Tibet Rusuh: Cina Tetapkan Ultimatum
15 Maret 2008
Aparat Cina memberi ultimatum kepada pengunjuk rasa Tibet untuk menyerahkan diri hingga hari Senin (17/03).
Saksi mata mengatakan, kendaraan lapis baja terlihat berpatroli, sehari setelah protes terparah menentang pendudukan Cina di Tibet yang sudah berlangsung selama 20 tahun. Pemerintah Cina mengatakan keadaan sudah berangsur tenang.
Namun pemerintah Tibet di pengasingan membantah. Disebutkan Tenzin Putshnok Athisha, kepala pemerintah Tibet di pengasingan di Australia, dalam wawancara khusus dengan Deutsche Welle mengungkapkan:
"Sejauh ini, situasi di sana masih sangat tegang. Dan nyatanya, pemerintah Cina mengultimatum rakyat Tibet yang berunjuk rasa untuk menyerahkan diri sebelum hari Senin. Jadi tidak bisa dikatakan sudah tenang. Keadaan seperti ini kan sama sekali tidak normal di Tibet.“
Sebelumnya kantor berita pemerintah Cina, Xinhua melaporkan, banyak anggota polisi yang terluka dalam insiden di Lhasa. Para demontran dilaporkan menggunakan batu, batang besi, bom molotov, tongkat kayu dan golok dalam bentrokan dengan polisi. Sedangkan televisi Cina menayangkan gambar para perusuh merusak kota sambil diiringi narasi bahwa Dalai Lama yang bertanggung jawab dalam aksi kerusuhan tersebut. Namun kebenaran laporan ini tak bisa diyakini, karena sumber informasi lain diberangus. Saat bentrokan antara polisi dengan pengunjuk rasa Jumat (14/03), pemerintah Cina memutus semua saluran media televisi Barat yang menayangkan laporannya.
Dalam pernyataan resmi Sabtu (15/03), aparat Cina mengungkapkan sepuluh orang tewas terbakar dalam kerusuhan di Lhasa. Disebutkan, Kantor berita Cina Xinhua, ke-sepuluh orang itu adalah warga sipil Tibet.
Namun para aktivis dan pengamat memperkirakan, jumlah korban tewas jauh lebih dari itu. Bahkan banyak sumber menyebut, polisi Cina sudah menewaskan lebih dari 100 pengunjuk rasa.
Salah satu tokoh pemerintah Tibet di pengasingan, Tenzin Putshnok Athisa, mengaku, sulit untuk menghitung korban secara persis. Mengingat tertutupnya rezim pemerintah Cina. Tenzin Putshnok Athisa yang kebetulan sedang berada di Jakarta menyatakan:
"Sayangnya saya tidak mendapatkan konfirmasi mengenai jumlah korban tewas. Tapi kita tahu, angka korban selalu jauh lebih tinggi dari yang disebutkan dalam pernyataan resmi. Jadi kalau pemerintah Cina mengatakan terdapat sepuluh orang Tibet yang tewas, maka jelas jumlah korban tewas jauh lebih tinggi dari sepuluh orang.“
Pejabat pemerintah Cina di Tibet, Qiangba Puncog, mengatakan pada pers di Beijing bahwa peristiwa itu merupakan aksi separatisme yang tidak akan dibiarkan dan akan ditindak secara hukum. Qiangba Puncog menambahkan, para pelaku adalah pendukung Dalai Lama yang hidup di pengasingan.
Sementara Dalai Lama, pemimpin spiritual Budha Tibet, menyangkal tudingan bahwa dirinya dan pemerintah dalam pengasingan Tibet di India adalah dalang di balik kerusuhan Lhasa. Dalai Lama mengatakan, protes ini merupakan puncak kemarahan warga Tibet yang sudah lama terpendam.
Sebenarnya aksi unjuk rasa di Lhasa sudah terjadi sejak hari Senin (10/03), saat peringatan 49 tahun perlawanan Tibet terhadap Cina. Dalam peringatan itu, para biksu memrotes pembatasan kegiatan keagamaan dan penangkapan para biksu yang terjadi Oktober 2007. Aksi protes tersebut berkembang menjadi protes anti Cina. Kerusuhan juga meluas ke luar Lhasa, di mana para biksu memimpin aksi massa 4000 orang di Xiahe, Provinsi Gansu, yang merupakan salah satu biara penting umat Budha di Tibet.
Pemerintah pengasingan Tibet yang berpusat di Dharamsala, di India, meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk berbuat sesuatu agar pemerintah Cina menghentikan pelanggaran hak azasi manusia di Tibet. ***