1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
FilmJerman

Film Berbahasa Sunda "Nana" Disambut Hangat di Berlinale

Arti Ekawati
14 Februari 2022

Film berbahasa Sunda karya Kamila Andini di Berlinale ini berlatar tahun 1960-an, berkisah tentang perempuan dan rahasia yang ia simpan rapat, ibarat rambut yang tergelung rapi.

Cuplikan adegan dalam film Nana (Before, Now & Then)
Cuplikan adegan dalam film Nana (Before, Now & Then) karya sutradara Kamila AndiniFoto: Barbara Goempar/Berlinale

Pada Rabu (09/02), hanya beberapa menit sebelum pukul 10:00 pagi waktu Jerman, DW Indonesia sudah duduk di depan laman web resmi Berlinale. Siap beradu cepat mendapatkan tiket ke premier film terbaru karya sutradara Kamila Andini yang akan diputar di ajang bergengsi Berlinale ke-72. Hari itu tepat pukul 10:00 pagi, penjualan tiket premier film berjudul Nana (Before, Now & Then) akan dimulai.

Memang tidak mudah untuk mendapatkan tiket ini. Benar saja, sebelum genap pukul 11:00 pagi waktu setempat, keterangan di laman resmi Berlinale menunjukkan bahwa tiket telah sold out. Habis sama sekali. Ini berarti tiket untuk pertunjukkan premier pada Sabtu (12/02) di Berlinale Palast itu terjual habis dalam waktu kurang dari satu jam.

Film Nana memang tidak biasa. Dialog film yang antara lain dibintangi Happy Salma, Laura Basuki, Ibnu Jamil ini nyaris keseluruhannya dituturkan dalam bahasa Sunda.

Di Berlinale ke-72 ini, film Nana berlaga di kategori Competition. Saingannya adalah film-film lain dari berbagai negara antara lain Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Korea Selatan. Mengutip rilis Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, kategori ini digadang sebagai kategori utama dan paling bergengsi dari Berlinale, pemenangnya berkesempatan membawa pulang hadiah Golden Bear sebagai film terbaik.

Sejarah, perempuan, dan rahasia

Dalam konferensi pers yang digelar Sabtu (12/02) di Berlin, sutradara Kamila Andini mengatakan bahwa ide film ini bermula dari diskusi antara dirinya dengan pemeran utama, yakni Happy Salma dan eksekutif produser Jais Darga.

"… berbicara mengenai akar budaya kami yaitu Sunda, dari mana ibu dan nenek saya juga berasal. Kami berbicara tentang perempuan di Indonesia secara umum. Kami berbagi cerita yang nyaris sama sebagai perempuan Sunda, juga dari cerita nenek saya tentang periode waktu tertentu saat banyak hal terjadi, secara historis dan politik juga bagi Indonesia," ujar Kamila Andini dalam konferensi pers seperti dikutip dari laman resmi Berlinale. 

Berlatar belakang di tahun 1960-an saat terjadi turbulensi pergantian kekuasaan di Indonesia, film ini bercerita tentang tokoh utama yaitu Nana. Seorang perempuan cantik, pendiam, dan berkarakter kalem yang menyimpan banyak rahasia.

Rahasia itu ia kemas rapi dan rapat, yang dalam film digambarkan dengan cantik ibarat rapatnya gelungan rambut yang terjalin apik di belakang kepala.

Nana yang berusaha membangun hidup baru setelah kehilangan suaminya tentu saja ikut terpengaruh oleh peristiwa perubahan kekuasaan pada masa itu. Namun, perempuan adalah tokoh yang selalu beradaptasi di setiap perubahan zaman, ujar Kamila. Perempuan juga diharapkan bisa menyembunyikan berbagai masalah untuk menjaga dan menyelamatkan citra keluarganya di tengah masyarakat. 

Sutradara dan sebagian kru film Nana (Before, Now & Then) selepas pemutaran premier film itu di Berlinale Film Festival, Sabtu 12 Februari 2022 di Berlin, JermanFoto: Ekawati/DW

Perempuan juga diharapkan untuk bisa memproses segala yang terjadi di dalam hidupnya secara internal. Karenanya, Nana pun mampu menjalin kedekatan dengan perempuan lain yang tampaknya sulit dibayangkan bisa terjadi pada saat ini.

Sudut pandang perempuan kini memang mulai banyak diangkat dalam film-film. Pemeran utama film Nana yakni Happy Salma mengatakan kepada DW Indonesia bahwa, "Suara perempuan sangat penting menurut saya karena perempuan pasti memberikan warna, juga sudut pandang yang berbeda."

"Kejutan manis di awal tahun"

Antusiasme publik dalam menonton film terbaru karya sutradara Kamila Andini yang berjudul Nana (Before, Now & Then) di ajang Festival Film Berlinale memang terbilang tinggi. Berdasarkan pantauan DW Indonesia selama penayangan premier pada Sabtu (12/02), penonton dari berbagai latar belakang bangsa dan budaya ikut larut dalam jalan cerita sepanjang 103 menit itu.

Berbincang dengan DW Indonesia selepas pemutaran premier film itu, Happy Salma mengatakan bahwa antusiasme penonton terhadap film tersebut adalah, "Kejutan manis di awal tahun. Ini memberikan semangat luar biasa."

"Melihat antusiasme penonton di Berlin, terasa kita bukan anak bawang, tetapi kita semua satu level yang sama. Artinya bahwa film dari Indonesia, dari Asia, juga diapresiasi dengan baik dan dianggap sama baiknya dengan film dari mana pun," ujar Happy Salma kepada DW Indonesia.

Selain itu, ia menyatakan kebanggaannya dapat membawa bahasa Sunda ke festival film internasional di Berlin. "Bangga sekali berbahasa Sunda ada di Berlin. Ini jadi sejarah juga, pertama kali ada film berbahasa Sunda," kata Happy Salma. 

Happy Salma dan Ibnu Jamil dalam salah satu adegan film Nana yang masuk ajang Competition di Berlinale ke-72Foto: Barbara Goempar/Berlinale

Salah seorang penonton pada malam premier itu adalah mahasiswa asal Surabaya bernama Dimas. Ia tengah menempuh pendidikan di Kota Leipzig dan rela datang ke Berlin demi bisa menonton film ini.

"Bagus banget. Menurutku yang paling berkesan itu estetiknya, vibe dari (tahun) 1960-nya dapet banget," ujar Dimas kepada DW Indonesia.

Bahasa Sunda di ajang film internasional

Bagi sejumlah orang Indonesia berlatar belakang etnis Sunda dan selama ini tinggal di Jerman, menonton film Nana seolah menjadi masa 'liburan' bagi telinga mereka yang sehari-hari seringnya harus mendengarkan bahasa Jerman ataupun Inggris.

Sebagai pemeran utama yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, DW Indonesia ingin tahu apakah Happy Salma merasa gembira karena bisa berakting dalam bahasa sehari-hari masa kecilnya? Ternyata menurutnya, tidak semudah itu.

"Ternyata sulit," ujarnya. "Karena bahasa Sunda yang saya pakai adalah bahasa Sunda di era tahun 80-an, 90-an. Sedang (film) itu tahun 50, 60-an jadi saya harus belajar bahasa baru yang kosa katanya ada di kepala saya," ujar Happy Salma kepada DW Indonesia.

Alhasil dia pun sempat merasa kebingungan. "Jujur agak bikin bingung, tapi ada mentor yang menjaga bahasa kita," ujarnya. 

Selang satu dekade

Festival Film Internasional Berlinale ini digelar setiap tahun di Berlin. Meski masih dalam masa pandemi COVID-19, Berlinale kali ini digelar di luar jaringan. Namun, untuk bisa masuk ke area, setiap orang yang datang diwajibkan untuk memakai masker jenis FPP2 dan menunjukkan bukti vaksin tambahan atau booster.

Mengutip pernyataan pers yang dikeluarkan oleh KBRI Berlin, Berlinale diadakan sejak tahun 1951 dan merupakan salah satu festival film internasional bergengsi setelah festival film Cannes di Prancis.

Tercatat kali terakhir film Indonesa berlaga di kategori Competition yakni pada tahun 2012, atau tepat satu dekade sebelum film Nana. Saat itu film Indonesia berjudul Zoo karya sutradara Edwin sempat masuk dalam kategori Competition di Berlinale Festival ke-62. Pemenang Berlinale 2022 di kategori Competition ini nantinya diumumkan pada Rabu, 16 Februari 2022.

Saat ini, mereka yang ingin tahu cerita tentang Nana dan rahasianya masih bisa berupaya untuk mendapatkan tiket di laman resmi Berlinale agar bisa menikmati film itu di bioskop tertentu hingga tanggal 20 Februari 2022.

Ada satu tips dari DW Indonesia kalau Anda ingin ikut merasakan menonton film ini pada Festival Film Berlinale: saat proses membeli tiket di laman resmi Berlinale, Anda harus sangat, sangat cepat!

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait