1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

070808 Atomstreit Iran

7 Agustus 2008

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengupayakan solusi sengketa atom Iran. Namun, harapan untuk menuntaskan tarik ulur ini dengan cepat, sangat tipis.

Wakil Dirjen IAEA Olli Heinonen di Teheran, April 2008Foto: ISNA

Brussel sudah lama merasa frustasi menghadapi tarik ulur sengketa atom Iran. Semua pihak yang terlibat perundingan program atom Iran yang kontroversial memang harus siap merasa frustasi. Misalnya, Ollie Heinonen, wakil direktur jendral Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang Kamis (07/08) ini mulai berunding dengan Teheran.

Heinonen yang berwarga negara Finlandia sudah berulang kali berkunjung ke Teheran dengan segudang pertanyaan mengenai program atom Iran. Tampaknya, ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Iran. Hari-hari belakangan, pihak Iran lah yang terus merujuk pada rencana kunjungan Heinonen. Teheran seolah ingin menunjukkan bahwa mereka siap berdialog.

Namun, apa yang ditawarkan Iran tak dinilai cukup oleh kelompok enam negara yang selama ini berunding dengan Teheran. Kelompok yang terdiri dari lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa dan Jerman sepakat, untuk tidak memberi peluang pada Iran untuk mengembangkan senjata atom. Dan karena Teheran sampai sekarang tidak dapat menjamin hal itu, para perunding berencana untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Rabu (06/08), sejumlah petinggi politik membahas sengketa atom Iran melalui konferensi telpon. Usai pembicaraan tersebut, Menteri Luar Jerman Frank-Walter Steinmeier menyatakan, dialog akan dilanjutkan, tapi dengan suatu tenggat waktu. Bila Iran tetap menolak kompromi, maka sanksi terhadap negara itu diperketat. Juru bicara Menlu Steinmeier, Jens Plötner, menegaskan pentingnya kata sepakat antara keenam negara yang berunding dengan Iran:

"... kita harus bicara dengan satu suara, karena kami yakin, persatuan adalah senjata penting dalam menggolkan kebijakan politik kami dalam menghadapi sengketa atom Iran."´demikian ujar Plötner.

Saat ini, kebijakan enam negara dikoordinasikan di Brussel oleh Javier Solana, petugas urusan luar negeri Uni Eropa. Solana lah yang berhubungan langsung dengan juru runding Iran Jalili. Iran baru saja mendapat tawaran baru yaitu kerja sama di bidang ekonomi dan pertukaran teknologi, bantuan dalam membangun program nuklir untuk keperluan sipil. Syaratnya, Iran menghentikan pengayaan Uranium yang antara lain dapat digunakan sebagai bahan dasar senjata atom. Namun, Teheran belum menanggapi tawaran itu. Sebelum bertolak ke Iran Juli lalu, Solana mendesak Iran untuk menjamin, bahwa isu nuklir ini dituntaskan dengan memberi pegangan yang obyektif pada dunia internasional.

Solana pun merasa frustasi, demikian menurut kalangan yang dekat dengan petugas luar negeri Uni Eropa. Tapi, kemungkinan besar Solana akan kembali berunding dengan pihak Iran di hari-hari mendatang. Sementara itu, Amerika Serikat mendesak agar sanksi terhadap Iran kembali diperketat. PBB sudah tiga kali memberlakukan sanksi terhadap Iran, dan Teheran tak dapat memungkiri, sanksi tersebut berdampak pada Iran.

Para diplomat di Brussel harus mengakui bahwa tak banyak hal yang dapat digunakan untuk menekan Iran. Pemerintah Bush beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan militer. Tapi risiko sebuah aksi militer tak dapat diperkirakan, dan semua pihak tahu itu. Para pengamat politik Amerika menyatakan, bila Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika November mendatang, mungkin saja ia dapat membawa angin segar dalam debat kusir politik yang melelahkan ini. (zer)