1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Russland Westen

Ingo Mannteufel21 Agustus 2008

Rusia telah dikenal sebagai partner yang sulit. Dan akan tetap seperti itu. Rusia sudah bertahun-tahun merasa harus melindungi Abkhazia dan Ossetia Selatan.

Montase foto, Sekjen NATO Jaap de Hoop dan Presiden Rusia Dmitry MedvedevFoto: AP / PD / DW

Konflik Georgia memperburuk hubungan antara negara-negara anggota NATO, yang mewakili pihak Barat, dan Rusia. Tanda-tanda eskalasi ketegangan sangat jelas: Forum dialog NATO dan Rusia dibekukan hingga pasukan Rusia ditarik dari wilayah Georgia.

Sebaliknya Rusia menarik perwakilannya di NATO dan membatalkan semua rencana latihan perang dengan NATO untuk tahun ini. Dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa tidak tercapai kesepakatan tentang resolusi Georgia, dan di Warsawa, Amerika Serikat dan Polandia menandatangani kesepakatan penempatan sistem penangkis rudal, yang bagi Rusia dianggap sebagai suatu ancaman.

Buruknya hubungan negara-negara Barat dan Rusia semakin diperpanas dengan diskusi yang terus berlangsung dalam masyarakat. Khususnya di Polandia dan kawasan tengah Eropa Timur, Rusia ditampilkan sebagai kekuatan imperialis yang agresif. Seakan-akan pemerintah di Moskow tengah bersiap untuk menyerang bekas negara-negara Uni Soviet dan anggota pakta Warsawa.

Memang invasi pasukan Rusia ke Georgia dan serangan udara ke wilayah di luar Ossetia Selatan adalah hal yang benar-benar berlebihan. Rusia bertindak terlalu jauh. Sehingga Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa berhak menuntut agar Rusia mengkoreksi tindakan tersebut. Tetapi memberikan reaksi dengan cara yang sama tidak masuk akalnya adalah hal yang salah.

Rusia telah dikenal sebagai partner yang sulit. Dan akan tetap seperti itu. Rusia sudah bertahun-tahun merasa harus melindungi Abkhazia dan Ossetia Selatan. Upaya Saakashvili untuk kembali menguasai wilayah Ossetia Selatan dengan cara militer sejak awal merupakan usaha yang berbahaya dan berakhir dalam bencana politik dan kemanusiaan.

Kini yang dituntut adalah real politik terhadap Rusia. Tetapi Moskow tidak dapat dibiarkan berlaku semaunya di Georgia. Kemerdekaan Georgia dan integritas wilayahnya harus dilindungi. Ini sesuai dengan harapan Eropa akan perdamaian dan stabilitas di wilayah Eropa.

Di waktu bersamaan, terus-terusan menyalahkan Rusia dan menjalankan politik tidak jelas juga tidak membantu. Bagaimana pun juga kerjasama dengan Rusia adalah hal penting. Seperti dalam hal persediaan energi, masalah program atom Iran, pembangunan kembali Afghanistan, serta konflik di Timur Tengah dan Korea Utara.

Konflik Kaukasus tidak boleh hanya menjadi poros dalam membentuk kembali hubungan Barat dengan Rusia. Dengan mempertimbangkan kepentingan Rusia dalam konflik Kaukasus bukan berarti tunduk terhadap politik Rusia. Ini merupakan gaya politik cerdas Eropa yang juga memenuhi kepentingannya. Politik nyata yang keras adalah satu-satunya yang dimengerti oleh politik Rusia.