1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Politik AS Bikin Fans Timnas Jerman Galau soal Piala Dunia

2 April 2026

Banyak penggemar sepak bola Jerman dilema apakah akan ke AS untuk mengikuti turnamen sepak bola terbesar saat musim panas nanti.

Penonton sepak bola timnas Jerman bersorak
Para penggemar timnas Jerman bersorak merayakan skor 2-1 saat pertandingan melawan GhanaFoto: Silas Stein/DFB/picture alliance

Kereta menuju kota Stuttgart di Jerman cukup padat. Di setiap perhentian, orang-orang yang mengenakan seragam timnas Jerman naik ke kereta. Suasana ramai dengan obrolan seputar tim nasional sepak bola Jerman dan Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Akhir bulan Maret, timnas Jerman menghadapi Ghana dalam pertandingan internasional terakhir sebelum persiapan Piala Dunia dimulai. Banyak penggemar memulai perjalanan mereka sejak pagi hari, termasuk Dennis dan Kai.

Dua sahabat asal utara Jerman ini mengenakan seragam tim nasional dan naik kereta lebih awal, bersemangat untuk mendukung tim secara langsung pada malam itu di Stuttgart.

Bagi Dennis khususnya, perjalanan seperti ini sudah menjadi rutinitas. Ia telah mengikuti tim nasional sejak 2015, dan pria berusia 40 tahun ini hampir tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun sejak saat itu. "Mengenakan jersey lambang elang di dada dan menyanyikan lagu kebangsaan adalah sesuatu yang istimewa,” kata Dennis kepada DW. "Kamu selalu bertemu dengan penggemar lain, bepergian ke turnamen, itu selalu membuatmu merinding.”

Keduanya adalah penggemar setia, penggemar yang menemani tim ke setiap pertandingan, di mana pun lokasinya.

Suasana menjelang turnamen

Tak heran, Piala Dunia FIFA 2026 sudah ditandai di kalender mereka.

"Saya benar-benar menantikannya,” kata Kai, matanya bersinar saat berbicara. "Saya ingin mengikuti segala hal yang terjadi di kota-kota penyelenggara. Dennis selalu banyak bicara tentang hal itu.”

Seberapa besar dukungan penggemar timnas Jerman di Amerika Serikat?Foto: Maximilian Koch/picture alliance

Dennis menambahkan, antusiasme selalu sudah dimulai jauh sebelum turnamen, "kegembiraan dimulai dua tahun sebelumnya, orang mulai menabung dan memikirkan seperti apa perjalanan itu nantinya.”

Keduanya sudah membeli tiket untuk pertandingan timnas Jerman di fase grup, dan rencana perjalanan mereka sudah matang. Mereka benar-benar menantikannya, dan situasi politik saat ini di Amerika Serikat tidak meredam semangat mereka.

"Politik seharusnya benar-benar dijauhkan dari olahraga. Olahraga dimaksudkan untuk menjembatani dan menyatukan orang, tetapi politik sering kali suka memanfaatkan turnamen seperti ini,” kata Dennis.

Peringatan untuk tidak bepergian

Namun, tidak semua orang merasa tenang. Baru-baru ini, mantan pelatih kepala Jerman Joachim Löw memperingatkan agar tidak bepergian ke Amerika Utara.

"Kami sudah melakukan diskusi bahkan sebelum Piala Dunia 2018 di Rusia dan ada seruan boikot menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, bertanding di negara yang saat ini sedang terlibat perang secara aktif jauh lebih berbahaya,” kata Löw dalam sebuah acara di Köln.

Museum Sepak Bola: Kesenian dan Olah Raga dalam Satu Ruang

03:52

This browser does not support the video element.

Löw, yang membawa Jerman meraih kemenangan di Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil, merujuk pada kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang memulai perang dengan Iran pada akhir Februari.

Selain itu, operasi yang dilakukan oleh badan imigrasi ICE dan konflik geopolitik lainnya menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian. Situasi politik "sepenuhnya membayangi turnamen ini,” kata Löw.

Politisi Partai Hijau khawatir soal privasi

Kritik tajam dari kalangan politik juga telah muncul dan terus berlanjut.

"Apa yang diselenggarakan FIFA di sana bersama Donald Trump bukanlah sesuatu yang membuat saya bersemangat,” kata Boris Mijatovic, politisi Partai Hijau dan aktivis hak asasi manusia, kepada DW.

"Pengungkapan data pribadi, seperti alamat email, nomor ponsel, komputer, atau akun media sosial, tidak boleh diabaikan. Ini semua pelanggaran terhadap kebebasan pribadi yang tidak akan saya toleransi, negara yang mengintip privasi orang dengan cara ini tidak boleh diberi hadiah dengan kunjungan," kata Mijatovic.

Politisi Partai Hijau Boris Mijatovic juga memperingatkan agar tidak bepergian ke Amerika Serikat pada musim panas iniFoto: dts-Agentur/picture alliance

Mijatovic juga khawatir akan muncul lebih banyak "momen canggung yang memalukan” seperti ketika Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan penghargaan baru FIFA Peace Prize kepada Donald Trump saat undian Piala Dunia.

"Saya merasa hal itu benar-benar menjijikkan, cara seseorang harus menghormati presiden ini untuk mendapatkan restunya. Hal ini berlaku sama bagi Gianni Infantino maupun Kanselir Jerman Friedrich Merz,” tambah politisi tersebut, sambil menyertakan presiden asosiasi sepak bola jerman DFB Bernd Neuendorf dalam kritiknya.

Mijatovic merasa tidak adanya keberanian untuk menyuarakan kritik terhadap FIFA.

"Saya merindukan sikap itu,” katanya. "Apa yang pernah kita bangun, dengan rasa hormat dan fair play, telah hancur berantakan.”

Baru-baru ini, laporan dari organisasi hak asasi manusia Amnesty International juga menyoroti pelanggaran di negara-negara tuan rumah Piala Dunia, terutama di AS.

Penggemar Jerman skeptis terhadap turnamen ini

Bagi penggemar timnas Jerman Bengt Kunkel, Piala Dunia tahun ini akan ia saksikan di televisi rumah.

"Saya memandang Piala Dunia ini dengan sangat kritis,” katanya. Trump adalah masalah besar, tambahnya, karena ia berusaha menjadikan Piala Dunia sebagai miliknya sendiri dan memanfaatkannya untuk agenda politik.

"Selain itu, ada pembatasan terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, ditambah lagi sikap FIFA yang mengabdi pada kepentingan politik dengan memberikan penghargaan perdamaian kepada Donald Trump,” kata Kunkel, yang juga kritis terhadap biaya yang harus ditanggung para penggemar.

Bengt Kunkel (tengah) adalah salah satu dari banyak penggemar yang mendukung timnas Jerman dalam pertandingan-pertandingan di Piala Eropa 2024Foto: Matthias Koch/picture alliance

"Kami menghitung bahwa hanya untuk babak penyisihan grup saja, kami mungkin harus mengeluarkan antara 5.000 sampai 8.000 euro,” jelas penggemar Jerman tersebut.

"Ini bukan turnamen yang ramah bagi penggemar. Tidak ada yang menarik dari Piala Dunia ini bagi saya, jadi jelas saya tidak akan pergi.”

Persyaratan masuk yang lebih ketat bagi para penggemar juga menjadi kekhawatiran bagi pemuda berusia 27 tahun ini.

"Ketika mereka (AS) mengatakan, ‘kami akan memeriksa semua aktivitas media sosial orang-orang yang ingin masuk ke AS dan melihat apakah ada yang menyukai atau mem-posting sesuatu yang menentang Donald Trump,' saya pikir itu bukan caranya mengundang dunia untuk merayakan festival sepak bola," tambah Kunkel.

Ketika politik mencampuri dunia olahraga

Kunkel menyadari bahwa Piala Dunia FIFA 2026 saat ini tengah memecah para penggemar.

“Namun saya memahami siapa pun yang tetap datang ke sana,” kata Kunkel, seraya menambahkan bahwa ia tidak percaya boikot adalah solusi.

“Mendukung tim nasional seharusnya tidak jadi masalah, terlepas dari segala hal. Jadi, mari kita maksimalkan situasinya dan menikmati musim panas Piala Dunia yang luar biasa.”

Para penggemar timnas Jerman berharap negara mereka bisa meraih gelar kelima mereka di Piala Dunia 2026Foto: Matthias Schrader/AP Photo/dpa/picture alliance

Bahkan Dennis dan Kai mengakui bahwa ini “bukan Piala Dunia yang ramah bagi penggemar.”

Meski begitu, mereka yakin Amerika Serikat akan menjamin keamanan semua orang dan turnamen ini akan menjadi pesta sepak bola yang fantastis.

“Kami ingin menjadi juara dunia,” kata Dennis. “Kami harus menjadi satu tim dan bertindak sebagai tim. Dan jika para suporter berdiri di belakang tim, kami bisa melangkah jauh.”

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya