Oliver Hart dan Bengt Holmstrom raih Nobel Ekonomi 2016 atas kontribusinya pada teori kontrak. Keduanya memantapkan basis intelektual untuk desain kebijakan dan institusi pada spektrum luas.
Foto: Getty Images/AFP/J. Nackstrand
Iklan
Kontrak memberi efek pada semua anggota masyarakat. Tapi konstruksi kontrak terutama untuk manajer puncak amatlah rumit. Oliver Hart dari Inggris dan Bengt Holmstrom dari Finlandia, keduanya menjadi guru besar di Amerika Serikat, dengan teori kontrak yang mereka kembangkan membuka fundamen bagi desain kebijakan dalam spektrum luas mulai dari kebangkrutan legislasi hingga konstitusi politik.
Kekuatan Ekonomi Global Masa Depan
Cina diprediksi akan merajai perekonomian dunia tahun 2050 menurut Economist Intelligence Unit. Tapi kiprah negeri tirai bambu itu bukan temuan yang paling mengejutkan, melainkan posisi Indonesia.
Foto: Fotolia
1. Cina
Negeri tirai bambu ini berada di peringkat kedua daftar negara sesuai besaran Produk Domestik Brutto-nya (PDB). Cina tahun 2014 berada di posisi kedua, di bawah AS dengan 11,212 Triliun Dollar AS. Tapi pada tahun 2050, Economist Intelligence Unit memprediksi Cina akan mampu melipatgandakan PDB-nya menjadi 105,916 Triliun Dollar AS.
Foto: imago/CTK Photo
2. Amerika Serikat
Saat ini AS masih mendominasi perekonomian global. Dengan nilai nominal PDB yang berada di kisaran 17,419 Triliun Dollar AS per tahun, tidak ada negara lain yang mampu menyaingi negeri paman sam itu. Tapi untuk 2050 ceritanya berbeda. AS akan turun ke peringkat dua dengan nilai PDB 70,913 Triliun Dollar AS.
Foto: picture-alliance/dpa/J. F. Martin
3. India
Tahun 2050 India akan menikmati pertumbuhan konstan di kisaran 5%, menurut studi EIU. Saat ini raksasa Asia Selatan ini bertengger di posisi sembilan daftar raksasa ekonomi terbesar dunia dengan nilai PDB 2 Triliun Dollar AS. Tapi 35 tahun kemudian India akan merangsek ke posisi ketiga di bawah AS dengan pendapatan nasional sebesar 63 triliun Dollar AS.
Foto: Reuters/N. Chitrakar
4. Indonesia
Perekonomian Indonesia membaik setekah tiga kali bangkrut menyusul krisis moneter berkepanjangan. Saat ini Indonesia mencatat nilai nominal PDB sebesar 895 Miliar Dollar AS dan berada di peringkat 16 dalam daftar kekuatan ekonomi global. Tahun 2050, Econimist Intelligence Unit memproyeksikan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dengan PDB sebesar 15,4 Triliun Dollar AS.
Foto: picture-alliance/dpa
5. Jepang
Serupa AS, Jepang terpaksa turun peringkat di tahun 2050. Saat ini negeri sakura itu masih bertengger di posisi ketiga kekuatan ekonomi terbesar sejagad, dengan perolehan PDB sebesar 4,6 Triliun Dollar AS. 35 tahun kemudian, Jepang digeser oleh Indonesia dan terpaksa melorot ke peringkat lima dengan 11,7 Triliun Dollar AS.
Foto: AP
6. Jerman
Perekonomian Jerman banyak ditopang oleh sektor riil yang didominasi oleh industri padat karya. Tapi menurut EIU, justru sektor inilah yang akan banyak menyusut di masa depan. Jerman diyakini bakal kehilangan seperlima tenaga kerjanya pada 2050. Hasilnya, Jerman yang saat ini di posisi keempat dengan PDB sebesar 3,8 Triliun, akan merosot ke posisi enam dengan perolehan 11,3 Triliun Dollar AS.
Foto: imago/Caro
7. Brasil
Dari semua negara di posisi sepuluh besar, cuma Brasil yang tidak berubah. Saat ini raksasa Amerika Selatan itu berada di posisi tujuh dengan nominal PDB sebesar 2,3 Triliun Dollar AS. Di posisi yang sama Brasil bakal mencatat perolehan sebesar 10,3 Triliun Dollar AS tahun 2050.
Foto: picture-alliance/dpa/W. Rudhart
7 foto1 | 7
Komite Nobel menyebutkan Hart, profesor di Harvard University, dan Holmstrom, profesor di Massachussets Institute of Technology, mengembangkan teori yang amat penting bagi kita semua, untuk memahami beragam jenis kontrak dan institusi.
Per Stromberg dari Komite Nobel dalam konferensi pers mengatakan, teori yang dikembangkan kedua ilmuwan itu bahkan mampu membantu identifikasi menghindari potensi jebakan dalam desain kontrak.
Model yang dikembangkan Holmstrom mendemonstrasikan bagaimana kontrak terbaik sekalipun mengandung risiko melawan insentif. Aplikasi teori dalam tatanan realistis, antara lain termasuk promosi jabatan atau mereka yang hanya ikut membonceng di tempat kerja.
Nobel Ekonomi adalah satu-satunya penghargaan yang tidak digagas oleh industriawan Swedia dan penemu dinamit Alfred Nobel. Penghargaan digagas tahun 1969 oleh Bank Sentral Swedia atau Sveriges Riksbank sebagai penghargaan dan kenangan kepada Alfred Nobel.
Inilah Raja Bangkrut di Dunia
Indonesia pernah empat kali alami kebangkrutan, terutama sejak 1998. Tapi negara lain pernah mengalaminya hingga 11 kali. Inilah negara-negara yang paling sering bangkrut di dunia menurut catatan mingguan Der Spiegel.
Foto: Fotolia/Stefan Delle
Venezuela
Bersama Ekuador, Venezuela adalah negara yang paling sering alami kebangkrutan. Pertama kali karena perang 1826, negeri kaya minyak ini dinyatakan pailit sebanyak sepuluh kali. Terakhir Venezuela bangkrut tahun 2004 lantaran jatuhnya harga minyak, situasi politik di bawah Hugo Chavez dan tingginya arus dana keluar menyusul rendahnya kepercayaan investor.
Foto: REUTERS
Ekuador
Serupa dengan negeri jirannya, Ekuador bangkrut pertama kali saat perang kemerdekaan tahun 1926. Sejak itu negara yang banyak bergantung dari ekspor minyak dan produk pertanian ini mengalami pailit sebanyak sembilan kali. 2008 silam perekonomian Ekuador menyusut berkat krisis keuangan yang berkecamuk di dunia.
Sembilan kali dalam sejarahnya perekonomian Brasil ambruk. Tahun 1930-an negeri ini bangkrut dua kali akibat revolusi dan situasi politik yang bergolak. Pada dekade 1960an perekonomian Brasil juga dua kali ambruk lantaran situasi politik, kudeta militer dan kebijakan ekonomi nasionalistik yang menjadi bumerang. Terakhir negeri samba pailit pada tahun 1983 sebagai buntut resesi global.
Foto: AFP/Getty Images/Y. Chiba
Chile
Chile yang telah sembilan kali bangkrut banyak bereksperimen dengan perekonomiannya selama satu abad terakhir. Ada masanya ketika industrialisasi yang dipaksakan memukul sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi. Sejak dekade 1960- hingga 1980an, Chile mengalami enam kali pailit, hingga terakhir tahun 1983 sebagai buntut reformasi neoliberal yang dijalankan oleh rejim militer.
Foto: picture-alliance/dpa/F. Trueba
Costa Rica
Negara kecil di tepi laut Karibia ini pernah sembilan kali bangkrut sepanjang sejarahnya. Pada dekade 1980an, Kosta Rika bahkan tiga kali menyatakan diri pailit. Amerika Serikat dan Dana Moneter Internasional saat itu menyuntikkan tiga miliar US Dollar buat memompa perekonomian. Setelah melalui berbagai reformasi, Kosta Rika kini termasuk negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Amerika
Foto: picture alliance/Robert Harding World Imagery
Spanyol
Perekonomian Spanyol ambruk sebanyak delapan kali selama abad ke-19. Pemicunya adalah berakhirnya era kolonialisme. Spanyol yang kehilangan wilayah jajahannya, kewalahan menghadapi pengeluaran negara yang melonjak. Pada krisis zona Euro, Spanyol pun nyaris menghadapi kebangkrutan. Namun berbeda dengan Yunani, pemerintah di Madrid sukses menjalankan program pengetatan anggaran.
Foto: picture alliance/Bildagentur-online/Ohde
Jerman
Tidak ada negara lain yang lebih sering bangkrut karena perang ketimbang Jerman. Sepanjang sejarahnya negara di jantung Eropa ini pernah delapan kali mengalami pailit. Pengecualian muncul tahun 1932, ketika Jerman mengaku pailit menyusul depresi besar yang mendekap Eropa.