun ke jalan
Alan Keung adalah salah satu dari beberapa pendeta yang mencoba membantu para demonstran di Hong Kong. Sering kali ia melakukan ini di tengah suasana yang memanas. Dalam foto, terlihat ia menenangkan seorang pejalan kaki yang marah dan memaki pengunjuk rasa karena memblokade jalan. "Misi saya adalah membawa cinta kepada orang banyak," ujar Keung.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Kenakan helm, rompi keselamatan, dan kerah pendeta
Agar mudah dikenali dan untuk perlindungannya, Keung menggambar tanda salib di helmnya. Dia juga mengenakan rompi berwarna kuning neon. Laki-laki berusia 28 tahun itu telah bergabung dengan tim penolong yang bekerja sukarela. Mereka utamanya membantu orang untuk mencuci mata mereka dari gas air mata. Jika ada yang butuh dukungan spiritual, Keung juga menyediakan waktu untuk berdoa singkat.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Melawan rasa sakit
Bersama relawan lain, Keung membantu seorang pejalan kaki yang terkena gas air mata untuk mencuci matanya. Polisi Hong Kong menggunakan gas air mata, semprotan merica, dan meriam air untuk mengatasi kerusuhan. Sedangkan demonstran menyerang petugas keamanan dengan alat pembakar serta busur dan panah.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Pertolongan untuk semua
Ketika sedang bertugas, Keung tidak berada di pihak mana pun. "Kadang-kadang kami membantu polisi yang terluka dan membutuhkan pertolongan." Pada bulan Juli, setelah terjadinya serangan di stasiun kereta, kelompok relawannya membantu pasukan keamanan dan melindungi mereka dari penumpang yang marah.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Di antara dua kubu
Yang dikerjakan Keung bukannya tanpa bahaya. Dia sendiri sudah pernah merasakan pedihnya gas air mata. Baru-baru ini, kerusuhan pecah di Hong Kong, terutama di Universitas Politeknik. Polisi mengancam akan menggunakan peluru tajam. Sebelum pemilu, pemerintah mengawasi situasi dengan ketat untuk memastikan pemilihan lokal yang dijadwalkan pada akhir pekan (24/11) bisa berlangsung aman.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
"Bukan tipe orang yang tinggal diam di gereja"
Keung telah menjadi pendeta di sebuah komunitas yang terdiri dari sekitar 30 orang di wilayah timur laut Hong Kong selama tujuh tahun. "Saya bukan seseorang yang hanya diam di gereja dan berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, dan moralitas tetapi mengabaikan apa yang terjadi di luar," katanya. "Saya ingin berada di tengah massa saat dibutuhkan."
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
"Kalian masing-masing terlibat"
Pengalaman dan pelajaran yang didapat dalam protes itu, kadang juga terbawa di dalam khutbahnya. Di sini, ia bersama para siswa seusai waktu berdoa di atap gedung sebuah gereja, mengatakan: "Jangan kalian merasa kalian bukan bagian dari (protes) itu," katanya."Masing-masing dari kalian adalah masa depan Hong Kong dan dunia, kalian masing-masing terlibat." (ae/rap)
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
7 foto1 | 7
Akibatnya perusahaan kian sulit menggunakan layanan keuangan internasional. "Kita tidak bisa lagi bekerja sama dengan bank," kata Simon, sembari menambahkan sejumlah agen berusaha mengontak bank untuk melaksanakan transaksi bagi Apple Daily, tapi ditolak.
Sebuah sumber Reuters yang dekat dengan pemerintah mengabarkan Apple Daily sudah mengirimkan surat pribadi kepada John Lee untuk memohon pencairan aset. Menurut Simon, saat ini perusahaan mempekerjakan sekitar 600 orang wartawan. "Bagi mereka yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah keselamatan pribadi," bukan uang.
"Setelah semua ini, komunitas bisnis akan harus mengakui bahwa sebuah perusahaan swasta diberedel dan dilucuti oleh rezim komunis di Hong Kong," imbuhnya. "Ini adalah hal besar."