Tantangan Bagi Presiden Perancis Sarkozy
20 Maret 2009
Meski demonstrasi masal yang diikuti sekitar tiga juta orang dan pada titik tertentu telah melumpuhkan kegiatan masayarakat, pemerintah Perancis menolak mengeluarkan kebijakan baru untuk menanggulangi krisis eokomi- Perdana Menteri Francois Fillon mengatakan, tidak akan ada program stimulasi ekonomi baru- Dengan sikap keras ini pemerintah berisiko menghadapi aksi protes. Pada hari-hari belakangan berulang kali terjadi aksi unjuk rasa dengan kekerasan untuk menentang penutupan sejumlah perusahaan. Lebih dari 200 aksi unjuk rasa digelar hari Kamis (19/03). Menurut keterangan berbagai serikat kerja, sekitar 320. 000 demonstran turun ke jalan di Marseille dan 45. 000 di Lyon. Demonstrasi terbesar dicatat di ibukota Paris.
Sore hari di Place de la République, matahari bersinar cerah. Aksi unjuk rasa yang digelar, sedikit mengingatkan akan pesta rakyat. Ada yang membakar daging, ada stan Sandwich dan musik Reggae terdengar melalui pengeras suara dari berbagai kendaraan. Di atas para demonstran terlihat balon-balon besar melayang dengan nama serikat pekerja di Perancis, misalnya CFDT, SUD dan CGT. memang semua serikat pekerja Perancis mengikuti demonstrasi besar-besaran itu. Jeanine yang mengenakan pakaian dengan warna serikat pekerja CGT, adalah karyawan Kamar Dagang dan Industri Paris. Ia senang sekali melihat demonstrasi besar itu:
„Ini bisa menolong. Demonstrasi ini tidak akan mengubah semua, tapi orang-orang turun ke jalan. Mungkin politisi mengerti tekad kami. Mungkin akan terjadi perubahan. "
Semua serikat pekerja bersatu
Tuntutan para demonstran berkaitan dengan isu krisis ekonomi dan perubahan-perubahan yang ditetapkan oleh Presiden Sarkozy. Para pengunjuk rasa menuntut peningkatan upah, penurunan jumlah pemutusan hubungan kerja, tidak ada pengurangan karyawan dalam jawatan pelayanan publik, tidak ada campur tangan pemerintah di sekolah-sekolah dan universitas. Dan banyak lagi tuntutan-tuntutan lainnya yang terpancang di berbagai spanduk.
Hanya di Paris sekitar 85. 000 orang mengikuti demonstrasi, demikian keterangan kepolisian. Sedangkan serikat pekerja CGT menyatakan 350. 000 demonstran turun ke jalan. Tak peduli siapa yang benar dalam hal ini, Ketua CGT Bernard Thibault puas karena lebih banyak orang yang datang dibandingkan pada hari pemogokan nasional enam pekan yang lalu.
„Yang merupakan kekuatan dari gerakan ini, pertama-tama adalah sikap bersatu dari serikat-serikat pekerja dan jumlah demonstran yang hari ini turun ke jalan."
Karyawan swasta bergabung ikuti demonstrasi
Bulan Januari lalu demonstrasi terutama digelar oleh karyawan dinas layanan publik. Tetapi kali ini banyak karyawan dari perusahaan swasta dari seluruh Perancis yang mengikuti demonstrasi besar-besaran itu. Misalnya Fabienne Maridelle yang bekerja di perusahaan Jerman Siemens di Buc, pinggiran kota Paris, mengatakan, akibat skandal korupsi, kini ada rencana PHK yang akan menimpa ribuan pegawai. 280 pegawai di perusahaanya di Buc juga akan diPHK-kan.
Pegawai pemasok perusahaan otomotif Jerman, Continental, juga mengikuti aksi unjuk rasa hari Kamis (19/03). Mereka memang tahu bahwa penutupan pabrik Continental tidak lagi dapat dibatalkan, tapi para karyawan menuntut bantuan pemerintah jika masa tunjangan sosial berakhir. Dalam hal ini, pemerintah di Perancis jauh lebih nyata ditekan untuk menunjukkan tanggung jawabnya terhadap para pekerja daripada di Jerman. Ini bukan untuk pertama kalinya sejak Nicolas Sarkozy memangku jabatan sebagai presiden. Tapi karena Sarkozy setiap hari menyatakan berupaya menyelesaikan masalah-masalah individu, harapan untuk mendapatkan bantuan jadinya meningkat. Christian, seorang guru mengutarakan:
„Pemerintah sudah tentu harus melakukan sesuatu! Perusahaan minyak 'Total' misalnya, baru saja meraup keuntungan milyaran Euro. Tapi mereka tetap saja melakukan PHK. Perusahaan Lotto menyetor uang banyak sekali kepada negara. Ini kan bisa dibagi-bagi. Uang ada, tidak hanya untuk yang kaya, tetapi juga untuk warga yang bekerja dan tidak mampu."
Christian juga yakin bahwa demonstrasi hari Kamis lalu bukan yang terakhir. (cs)