1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Irak Iraner-Lager

29 Juli 2009

Kerjasama Irak dan Iran di sejumlah bidang tampaknya juga mencakup perang terhadap oposisi Iran. Salah satu satu kamp terbesar eksil Iran di Bagdad diambil alih Selasa (28/07) dengan kekerasan.

Penyerbuan itu merupakan salah satu isyarat paling kuat bahwa pengaruh Amerika Serikat di Irak mulai lenyap. Beberapa ratus tentara dan polisi Irak memasuki kamp Asraf, Selasa siang (28/07).

Di kamp yang terletak di Irak Tengah itu hidup sekitar 3.500 pengungsi politik Iran, mantan pejuang dan anggota dari Mujahidin Khalq atau Organisasi Mujahidin Rakyat Iran.

Rekaman gambar yang disiarkan stasiun televisi Mujahidin menunjukkan perlawanan penghuni kamp terhadap tentara Irak. Mereka menyerukan takbir, sementara tentara menggunakan pentungan dan sempotan merica.

Kementrian Pertahanan di Bagdad akhirnya mengumumkan, kamp kini dikuasai tentara Irak. Sekitar 300 warga Iran dan 100 tentara Irak luka-luka. Seorang juru bicara kementrian mengatakan, karena kamp tersebut berada di dalam wilayah Irak, maka pemerintah berhak menerapkan hukum Irak di sana.

Kamp Ashraf adalah yang terbesar dari sejumlah kamp Mujahidin Khalq di Irak.Kelompok ini dulu menikmati perlindungan dari Saddam Hussein, juga menerima senjata serta uang. Di wilayah Irak lah dilangsungkan latihan untuk menyerang Teheran.

Setelah jatuhnya Saddam, Mujahidin Khalq menyetujui perlucutan senjata. Tentara AS kemudian ditempatkan di luar kamp Ashraf, sebagai perlindungan, tetapi angkat kaki ketika akhir Januari lalu Irak mengambil alih tangungjawab keamanan di provinsi tersebut.

AS tidak mendapat pemberitahuan tentang serangan militer Irak Selasa lalu (28/07) di kamp Ashraf. Jendral Ray Odierno, komandan tertinggi AS di Irak mengatakan, tidak mendapat peringatan awal apapun.

Bahwa razia itu berlangsung saat kunjungan Mentri Pertahanan AS Robert Gates, dinilai para pengamat sebagai unjuk kedaulatan Irak, yang dilakukan secara sengaja. Selain itu ada dugaan, pemerintah Iran di Teheran bermain mata dengan Baghdad. Teheran menuduh Mujahidin Khalq punya andil besar dalam aksi protes hasil pemilihan presiden Iran.

Di mata warga Syiah Irak dan Kurdi, Mujahidin Khalq adalah tentara sewaan Saddam Hussein, yang juga terlibat dalam penumpasan perlawanan Syiah dan Kurdi tahun 1991. Di AS sendiri Mujahidin Khalq tertera dalam daftar organisasi teror.

Kelompok ini dibentuk tahun 60-an, memadukan ajaran Islam dan paham revolusioner marxis. Sejumlah laporan menyebutkan, kamp pelatihan kelompok itu ibarat Gulagnya Stalin. Situasi dan aturan mainnya seperti sekte.

Tidak diketahui nasib seperti apa yang kini menanti para penghuni kamp Ashraf. Pemerintah Irak sudah sejak lama ingin menyingkirkan para eksil Iran. Bahwa tentara AS selama bertahun-tahun melindungi kamp itu, ibarat duri dalam daging bagi Bagdad.

Cepat atau lambat Bagdad mungkin akan memindahkan para penghuni kamp tersebut ke Iran. Namun seorang juru bicara Kementrian Luar Negeri AS mengatakan, siapapun harus mematuhi ketentuan bahwa tidak seorangpun boleh dibawa, di luar keinginannya, ke negara dimana ia bisa mendapat penyiksaan.


Carsten Kühntopp/Renata Permadi

Editor: Ging Ginanjar