1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

'Babu' Cina

Yusi Pareanom21 Maret 2016

Meski Indonesia merupakan negara pluralistik, diskriminasi dan isu rasial masih menjadi momok yang menghantui masyarakat. Berikut tulisan Yusi Pareanom menyentil isu perbedaan itu.

Gambar ilustrasi
Foto: picture-alliance/dpa/A. Burgi

Sampai saya kelas lima SD, atau 1979, salah seorang teman terbaik saya adalah Wan, anak lelaki sepantaran yang tinggal tepat di sebelah timur rumah saya di Semarang. Saya tak pernah tahu nama lengkapnya dan saya kira ia pun demikian kepada saya. Kami belajar di sekolah yang berbeda.

Wan anak bungsu dari keluarga besar, kebanyakan kakaknya perempuan dan mereka cantik—saya masih terlalu ingusan untuk menyadarinya saat itu. Ini tak mengherankan karena ibu Wan berparas menarik. Ibu Wan perempuan Jawa, ayahnya Cina. Mereka berdagang kelontong di Pasar Langgar.

Keluarga Wan beberapa kali mendatangkan kegembiraan bagi kampung kami. Mereka pernah memutar film Charlie Chaplin di halaman samping rumah mereka dengan proyektor dan layar sederhana. Ada fim yang diputar ulang karena sambutan sangat meriah. Kegembiraan lain, kehadiran Enny Koesrini, penyanyi keroncong terkenal masa itu, pada acara keluarga Wan. Enny, yang kebetulan kakak ibu Wan, datang dan menyanyi. Orang kampung kami kagum: ada orang yang sudah masuk televisi kok mendadak ada di depan mereka.

Blogger, Yusi PareanomFoto: privat

Keluarga Wan juga "berperan" saat jalan kampung kami dicor beton oleh seorang laki-laki kulit putih paruh baya bertubuh besar yang kami panggil “Si Om”. Ia memacari Ci Sek, kakak Wan. Kebaikan hati Si Om tak cuma itu. Kepada warga di sebelah timur kali yang jalanannya tidak ia cor, ia memberikan puluhan ekor bebek. Ia juga disenangi anak-anak karena sering sekali mengajak mereka putar-putar kota dengan mobil bak terbukanya.

Ayah Wan meninggal dunia ketika Wan masih kelas 4 SD. Ia punya penyakit darah tinggi. Kalau kumat, ia sering main tangan sehingga istri dan anak-anaknya mengungsi ke rumah saya. Ayah saya Ketua RT yang cukup disegani, termasuk oleh orang yang sedang terkena serangan darah tinggi.

Pada masa itu, hampir setiap hari saya dan Wan bermain bersama. Karena Wan beberapa kali diberi orang tuanya karcis bebas yang bisa dipakai menonton film kapan saja, ia sering mengajak saya. Ajakan ini tak pernah saya lewatkan sekalipun saya juga sering menonton bersama keluarga. Biasanya kami menonton film-film silat produksi Shaw Brothers. Kami memuja Ti Lung, David Chiang, Fu Shen, Chi Kuan Chin, Wang Yu, Meng Fei, dan lain-lainnya. Setelah menonton, sepanjang perjalanan pulang kami menirukan jurus mereka dan tak jarang pura-pura berkelahi. Memukulnya sungguh-sungguh, tapi tak ada niatan jahat.

Setiap kali menonton ada teman lain yang ikut diajak. Tapi, karena untuk setiap tiket bebas hanya berlaku untuk empat lembar karcis, banyak anak yang tak kebagian kesempatan. Saya selalu diajak karena teman Wan paling dekat. Dari sinilah petaka bermula.

Anak-anak yang tak pernah diajak mulai mengejek saya sebagai babu Cina. Ejekan itu terus terlontar tiap kali saya bermain bersama Wan. Mula-mula saya membiarkannya. Ketika beberapa kerabat ikut mencemooh, saya tak tahan. Saya mulai menjauhi Wan. Tapi, ini tak cukup bagi bagi anak-anak lain. Maka, saya pun mulai ikut-ikutan meneriaki anak-anak yang masih bermain dengan Wan dengan ejekan yang dulu dilontarkan kepada saya: babu Cina.

Saya tahu Wan terluka dan marah. Tapi, tekanan untuk memusuhinya sedemikian besar sehingga suatu hari saya akhirnya mengajaknya berkelahi. Kami berkelahi hebat di depan anak-anak lain. Perkelahian berakhir dengan saling melempar batu sekepalan tangan. Untung sama-sama tidak kena. Belum pernah saya berkelahi semarah dan sesedih itu. Saya kira Wan juga demikian. Ibu Wan yang melerai kami juga menangis sedih dan marah. Sejak itu kami benar-benar tak bertegur sapa dan saling menghindar. Ia bisa dengan mudah menghindari saya karena rumahnya menghadap dua arah, kampung kami dan jalanan yang lebih besar. Tak lama setelah perkelahian kami, orang tuanya mulai membangun tembok tinggi sehingga rumah mereka hanya menghadap jalanan yang lebih besar.

Saya ingat pernah menegur Wan sekali ketika kami sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Kami berpapasan tak sengaja. Tapi, itu pun sebatas "hai" yang tipis sekali. Rasanya itu terakhir saya bertemu dengannya karena kemudian saya kuliah di Jogja dan ia kuliah di Australia. Beberapa tahun kemudian Wan dan keluarganya pindah, saya tak tahu ke mana.

Kita tahu bahwa kaum Tionghoa menjadi korban utama pada 1998. Setelah Reformasi, ada perbaikan di sana-sini. Namun, sentimen anti-Cina masih ada dan sering dimainkan untuk kepentingan politik. Contoh paling gampang dilihat adalah bagaimana orang menyerang Ahok, Gubernur Jakarta, karena etnisnya, bukan karena kualitasnya memimpin. Bukan itu saja. Kelompok minoritas lain semacam jamaah Ahmadiyah dan penganut Islam Syiah yang dulu bisa hidup tenang sekarang malah semakin sering diusik. LGBT? Aduh, tak kurang-kurang kebencian yang ditujukan kepada mereka. Tengok saja sembarang media sosial. Media sosial pula yang membesarkan tekanan lingkungan seperti yang saya alami pada masa kecil untuk memusuhi kelompok lain.

Menyambut peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasia tahun ini, saya teringat Wan. Kalau sempat bertemu lagi, saya ingin mengajaknya ngopi, bertanya tentang kabar kakak-kakak perempuannya yang cantik, dan minta maaf.

Tentang penulis:

Yusi Avianto Pareanom merupakan penulis beberapa buku fiksi dan nonfiksi. Buku fiksinya adalah kumpulan cerita Rumah Kopi Singa Tertawa (2011), A Grave Sin No. 14 and Other Stories (2015, terbit dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jerman), Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (2016). Ia juga menerjemahkan dan menyunting karya penulis-penulis asing ke dalam bahasa Indonesia.

*Setiap konten yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait