Peraih Nobel Machado Bertekad Bawa Penghargaan ke Venezuela
11 Desember 2025
Tokoh oposisi itu tiba di Oslo, Norwegia pada Kamis (11/12) dini hari, setelah sempat menghilang dari publik sejak dinyatakan menang Oktober silam. Ia terlambat menghadiri seremoni Nobel yang telah berlangsung beberapa jam sebelumnya. Sejumlah agenda penghormatan untuknya tetap diselenggarakan hari itu.
Insinyur berusia 58 tahun tersebut secara diam-diam meninggalkan Venezuela menuju Oslo—menentang larangan bepergian selama satu dekade. María Corina Machado telah lebih dari setahun hidup dalam persembunyian. "Saya datang menerima penghargaan ini atas nama rakyat Venezuela, dan akan membawanya pulang pada saat yang tepat," ujarnya di gedung parlemen. Ia mengenakan busana serba putih. "Tentu saja aku tak akan mengatakan kapan."
Machado dihormati karena ia menjadi penantang paling kuat—tanpa kekerasan—terhadap pemerintahan otoriter Presiden Nicolás Maduro dalam beberapa tahun terakhir. "Kebebasan! Kebebasan!" seru massa yang berkumpul di depan hotel ketika melihatnya muncul di balkon. Mereka lalu bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Venezuela.
Mengenakan jins dan jaket tebal, Machado menghabiskan beberapa menit menyapa para pendukung yang menunggu dalam udara dingin. Ia memeluk banyak di antara mereka, diiringi seruan "Presiden! Presiden!” dari kerumunan. "Saya ingin kalian semua kembali ke Venezuela," ujarnya saat puluhan ponsel terangkat mencoba menangkap momen tersebut.
Hidup dalam persembunyian
Machado telah bersembunyi sejak 9 Januari, ketika ia sempat ditahan setelah ikut bergabung dalam aksi protes di Caracas. Ia sebelumnya diharapkan hadir langsung pada seremoni Nobel di Oslo pada Rabu (09/12), yang turut dihadiri para kepala negara serta keluarganya.
Dalam rekaman audio yang dipublikasikan di situs Nobel, Machado menjelaskan bahwa ia tak akan tiba tepat waktu. Namun ia mengatakan banyak orang "telah mempertaruhkan hidup mereka” demi membantunya mencapai Oslo.
Diwakili anaknya
Putrinya, Ana Corina Sosa, mewakili ibunya menerima penghargaan Nobel itu, dan bertutur: "Ia ingin hidup di Venezuela yang bebas, dan ia tidak akan pernah menyerah pada tujuan itu," tutur Sosa. "Itulah sebabnya kami tahu—dan aku tahu—bahwa ia akan segera kembali ke Venezuela."
Ketua Komite Nobel Norwegia, Jørgen Watne Frydnes, mengatakan dalam pidatonya bahwa "María Corina Machado telah melakukan segala yang ia bisa untuk hadir di sini hari ini—sebuah perjalanan dalam situasi yang penuh bahaya.”
Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa pesawat yang membawanya terbang ke Oslo, berangkat dari Bangor, Maine. "Karena ini adalah penghargaan untuk seluruh rakyat Venezuela, aku percaya merekalah yang berhak menerimanya. Dan ketika aku tiba kembali, aku akan dapat memeluk keluargaku dan anak-anakku—yang tak kulihat selama dua tahun—dan begitu banyak orang Venezuela serta warga Norwegia yang berbagi perjuangan dengan kami," kata Machado sebelum naik pesawat.
Kehadiran para pemimpin dunia
Sejumlah tokoh penting Amerika Latin hadir sebagai tanda solidaritas, termasuk Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Panama José Raúl Mulino, dan Presiden Paraguay Santiago Peña.
Kemenangan Machado diumumkan pada 10 Oktober, sebagai pengakuan atas perjuangannya mendorong transisi demokratis di negaranya. Frydnes menggambarkan Venezuela sebagai "negara otoriter yang semakin brutal” dan menyebut Machado sebagai "salah satu contoh keberanian sipil paling luar biasa dalam sejarah Amerika Latin modern.”
Machado memenangkan pemilihan pendahuluan oposisi dan berniat menantang Maduro dalam pemilihan presiden tahun lalu. Namun pemerintah melarangnya mencalonkan diri. Diplomat pensiun Edmundo González kemudian menggantikan posisinya.
Menjelang pemilu 28 Juli 2024, Venezuela dihantam gelombang represi: Diskualifikasi kandidat, penangkapan, hingga pelanggaran hak asasi manusia yang meluas. Situasi kian memburuk setelah Dewan Pemilihan Nasional yang dikuasai loyalis Maduro menyatakan sang petahana sebagai pemenang.
González, yang mencari suaka di Spanyol setelah pengadilan Venezuela mengeluarkan surat penangkapannya, turut hadir dalam seremoni Nobel.
Pejabat HAM PBB dan berbagai kelompok independen telah menyuarakan keprihatinan mendalam dan menuntut Maduro bertanggung jawab atas penindasan terhadap oposisi.
"Perjuangan untuk kebebasan”
"Lebih dari apa pun, yang dapat ditawarkan rakyat Venezuela kepada dunia adalah pelajaran dari perjalanan panjang dan sulit ini—bahwa untuk memiliki demokrasi, kita harus bersedia memperjuangkan kebebasan," ujar Sosa saat menyampaikan pidato Nobel yang ditulis ibunya.
Pidato itu tidak menyebut ketegangan antara Washington dan Caracas, sementara Presiden AS Donald Trump terus melancarkan operasi militer di Karibia yang menewaskan warga Venezuela di perairan internasional dan mengancam menyerang negara itu. Machado secara konsisten mendukung sikap agresif Trump terhadap Venezuela.
Dalam pidatonya, Sosa juga menyebut para "pahlawan perjalanan ini”, termasuk para pemimpin dunia yang membela perjuangan mereka, meski tanpa merinci lebih lanjut.
Frydnes menambahkan bahwa bagi para pemimpin otoriter seperti Maduro, "kekuasaanmu tidak abadi. Kekerasanmu tidak akan mengalahkan rakyat yang bangkit dan bertahan.”
"Bapak Maduro, akuilah hasil pemilu dan mundurlah," imhunya.
Jejak para peraih Nobel yang tak dapat hadir
Menurut catatan Nobel, lima peraih Hadiah Nobel Perdamaian sebelumnya juga tak dapat hadir saat penghargaan diumumkan, di antaranya Narges Mohammadi dari Iran (2023), Ales Bialiatski dari Belarus (2022), Liu Xiaobo dari Tiongkok (2010), Aung San Suu Kyi dari Myanmar (1991), dan Carl von Ossietzky dari Jerman (1935).
Gustavo Tovar-Arroyo, aktivis hak asasi Venezuela yang diasingkan sejak 2012, mengatakan bahwa para pendukung Machado telah melakukan yang terbaik agar ia dapat hadir secara langsung. "Namun kami tahu risikonya," ujarnya.
Ia menambahkan, "Kami kecewa ia tak dapat berada di seremoni, tetapi begitulah adanya ketika kita melawan kediktatoran, tirani, atau rezim kriminal. Kami sudah terbiasa."
*Editor: Rizki Nugraha