1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Tolak Gencatan Senjata Trump, Iran: Retorika Arogan

Alex Berry | Zac Crellin | Wesley Rahn | Matt Ford | Emmy Sasipornkarn sumber: Reuters, AP, AFP, dpa
7 April 2026

Gencatan senjata ditolak Teheran yang ingin akhiri perang permanen. Ancaman kehancuran total dari Trump kian mendekat.

Visual sebagian dari fase 19, ladang gas South Pars di Assalooyeh, di pesisir Teluk Persia Iran, sekitar 1.400 km sebelah selatan Teheran, foto diambil pada 23 Agustus 2016
Israel menyatakan telah menyerang dua fasilitas petrokimia IranFoto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia telah mempelajari proposal gencatan senjata selama 45 hari yang diusulkan oleh mediator dari Mesir, Pakistan, dan Turki. Namun, Iran menolak gencatan senjata tersebut.

"Ini proposal yang signifikan, ini langkah yang signifikan. Memang belum cukup, tetapi ini merupakan langkah yang sangat penting," kata Trump kepada wartawan dalam acara Paskah di Gedung Putih.

"Perang ini bisa berakhir dengan sangat cepat jika mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Ada hal-hal tertentu yang harus dipenuhi. Mereka tahu itu dan saya kira mereka telah bernegosiasi dengan itikad baik."

Trump menambahkan bahwa tenggat waktu yang ia berikan kepada Iran hingga Selasa (07/04) bersifat final. Pernyataan Trump muncul setelah kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyatakan bahwa Teheran "menolak gencatan senjata dan bersikeras pada perlunya mengakhiri konflik secara definitif."

Sementara itu, Trump juga menyampaikan kabar terbaru tentang dua tentara Amerika Serikat yang jadi korban pesawat jatuh akibat ditembak ketika melintasi wilayah Iran. 

"Pemulihan mereka berlangsung sangat baik," kata Trump. "Keduanya terluka, dan kini dalam kondisi baik."

Trump lagi-lagi ancam serang pembangkit listrik bila negosiasi gagal

Trump kembali memperingatkan akan menghancurkan infrastruktur Iran jika tidak tercapai kesepakatan sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan.

Ia juga mengatakan bahwa militer AS telah menyiapkan rencana perang untuk menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran.

"Kami punya rencana untuk meluluhlantakkan setiap jembatan di Iran sebelum hari Selasa (07/04) pukul 12 malam waktu setempat. Seluruh pembangkit listrik di Iran akan lumpuh, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," tegasTrump. "Maksud saya, kehancuran total pada pukul 12 malam dan itu bisa terjadi hanya dalam waktu empat jam jika kami menginginkannya."

Namun, Trump juga menyatakan Washington siap membantu Teheran melakukan rekonstruksi jika kesepakatan tercapai.

Sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa Teheran menolak proposal gencatan senjata dan mengajukan 10 tuntutan yang mencakup kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu pada Selasa (07/04) pukul 20.00 waktu Washington (Rabu, 8 April, pukul 00.00 GMT) bagi Iran untuk menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Akan tetapi, Trump juga pernah mengundur tenggat waktu seperti sebelumnya. 

Trump menyambut baik proposal gencatan senjataFoto: Alex Brandon/AP Photo/picture alliance

Militer iran menolak retorika Trump yang arogan

Sehari menjelang tenggat ultimatum Trump kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, militer Iran menyatakan bahwa retorika presiden AS itu tidak akan menghentikan pasukan mereka.

"Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional…tidak berpengaruh terhadap kelanjutan operasi penyerangan dan penghancuran yang dilakukan para pejuang Islam terhadap musuh Amerika dan Zionis," ungkap Khatam al-Anbiya, juru bicara militer Iran, dikutip kantor berita Tasnim.

Khatam menambahkan bahwa ancaman tersebut "tidak akan mampu menutupi aib dan kehinaan Amerika di kawasan Asia Barat." 

Trump terus mengancam akan hancurkan infrastruktur di Iran bila Teheran menolak kesepakatan gencatan senjataFoto: Vantor/AP Photo/picture alliance

Iran menolak proposal gencatan senjata terbaru yang diusulkan para mediator, seiring upayanya mendorong pengakhiran perang secara permanen.

"Kami tidak akan sekadar menerima gencatan senjata," kata Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, sebagaimana dikutip dari Associated Press. "Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi."

Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Teheran telah menyampaikan responsnya kepada mediator Pakistan. Sebagai gantinya, Iran telah membuat 10 tuntutan di antaranya termasuk penghentian konflik di kawasan tersebut, penyusunan protokol untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan upaya rekonstruksi.

Majid Khademi tewas akibat serangan IsraelFoto: Iranian Supreme Leader's Office/ZUMA/picture alliance

Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Tewas dalam Serangan Israel di Teheran

Sementara itu, Israel mengonfirmasi bahwa serangannya telah menewaskan Majid Khademi, kepala intelijen Garda Revolusi Iran dan menegaskan akan menargetkan para pemimpin Iran "satu per satu."

Serangan udara juga menghantam kota Qom dan sejumlah wilayah lain. Hal ini memicu peringatan balasan dari Teheran. Sementara tenggat waktu yang ditetapkan Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz kian mendekat.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Joan Aurelia Rumengan

Editor: Muhammad Hanafi

Matt Ford Reporter dan editor DW Sports, spesial meliput sepak bola Eropa, budaya fans, dan politik olahraga.@matt_4d