Pada 2018-2019, sebelas orang tewas akibat hantavirus di Argentina, tetapi penyebarannya mampu dicegah. Kejadian di MV Hondius juga diyakini dapat dihentikan.
Perlu waktu sekitar lebih dari tiga minggu setelah kematian pertama hingga virus hantavirus dikonfirmasi pada MV HondiusFoto: Hannah McKay/REUTERS
Kapal pesiar bernama MV Hondius itu jadi tempat hantavirus menyebar. Saat artikel ini ditulis, virus itu telah menewaskan sedikitnya tiga orang dan menginfeksi beberapa lainnya dari April hingga Mei 2026.
Kapal tersebut telah berlabuh di Pelabuhan Granadilla, Tenerife, Spanyol. Dari sana, penumpang dan awak kapal dengan total 147 orang dipulangkan ke negara asal mereka, termasuk Jerman, Prancis, dan Australia.
Kekhawatiran warga turut diamini oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam suratnya kepada warga Tenerife, Spanyol, pada 9 Mei 2026.
"Saya tahu Anda khawatir," tulisnya.
"Saya tahu ketika Anda mendengar kata 'wabah' dan menyaksikan sebuah kapal berlayar menuju pantai Anda, ingatan-ingatan yang belum sepenuhnya kita lupakan akan muncul kembali," sambungnya.
Dua tahun sudah Indonesia berjibaku memerangi pandemi COVID-19. Indonesia pun jadi salah satu negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di Asia. DW merangkum fakta-fakta tentang penyebaran virus corona di Indonesia.
Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden
Kasus pertama mucul pada 2 Maret 2020
Tanggal 2 Maret 2020, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo didampingi Menkes kala itu Terawan Agus Putranto umumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Dua perempuan asal Depok yakni seorang ibu (64) dan putrinya (31) dilaporkan positif COVID-19 setelah diduga tertular WNA asal Jepang. Kala itu Menkes Terawan mengimbau masyarakat tak panik. "Enjoy saja, makan yang cukup," ujarnya.
Foto: DW/P. Kusuma
Menteri pertama positif COVID-19
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi jadi pejabat negara pertama yang terkonfirmasi positif COVID-19 pada pertengahan Maret 2020. Edhy Prabowo yang saat itu masih menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan juga dikabarkan positif COVID-19, begitu juga dengan Fachrul Razi saat masih menjabat Menteri Agama. Terakhir, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah juga positif COVID-19 pada awal Desember 2020.
Foto: picture alliance/AA/E. S. Toyudho
Bukan lockdown
Pada 31 Maret 2020, bertempat di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang diatur secara rinci dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020. Setiap daerah dapat mengajukan penerapan PSBB yang nantinya disetujui oleh Menteri Kesehatan RI. Tampak pada gambar salah satu stasiun MRT di Jakarta ditutup selama PSBB.
Foto: DW/A. Muhammad
Langkah 'extraordinary'
Dalam rapat terbatas pada 18 Juni 2020 di Istana Merdeka, Jokowi menegaskan jajarannya untuk bekerja lebih dari "biasa-biasa saja" mengacu kepada situasi darurat pandemi COVID-19 saat ini. Ia mengatakan belanja kementerian, salah satunya Kementerian Kesehatan tergolong rendah padahal anggaran sebesar Rp 75 triliun sudah disediakan. Jokowi juga mengancam akan melakukan reshuffle kabinet.
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr
Vaksin Merah Putih
Indonesia sendiri tengah mengembangkan vaksin virus corona melalui tiga institusi yang dipunya salah satunya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Dalam wawancara eksklusif dengan DW Indonesia, Kepala LBM Eijkman Prof. Amin Soebandrio mengatakan pihaknya tengah memetakan tipe virus corona yang ada di Indonesia. Ia optimis vaksin siap diproduksi massal pada tahun 2021 setelah lalui proses uji klinis.
Foto: Eijkman Institute
Kalung Antivirus Corona
Awal bulan Juli 2020, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) merilis produk kalung Eucalyptus yang diberi nama "Kalung Antivirus Corona''. Kalung berisi Eucalyptus (kayu putih) ini diklaim dapat berpotensi membunuh virus corona penyebab COVID-19. Kalung ini pun menuai tanggapan beragam dari berbagai pihak. Mentan Syahrul Yasin Limpo menyatakan siap memproduksi massal kalung tersebut.
Foto: DetikHealth/A. Reyhan
Kluster baru bermunculan
Kenaikan kasus COVID-19 pun dilaporkan di berbagai tempat. Pada 9 Juli 2020, Indonesia mencatat kasus harian 2.657 kasus positif. Dari angka tersebut diketahui sebanyak 1.262 kasus dari Secapa AD di Hegarmanah, Kota Bandung. Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito pada akhir Novermber 2020 mengatakan semakin marak timbul kluster baru COVID-19 di berbagai daerah di Indonesia.
Foto: Reuters/Beawiharta
Uji klinis di Bandung
Bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi asal Cina, Sinovac, Indonesia melalui PT Bio Farma tengah melakukan uji klinis tahap tiga vaksin corona mulai awal Agustus tahun ini. Lokasi uji klinis di enam titik kota Bandung. Sebanyak 1.620 relawan dilibatkan dalam pengembangan vaksin, tak terkecuali Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Presiden Joko Widodo (kiri) saat mengunjungi PT Bio Farma (11/08).
Foto: Presidential Secretariat Press Bureau
Pilih vaksin Sinovac asal Cina
Pada 7 Desember 2020 Indonesia menerima 1,2 juta dosis vaksin Sinovac buatan Cina. Kemudian pada 31 Desember 2020 Indonesia kembali menerima 1,8 juta dosis vaksin Sinovac. Pada 11 januari 2021 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya resmi memberikan izin darurat penggunaan vaksin tersebut. Berdasarkan evaluasi BPOM menunjukkan efikasi (kemanjuran) vaksin Sinovac mencapai 65,3 persen.
Foto: Presidential Palace/REUTERS
Vaksinasi perdana 13 Januari 2021
Presiden Joko Widodo jadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin corona. Bertempat di Istana Negara, Jokowi disuntik vaksin Sinovac pada Rabu (13/01), pukul 09.42 WIB oleh Wakil Ketua Tim Dokter Kepresidenan Prof. Abdul Muthalib. Selain Jokowi, Panglima TNI, Kapolri, Ketua IDI, tokoh agama, dan juga influencer turut mengikuti vaksinasi ini.
Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden
Lebih dari 14 ribu kasus dalam satu hari
Kasus harian baru COVID-19 terus bertambah. Tercatat jumlah kasus terkonfirmasi virus corona bertambah 6.680 kasus pada 1 Maret 2021. Sebelumnya, Indonesia sempat memecahkan rekor dengan 14.518 kasus dalam satu hari pada 30 Januari 2021. Hingga kini, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus positif kumulatif COVID-19 terbanyak, sedikitnya 339.735 kasus. Disusul Jawa Barat dengan 211.212 kasus.
Foto: picture-alliance/NurPhoto/A. Raharjo
Vaksinasi tahap kedua
Setelah melakukan vasinasi tahap pertama kepada sedikitnya 1,46 juta tenaga kesehatan, Indonesia melakukan vaksinasi tahap kedua yang menyasar lansia dan pekerja publik. Dalam foto tampak Presiden Joko Widodo saat meninjau pelaksanaan vaksinasi terhadap sekitar 5.500 pekerja media di Hall A Basket Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, 25 Februari 2021.
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Tertinggi di Asia Tenggara
Hingga awal Maret 2021, Indonesia menjadi negara dengan kasus positif COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara dan tertinggi ke-4 di Asia. Selain itu, kasus kematian di Tanah Air juga menjadi yang tertinggi ke-3 di Asia, di bawah India dan Iran. Sedikitnya tercatat 36 ribu kematian COVID-19 di negara berpenduduk 270 juta jiwa ini.
Foto: picture-alliance/Zumapress/Sijori Images
Varian Delta asal India sempat dominasi kasus aktif di Jakarta
Virus corona terus bermutasi dalam banyak varian. Varian B.1.617 atau Delta jadi varian yang sempat mendominasi 90% kasus aktif di Jakarta pada Juli 2021. Pertama kali teridentifikasi di India pada akhir 2020. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat kasus perdana varian Delta di Indonesia pada Mei 2021.
Foto: Jam Sta Rosa/AFP
Varian Omicron terdeteksi Desember 2021
Seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet Jakarta terkonfirmasi sebagai pasien 0 dari transmisi lokal Omicron pada 16 Desember 2021. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan lima kasus probable COVID-19 varian Omicron. Dua kasus tersebut di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI), sedangkan tiga orang lainnya merupakan WN Cina.
Foto: DADO RUVIC/REUTERS
Vaksinasi booster COVID-19
Presiden Jokowi mengumumkan pemberian vaksinasi booster gratis mulai 12 Januari 2022 untuk seluruh masyarakat Indonesia. Prioritas diberikan pada usia lanjut dan kelompok rentan. Namun, vaksin booster juga bisa didapatkan semua warga berusia 18 tahun ke atas yang sudah mendapat vaksin dosis lengkap minimal 6 bulan. Vaksinasi dilaksanakan di fasilitas kesehatan milik pemerintah. (rap/vlz, mh/ha)
Foto: Chaider Mahhyuddin/AFP/Getty Images
16 foto1 | 16
Pelajaran dari pengendalian wabah hantavirus di Argentina 2018-2019
Namun, ada perbedaan signifikan antara Covid-19 dan hantavirus.
"Hantavirus, termasuk virus Andes, secara fundamental berbeda dari coronavirus," kata Roman Wölfel, kepala Institut Mikrobiologi Bundeswehr, kepada DW. "Virus ini bisa menular dari orang ke orang, tetapi jauh lebih sulit dan hanya melalui kontak yang sangat dekat."
Ketika coronavirus SARS-CoV-2 muncul pada 2019 dan menyebabkan Covid-19, baik ilmuwan kesehatan masyarakat maupun tenaga kesehatan belum pernah melihatnya sebelumnya. Tidak ada yang tahu virus tersebut, seberapa cepat penyebarannya, hingga cara menghentikan atau mengobatinya.
Hantavirus, di sisi lain, sudah dikenal sejak 1993.
WHO: Hantavirus Tidak seperti COVID
00:37
This browser does not support the video element.
Kemudian, karena virus ini diketahui menyebabkan infeksi paru-paru yang disebut Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Sindrom Paru Hantavirus, langkah-langkah jaga jarak yang tepat langsung diterapkan di kapal, begitu tes laboratorium mengonfirmasi virus ini menyebabkan dua kematian pertama.
Sebuah analisis terhadap wabah hantavirus di Argentina pada November 2018 menunjukkan betapa efektifnya langkah-langkah pengendalian dasar, seperti jaga jarak sosial, dalam memperlambat penyebaran infeksi dari orang ke orang.
Saat pandemi Covid-19 terjadi, publik tidak memiliki pengetahuan terkait virus tersebut. Bahkan hingga hari ini, masyarakat dunia juga masih belum tahu persis dari mana virus itu berasal.
Dalam makalah yang diterbitkan pada 2020, para peneliti menjelaskan bagaimana kecepatan penularan virus Andes, varian yang sama dengan yang ada di kapal pesiar MV Hondius, berkurang setengahnya ketika "pejabat kesehatan masyarakat memberlakukan isolasi terhadap orang-orang dengan kasus terkonfirmasi dan karantina mandiri untuk kontak yang mungkin terpapar" selama wabah 2018-2019 di Argentina.
Langkah-langkah pengendalian diberlakukan setelah pihak berwenang mengonfirmasi 18 orang terinfeksi virus Andes dalam sebuah pertemuan massal.
"Langkah-langkah ini kemungkinan besar membatasi penyebaran lebih lanjut," tulis para peneliti dalam New England Journal of Medicine. "Angka reproduksi median (jumlah kasus sekunder yang disebabkan oleh orang yang terinfeksi selama periode infeksius) adalah 2,12 sebelum langkah-langkah pengendalian diberlakukan dan turun menjadi 0,96 setelah langkah-langkah tersebut diterapkan."
Iklan
Situasi di MV Hondius berbeda dengan kejadian di Argentina
Dalam kasus MV Hondius, langkah-langkah pengendalian membutuhkan waktu lebih lama untuk diberlakukan, meskipun jumlah kasus yang diketahui lebih sedikit dibanding wabah di Argentina, yakni tujuh kasus terkonfirmasi dan dua kasus dugaan, per 11 Mei 2026.
Setelah orang pertama meninggal pada 11 April, Oceanwide Expeditions, perusahaan yang mengoperasikan kapal, menyatakan bahwa baru pada 4 Mei hantavirus dikonfirmasi sebagai penyebab kematian. Itu dua hari setelah WHO diberitahu bahwa ada "klaster" orang terinfeksi di kapal.
Meski begitu, ketika MV Hondius berlabuh di Tenerife, sudah tidak ada keraguan tentang penyebab infeksi dan otoritas kesehatan Spanyol memastikan bahwa mereka mengambil "semua langkah" untuk mencegah penyebaran hantavirus.
Penumpang, awak kapal, dan otoritas kesehatan mengenakan masker wajah dan pakaian pelindung diri, sementara barang-barang pribadi dibawa dalam kantong tertutup rapat.
"Mengurangi kontak potensial dan penggunaan masker FFP2 untuk penumpang serta orang-orang yang mungkin berkontak dengan mereka selama prosedur turun dari kapal dan transportasi ke negara asal didukung oleh apa yang kita ketahui tentang virus ini," kata Giulia Gallo, peneliti di The Pirbright Institute, Inggris.
Dipercaya tidak seperti Covid-19
Meskipun kekhawatiran dapat dipahami, Wölfel mengatakan skenario serupa Covid-19 tidak mungkin terjadi.
"Tidak diharapkan bahwa virus Andes akan menjadi masalah global yang sesungguhnya. Ini tidak sebanding dengan influenza atau coronavirus SARS," katanya.
Secara umum, infeksi hantavirus relatif jarang terjadi secara global. Pada 2025, WHO mendokumentasikan 229 kasus dan 59 kematian di kawasan Amerika. Belum ada vaksin untuk penyakit menular ini.
Dilansir dari detik.com, Indonesia juga sempat mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis seoul dalam tiga tahun terakhir. Dari 23 pasien yang terpapar, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Case fatality rate (CFR) relatif tinggi dengan angka 13%. Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus. Selebihnya, pasien sudah dinyatakan sembuh.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris