Tajuk Enam Bulan Sarkozy
17 Desember 2008
Persepsi mengenai kepresidenan Perancis di Dewan Eropa berkembang seiring dengan kesan internasional terhadap Nicolas Sarkozy. Di Perancis, para pemilihnya tahu apa yang dapat mereka harapkan. Seorang lelaki pesolek berukuran tubuh tak seberapa besar, tapi energetis dan penuh rencana besar bagi negaranya. Tak saja di dalam negeri, julukan "Speedy Sarko" melekat pada sosok yang selalu mendorong tindakan cepat. Ada yang menyukainya, ada yang tidak. Tapi paling tidak, ia memenuhi gambaran yang mereka miliki. Namun bintang itu mulai pudar. Perubahan yang berlangsung begitu cepat, sesuai dengan julukannya.
Kisah kasihnya dengan Carla Bruni, gaya hidup mewah tanpa tedeng aling-aling dan kesombongannya menohok rasa santun warga Perancis. Sementara itu, upaya mereformasi Perancis tampak terseok-seok. Hanya cerdik, hanya citra, tapi tak berbobot. Warga Perancis pun berpaling darinya.
Hal-hal inilah yang mengiringi awal kepresidenan Perancis di Dewan Eropa. Di Eropapun, Sarkozy muncul dengan sejumlah rencana besar. Dengan megah, ia gulirkan konsep negara-negara Uni Lautan Tengah. Sedangkan di bidang perlindungan iklim global dan politik imigrasi, seringnya ia hanya menebar pernyataan. Namun tak selang lama pecah perang Kaukasus, kemudian krisis keuangan dan ekonomi global. Dan semua kembali berubah. Tiba-tiba tampaklah, bahwa Sarkozy mampu menghadapi tantangan besar.
Dalam perang antara Georgia dan Russia ia bertindak cepat dan tegas. Tak semua yang diinginkannya berhasil, tapi perang itu terhenti. Hal yang mengagumkan. Usai negosiasi semua pihak menarik nafas lega, karena yang duduk di meja perundingan adalah Sarkozy, dari Perancis, sebuah negara yang berpengaruh .
Pun dalam krisis keuangan dan ekonomi global. Meskipun setiap negara, kepala negara, komisi dan bank sentral terlibat, Sarkozy bertindak cepat mengkoordinasi, menggerakan dan mempromosikan solusi yang disepakati.
Dalam hal-hal rutin, Sarkozy seadanya. Namun tampaknya ia justru bersinar di saat krisis. Memang hanya kebetulan saja bahwa krisis ini terjadi pada masa kepemimpinannya. Inilah yang menyebabkan pengalaman enam bulan terakhir juga merupakan pembelaan bagi tuntutan untuk sebuah reformasi institusional. Uni Eropa membutuhkan satu orang di pucuk pimpinan, yang mengisi jabatan itu untuk waktu yang lebih lama, yang cukup berpengaruh, guna meningkatkan bobot Uni Eropa di dunia.(ek)