1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAfganistan

Taliban Kuasai Jantung Panjshir, Perlawanan Berlanjut

6 September 2021

Taliban mengklaim berhasil menaklukan oposisi terakhir usai pertempuran dahsyat di Lembah Panjshir. Hal ini dibantah Front Perlawanan Nasional Afganistan (NRFA), yang mengakui kekalahan telak, tapi menolak untuk menyerah

Afghanistan, Panjshir | Widerstandskämpfer gegen die Taliban bei einem militärischen Training
Foto: Jalaluddin Sekandar/AP/picture alliance

Pertempuran hebat berlangsung sepanjang akhir pekan di Lembah Panjshir. Pasukan Taliban yang kabarnya dipimpin oleh Qari Fasihuddin, seorang komandan utara berdarah Tajik, merangsek dari pelbagai pintu masuk menuju lembah. Pada Senin (6/9) pagi, juru bicara Zabihullah Mujahid, mengklaim "benteng terakhir musuh telah dikuasai sepenuhnya," tulisnya via Twitter.

"Dengan kemenangan ini, negara kita akhirnya berpisah dari kengerian perang," katanya seperti dilansir AFP. Sebuah foto yang beredar di internet menampilkan bendera Taliban berkibar di kantor pusat pemerintah di ibu kota provinsi, Bazarak.

Pada Minggu (5/9) malam, Fron Perlawanan Nasional Afganistan (NRFA) yang dipimpin Ahmad Massoud dan bekas Wakil Presiden Abdullah Saleh, sempat menawarkan gencatan senjata. Pada saat itu kelompok oposisi sudah kehilangan sejumlah tokoh penting, antara lain juru bicaranya, Fahim Dashti, dan sejumlah komandan perang, termasuk dari keluarga dekat Ahmad Massoud seperti Jendral Wudod Zara, lapor NRFA.

Pasukan Fron Perlawanan Nasional Afganistan (NRFA) berlatih di Lembah Panjshir, 2/9.Foto: Ahmad Sahel Arman/AFP/Getty Images

Namun tawaran itu tidak digubris. Hingga pagi, pertahanan NRFA di Panjshir terus dibombardir, termasuk oleh serangan udara yang tidak jelas asal usulnya.

"Kami yakinkan kepada warga Afganistan bahwa perlawanan melawan Taliban dan mitra-mitranya akan terus berlanjut sampai keadilan dan kebebasan terwujud," kicau NRFA dalam bahasa Inggris di Twitter.

Panjshir yang enggan tunduk

Keberhasilan Taliban merebut Bazarak bukan berarti menguasai Panjshir seutuhnya. Kondisi geografis lembah yang diapit gunung-gunung tinggi mempermudah pasukan oposisi untuk bersembunyi. Strategi ini sukses digunakan oleh mendiang Ahmad Shah Massoud, yang menyintasi sembilan operasi militer Uni Sovyet terhadap Panjshir.

Antara 1981 hingga 1985, Sovyet berulangkali mengusir pasukan Massoud, untuk mendapati mereka kembali menguasai Panjshir segera setelah pasukan Sovyet keluar dari lembah. Sejak itu perang di Panjshir selalu dikenal sebagai yang paling berdarah di seantero Afganistan.

Ahmad Massoud, putra mendiang Ahmad Shah Massoud, komandan Panjshir.Foto: Mohammad Ismail/REUTERS

Saat ini pun NRFA belum mengaku kalah, melainkan mundur dan menempatkan serdadunya di "lokasi-lokasi strategis" di sepanjang lembah.

Namun pertumpahan darah lanjutan kini coba dicegah melalui negosiasi damai. Pada Minggu (5/9), media-media Afganistan melaporkan dewan ulama mendesak Taliban agar menyelesaikan konflik melalui prundingan. Hal serupa juga kini didesakkan oleh Iran, yang bereaksi sebagai negara asing pertama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Saeed Khatibzadeh, mengatakan, "kabar yang datang dari Panjshir benar-benar mengkhawatirkan," ujarnya. "Serangan itu kami kecam secara keras."

"Saya selalu tegaskan bahwa solusinya harus dicapai melalui dialog yang ikut melibatkan semua tetua masyarakat Afgan," imbuh Khatibzadeh."

Terkait dugaan kuat keterlibatan militer Pakistan dalam menyokong Taliban, termasuk melancarkan serangan udara terhadap Panjshir, Iran mewanti-wanti "kepada mereka yang mungkin akan melakukan kesalahan strategis yang masuk ke Afganistan dengan niatan yang berbeda, bahwa Afganistan bukan negara yang menerima agresi negeri asing di wilayahnya."

rzn/hp (afp, rtr, ap)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya