Presiden Taiwan Lai Ching-te ingin gelar pembicaraan langsung dengan Cina. Menurut Lai, perang tidak akan menghasilkan pemenang. Namun juga menegaskan Taipei akan terus memperkuat pertahanan.
Presiden Taiwan Lai Ching-teFoto: Cheng Yu-chen/AFP/Getty Images
Iklan
Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa negaranya menginginkan perdamaian dan dialog dengan Cina, sembari menekankan pentingnya memperkuat pertahanan nasional. Pernyataan ini disampaikan Lai pada Selasa (20/5), bertepatan dengan satu tahun masa jabatannya sebagai kepala negara.
Cina sejauh ini menolak tawaran dialog dari Lai, yang oleh Beijing dilabeli sebagai "separatis." Sementara itu, Lai menolak klaim kedaulatan Tiongkok atas Taiwan, dan menegaskan, masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya sendiri.
Pemerintah Taiwan sebelumnya memperingatkan kemungkinan digelarnya latihan militer oleh Cina, untuk menandai peringatan satu tahun pemerintahan Lai. Namun dalam pernyataan kepada pers di Kantor Kepresidenan di pusat kota Taipei, Lai menyampaikan pesan damai.
"Saya juga berkomitmen pada perdamaian. Karena perdamaian tidak ternilai harganya, dan perang tidak pernah menghasilkan pemenang. Namun dalam upaya mengejar perdamaian, kita tidak bisa hidup dalam mimpi atau ilusi," ujar Lai.
MNEK: Latihan Non-Perang di Bali untuk Redakan Tensi Laut Cina Selatan
02:06
This browser does not support the video element.
Siap dan siaga
Lai menambahkan, Taiwan akan terus memperkuat sistem pertahanannya karena, menurutnya, persiapan menghadapi perang justru merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya konflik.
Iklan
"Saya juga ingin menegaskan kembali, Taiwan terbuka untuk menjalin pertukaran dan kerja sama dengan Cina selama dilakukan dengan saling menghormati. Mari gunakan pertukaran ketimbang pengepungan, dan dialog daripada konfrontasi," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Kantor Urusan Taiwan di Cina belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.
Pekan lalu, Kementerian Pertahanan Cina menyebut Lai sebagai "pemicu krisis Selat Taiwan" yang telah meningkatkan ketegangan dan merusak stabilitas kawasan.
Selain tekanan dari Beijing, Lai juga menghadapi tantangan dari kemungkinan pengenaan tarif oleh Amerika Serikat yang saat ini tengah ditangguhkan. Namun dia menyebut pembicaraan dengan Washington berjalan "lancar.”
Menengok Kamp Pelatihan Unit Angkatan Laut Paling Elit Taiwan
Diterima di unit elit Pengintaian dan Patroli Amfibi Taiwan (ARP) sama sulitnya dengan menjadi pasukan SEAL Angkatan Laut Amerika Serikat. Para kandidat harus lolos ujian dan pelatihan berat selama beberapa pekan.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Tangguh seperti pasak baja
Program pelatihan bagi mereka yang ingin bergabung dengan unit angkatan laut elit Taiwan berlangsung selama 10 minggu. Tahun ini, 31 peserta lolos tes untuk mengikuti program ini, tetapi hanya 15 orang yang akan diterima. Di pangkalan angkatan laut Zuoying di Taiwan selatan, tubuh dan jiwa benar-benar diuji — satu latihan mengharuskan peserta tidur di atas beton yang dingin.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Disiram air dingin
Setelah menghabiskan sepanjang hari di laut, peserta pelatihan disiram dengan air dingin. Lelah dan gemetar, mereka berdiri di dermaga. Tujuan dari kamp pelatihan ini adalah untuk menempa para peserta mengembangkan kemauan yang kuat. Tidak peduli seberapa sulit misi mereka, kesetiaan terhadap rekan-rekan mereka, dan angkatan laut harus teguh.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Latihan berat di pantai
Yu Guang-Cang ikut dalam latihan di pantai. Sepintas terlihat seperti latihan senam bis. Namun, sebetulnya peserta melakukan latihan berat, mulai dari "long march" hingga berjam-jam dan latihan di dalam air. Instruktur mereka memiliki reputasi sebagai orang yang tegas tanpa kompromi. Waktu istirahat pendek dan jarang. Sering kali hanya ada waktu untuk minum seteguk dan ke toilet.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Cat perang
Seorang peserta pelatihan berjuang melawan kelelahan saat dia diolesi cat kamuflase. Semua peserta ikut secara sukarela. Kebanyakan ingin menguji coba batas ketangguhannya. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mensimulasikan tantangan berat perang. Komandan angkatan laut mengharapkan, para peserta dapat difungsikan ketika keadaan menjadi sangat gawat.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Hanya semangat baja yang lulus
Para kandidat menghabiskan sebagian besar waktu mereka di laut atau kolam renang. Mereka harus belajar menahan napas untuk waktu yang cukup lama, berenang dengan peralatan tempur lengkap, dan menyerbu pantai dari laut. Sering kali untuk aksinya kaki dan tangan mereka diikat. Latihan ini bukan untuk mereka yang cengeng.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Mendekati batas peregangan
Para peserta tidak hanya harus lulus tes kekuatan dan daya tahan, mereka juga menghadapi beberapa latihan peregangan ekstrem. Ou Zhi-Xuan yang berusia 25 tahun menangis kesakitan saat dia diregangkan mendekati batas kelenturan. Jika ada yang melawan instruktur saat berada di bawah tekanan berat, mereka segera dikeluarkan dari program ARP.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Dihina dan dilecehkan
Tentu saja, para kandidat harus berlatih sambil mengenakan perlengkapan tempur. Mereka harus menghadapi semburan pelecehan dan penghinaan dari instruktur unit elit angkatan laut. Pesrta mendapat istirahat satu jam setiap enam jam. Selama waktu ini, mereka harus makan, biasanya bawang putih untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, mendapatkan bantuan medis, pergi ke toilet, dan tidur.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Jalan berbatu menuju surga
Latihan terakhir disebut "jalan menuju surga." Peserta pelatihan harus mengatasi rintangan yang unik. Mereka dipaksa untuk merangkak, praktis telanjang, di jalan berbatu, dan melakukan push-up, meskipun mereka sudah lelah dari minggu-minggu sebelumnya. "Saya tidak takut mati," kata salah satu peserta pelatihan, Fu Yu, 30 tahun.
Foto: ANN WANG/REUTERS
Diberi selamat dengan bunyi lonceng
Xu De-Yu menandai akhir dari kamp pelatihan ARP dengan membunyikan lonceng. Dia adalah salah satu yang "beruntung" lulus ujian. "Tentu saja, kami sama sekali tidak akan memaksa siapa pun, semua orang ada di sini secara sukarela," tegas instruktur Chen Shou-lih, 26. Pesannya kepada para peserta: "Kami tidak akan menyambut Anda bergabung begitu saja, hanya karena Anda ingin datang." (rs/as)
Foto: ANN WANG/REUTERS
9 foto1 | 9
Ekonomi perkuat pertahanan
Di bidang ekonomi, pemerintah Taiwan berencana membentuk dana kekayaan negara guna memperkuat sektor teknologi.
"Pemerintah akan membentuk dana kekayaan negara sebagai platform investasi nasional, yang memaksimalkan kekuatan industri Taiwan melalui kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta," jelas Lai tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Usai konferensi pers, Lai menghadiri pembukaan pameran teknologi Computex yang tengah berlangsung, di mana CEO Nvidia kelahiran Taiwan, Jensen Huang, menjadi pusat perhatian.
Lai menyempatkan diri mengunjungi stan beberapa mitra dan pemasok Nvidia seperti Foxconn dan Mediatek, serta berdialog dengan para eksekutif senior perusahaan tersebut.
Sebagai catatan, Cina pada bulan lalu menggelar latihan militer bertajuk "Strait Thunder-2025A" di sekitar Taiwan, dengan akhiran "A” yang mengindikasikan kemungkinan latihan lanjutan.
Sebelumnya, setelah pelantikan Lai pada Mei 2024, Cina mengadakan latihan militer "Joint Sword-2024A" dan kembali melakukan latihan "Joint Sword-2024B" pada Oktober tahun yang sama.
Sementara itu, dalam laporan harian aktivitas militer Cina, Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir telah terdeteksi enam pesawat dan 11 kapal militer China di sekitar wilayah pulau tersebut.