1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Teror CSD Menyulut Perdebatan Politik di Jerman

29 Juli 2026

Setelah aksi teror yang terjadi pada parade LGBTQ+ Berlin akhir pekan lalu, para politisi menuntut tindakan yang lebih tegas. Para ahli menilai, pengawasan terhadap mereka yang berisiko mengancam keamanan masih lemah.

Sebuah poster bertuliskan "OUR LOVE IS STRONGER" di depan Gerbang Brandenburg, 26 Juli 2027
Berlin dalam keadaan syok setelah serangan teror Islamis terhadap komunitas LGBTQ+Foto: BREUEL-BILD/IMAGO

Ibu kota Jerman masih dalam keadaan "syok berat", dua hari pascapenyerangan "Christopher Street Day” (CSD).

"Duka dan Perlawanan Pasca Serangan di CSD Berlin,” demikian bunyi judul utama surat kabar "Tagesspiegel” pada hari Senin (27/07). Ratusan ribu orang hari itu merayakan secara damai dan turun ke jalan memperjuangkan hak-hak komunitas kwir hingga seorang pelaku menyeruduk kerumunan orang dengan mobil putih sekitar pukul 22.00. Tepat di Taman Tiergarten yang terletak di jantung kota.

Seorang perempuan tewas dan 29 orang lainnya terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Menurut saksi mata, mobil tersebut melaju kencang melintasi taman dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam.

Saat ini pihak berwenang menduga bahwa insiden tersebut merupakan aksi terorisme yang dilakukan oleh seorang radikal Islam. Setelah mobilnya menabrak pohon, pelaku dilaporkan menyerang peserta CSD dengan senjata tajam, lalu meninggalkan mobil di lokasi kejadian dan melarikan diri.

Pada hari Minggu (26/07), suasana duka dan keadaan syok masih terpancar jelas di wajah warga Berlin. Suasana hening menyelimuti kota. Pada sore hari, banyak orang berkumpul untuk mengikuti ibadah duka di Gereja Marienkirche, tak jauh dari Gerbang Brandenburg.

Kanselir Federal Friedrich Merz turut hadir. Ia berkata: "Kami akan melakukan segalanya untuk melindungi kebebasan negara dan masyarakat kami, segalanya!” Kepada para pelayat, ia menyerukan, "Bersatulah, rayakanlah, tunjukkanlah sukacita dari masyarakat kita yang terbuka dan bebas.” Namun, saat ini tak ada seorang pun yang merasa ingin bersukacita merayakan sesuatu.

Oposisi pemerintahan turut bersuara, "Kebencian tidak boleh menang,” kata Luigi Pantisano, pemimpin Partai Kiri. "Terlepas dari apakah kebencian itu berasal dari fanatisme agama atau serangan permusuhan dari tempat lain,” lanjutnya.

Tersangka pelaku penyerangan tewas

Sebuah informasi dari lingkaran perkenalan mengarahkan penyelidik pada jejak tersangka. Sebuah tim operasi khusus melepaskan tembakan setelah tersangka mencoba menyerang petugas dengan pisau. Tersangka pun tewas ditembak pada Minggu (26/07).

Tersangka adalah warga negara Jerman berusia 21 tahun, putra seorang perempuan asal Lebanon, sosok yang tampaknya tak asing bagi pihak kepolisian sebagai simpatisan ISIS di Suriah. Di pertengahan tahun 2025, ia mencoba pergi ke Suriah melalui Turki dan Lebanon untuk bergabung dengan para pejuang ISIS. Namun, dia ditahan di Lebanon, dibawa kembali ke Jerman pada November 2025, dan ditahan dalam tahanan praperadilan.

Bebas sejak pertengahan Mei 2026

Di Berlin, ia diadili atas tuduhan mempersiapkan tindak kekerasan berat yang mengancam negara. Jaksa penuntut umum menuntut hukuman penjara selama dua tahun dan sepuluh bulan. Namun, putusan pengadilan menjatuhkan hukuman satu tahun dan sepuluh bulan penjara dengan masa percobaan, karena kasus ini diputuskan berdasarkan hukum pidana remaja yang meringankan. Masa percobaan itu membuat pemuda tersebut dibebaskan dari tahanan.

Sejak pertengahan Mei 2026, simpatisan ISIS tersebut kembali bebas. Namun, jaksa penuntut umum mengajukan banding atas putusan tersebut. Untuk sementara waktu, telepon pria tersebut masih disadap, tetapi ia tidak lagi diawasi secara menyeluruh.

Bebas meskipun ia simpatisan ISIS? Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi, kata Menteri Dalam Negeri Federal Alexander Dobrindt (CSU) pada hari Minggu (26/07), "Ini akan menjadi bagian dari evaluasi, apakah memang bisa menerapkan hukuman percobaan dalam kasus ini,” kata Dobrindt di stasiun televisi ZDF, "Intinya adalah bahwa kita juga dapat membatasi kebebasan bergerak orang-orang ini.”

Sebastian Fiedler, pakar urusan dalam negeri dari Partai Sosial Demokrat (SPD), yang menjadi bagian dari koalisi pemerintahan mengkritik, "Apa yang sebenarnya terjadi setelah dia bebas dari penjara? Dengan siapa saja dia masih menjalin kontak? Meskipun dia memang berada di bawah pengawasan, jelas ada celah di sini, dan celah itulah yang harus kita perbaiki dengan sangat teliti, dan kami pasti akan melakukannya, Anda bisa yakin akan hal ini.”

Partai oposisi terbesar di Bundestag, yaitu AfD yang sebagian anggotanya berhaluan ekstrem kanan, menyebut hal ini sebagai kegagalan total dalam kebijakan keamanan. "Jika seorang pelaku ancaman Islamis yang sudah dikenal polisi dapat melakukan tindakan semacam itu, maka harus diselidiki secara menyeluruh, mengapa masih bisa bergerak bebas?” kata Martin Hess, anggota AfD urusan kebijakan dalam negeri.

Di stasiun televisi ZDF, pakar terorisme Peter Neumann dari King's College London mengatakan bahwa "Secara keseluruhan, hukum pidana terorisme Jerman terlalu lunak.” Hukuman yang ada dianggap terlalu ringan jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lain, seperti Prancis dan Inggris.

Hampir mustahil mengawasi semua orang yang berisiko

Namun, banyak pakar juga mengatakan bahwa orang-orang yang tidak dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan Jerman sulit untuk diawasi secara menyeluruh. Badan Perlindungan Konstitusi Federal memperkirakan bahwa di Jerman terdapat sekitar 420 orang yang saat ini diklasifikasikan sebagai "ancaman Islam radikal” yang berpotensi melakukan aksi terorisme. Belum jelas apakah Abdul B. termasuk di antaranya.

Namun, para ahli memperkirakan bahwa memantau semua orang tersebut sepanjang waktu akan memberikan beban yang begitu berat bagi pihak berwenang. Terlebih, potensi Islam radikal yang siap melakukan kekerasan di Jerman jumlahnya jauh lebih tinggi dan diperkirakan mencapai sekitar 9.000 orang.

Hungaria: Demonstrasi Mengecam Larangan Acara LGBTQ+

01:26

This browser does not support the video element.

Tersangka pelaku serangan sedang mengikuti kursus deradikalisasi

Ketua Federasi Petugas Kriminal Jerman, Dirk Peglow, mengatakan kepada surat kabar "Handelsblatt” pada hari Senin (27/07), "Bagi seseorang dengan potensi ancaman setinggi itu, pembebasan dari tahanan tidak berarti berakhirnya perhatian negara.”

Namun, Peglow juga menekankan: Jika pihak berwenang diharapkan untuk memantau orang-orang yang sangat berbahaya dalam jangka waktu yang lama, maka badan keamanan negara dan unit pemantauannya harus "dilengkapi secara memadai dari segi personel, teknis, dan organisasi”. Hal yang saat ini belum terpenuhi.

Hal lainnya yang menimbulkan kegemparan: Pengadilan telah mewajibkan pemuda tersebut untuk menghadiri total 26 sesi deradikalisasi di sebuah lembaga. Abdul B. telah menyelesaikan dua di antaranya, dan sesi konseling ketiga seharusnya berlangsung pada hari Senin (27/07).

Seorang tersangka lain, yang diduga juga berada di dalam mobil tersebut, kini telah dibebaskan dari tahanan. Dugaan keterlibatan pria tersebut dalam kasus ini tidak terbukti.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Jens Thurau Jens Thurau adalah koresponden politik senior yang meliput kebijakan lingkungan dan iklim Jerman.