Topan Kalmaegi: Lebih dari 140 Orang Tewas di Filipina
6 November 2025
Topan Kalmaegi menewaskan sedikitnya lebih dari 140 orang dan lebih dari120 lainnya hilang, akibat banjir dahsyat di wilayah tengah Filipina. Badai tersebut bergerak menuju Vietnam. Menurut basis data bencana EM-DAT, topan Kalmaegi sejauh ini merupakan topan paling mematikan di dunia pada tahun 2025. Tahun lalu, Topan Trami—juga di Filipina—menjadi topan ketiga paling mematikan dengan 191 korban jiwa. Air bah yang digambarkan sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya” menyapu kota dan kabupaten di Provinsi Cebu sepanjang pekan ini, menyeret mobil, gubuk di tepi sungai, hingga kontainer kapal besar.
Kantor pertahanan sipil nasional pada Kamis (06/11) mengonfirmasi 114 korban tewas. Namun angka itu belum termasuk tambahan 28 korban yang dilaporkan oleh otoritas Provinsi Cebu. Lebih dari 500.000 warga Filipina masih mengungsi. Di Kota Liloan, dekat Cebu City—jurnalis AFP melihat mobil-mobil bertumpuk akibat banjir, atap rumah terlepas, dan warga berusaha menggali lumpur dari rumah mereka.
Christine Aton menceritakan bahwa kakaknya, Michelle, yang merupakan disabilitas, termasuk di antara korban tewas di Liloan. Ia terjebak di kamar tidurnya ketika air mulai naik di dalam rumah. "Kami mencoba membuka pintu kamarnya dengan pisau dapur dan linggis, tapi tidak bisa... lalu kulkas mulai mengapung,” ujar Aton. "Aku membuka jendela dan aku serta ayahku berenang keluar. Kami menangis karena ingin menyelamatkan kakakku. Tapi ayah berkata kami tak bisa berbuat apa-apa, kalau terus memaksa (membuka pintu), kami bertiga bisa mati," paparnya.
Chyros Roa, seorang ayah dua anak berusia 42 tahun, mengatakan keluarganya selamat berkat gonggongan anjingnya ketika air tiba-tiba menerobos ke rumah dini hari, memberi mereka waktu untuk naik ke atap. "Arusnya sangat kuat. Kami mencoba meminta pertolongan, tapi tak ada yang datang. Kami diberi tahu para penyelamat juga terseret arus,” katanya.
Status bencana nasional di Filipina
Pada hari Kamis (06/11) , Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkan "status bencana nasional”, yang memungkinkan pemerintah menyalurkan dana bantuan dan memberlakukan batas harga pada kebutuhan pokok. "Sayangnya, ada lagi topan yang akan datang, dan berpotensi menjadi lebih kuat,” ujarnya dalam konferensi pers sore hari.
Masih lebih dari 1.500 kilometer di timur negara itu, badai tropis Fung-wong perlahan menguat saat bergerak menuju pulau utama Luzon. Badai itu berpotensi menjadi super topan sebelum mendarat pada hari Senin.
Sekali dalam 20 tahun
Ahli meteorologi dari badan cuaca nasional, Benison Estareja, mengatakan kepada AFP bahwa curah hujan di sepanjang jalur Kalmaegi mencapai 1,5 kali lipat dari rata-rata curah hujan bulan November di Cebu—sesuatu yang "hanya terjadi sekali setiap 20 tahun”.
Ia menambahkan bahwa kepadatan perkotaan di daerah terdampak paling parah di sekitar Cebu City memperparah dampak bencana ini. "Sekitar pukul empat atau lima pagi, airnya begitu deras sampai tak mungkin keluar rumah,” ujar Reynaldo Vergara, seraya menambahkan bahwa seluruh barang dagangannya di toko kecil di Mandaue hilang ketika sungai di dekatnya meluap. "Tak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Airnya benar-benar mengamuk.”
Dalam wawancara radio, gubernur provinsi, Pamela Baricuatro, menyebut situasi tersebut sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya”. Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai kini menjadi semakin kuat akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Lautan yang lebih hangat memungkinkan topan menguat dengan cepat, sementara atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air—mengakibatkan hujan yang lebih lebat.
Mendesak dan berbahaya
Kecepatan angin Kalmaegi meningkat pada Kamis (06/11) saat menuju Vietnam, di mana kekhawatiran meningkat bahwa topan itu dapat memperparah kerusakan akibat banjir selama sepekan terakhir yang telah menewaskan 47 orang.
Badan cuaca nasional Vietnam menyebut topan itu mendarat di Vietnam tengah pada Kamis (06/11) malam, membawa ombak setinggi delapan meter dan gelombang badai yang kuat. Wakil Perdana Menteri Vietnam Tran Hong Ha mendesak otoritas lokal memperlakukan Kalmaegi sebagai situasi yang "mendesak dan berbahaya”, menyebutnya sebagai badai yang "sangat tidak biasa”.
Pemerintah telah memerintahkan ribuan warga di wilayah pesisir untuk mengungsi. Di Kota Quy Nhon—sedikit di selatan wilayah yang diperkirakan menjadi titik pendaratan—seorang reporter AFP melihat pejabat mengetuk pintu rumah warga pada hari Kamis (06/11) , memperingatkan mereka agar segera pergi.
Biasanya, sekitar sepuluh topan atau badai tropis memengaruhi Vietnam setiap tahun, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, Kalmaegi menjadi badai ke-13 di tahun 2025. Sementara itu, menurut ahli cuaca Charmagne Varilla, Filipina sudah mencapai rata-rata tahunan 20 badai dengan Kalmaegi, dan setidaknya tiga hingga lima lagi masih mungkin datang sebelum akhir Desember.
Apa lagi yang kita ketahui tentang Topan Kalmaegi?
Kalmaegi juga menyebabkan pemadaman listrik luas. Sebagian besar wilayah yang terdampak di Provinsi Cebu, Southern Leyte, dan Negros Occidental mengalami gangguan listrik sebagian atau sepenuhnya. Badai tersebut juga menimbulkan gangguan transportasi yang parah, dengan lebih dari 30 penerbangan dibatalkan pada Rabu (05/11). Layanan pelayaran turut terdampak, dengan hampir 3.000 penumpang terdampar di pelabuhan, demikian menurut laporan penjaga pantai Filipina.
Kalmaegi meninggalkan provinsi Palawan di barat Filipina dan memasuki Laut Cina Selatan menjelang tengah hari waktu setempat (pukul 4 pagi GMT) pada Rabu (05/11), dengan kecepatan angin maksimum 130 kilometer per jam dan hempasan mencapai 180 kilometer per jam.
Badai bergerak menuju Vietnam, yang saat ini masih memulihkan diri dari hujan deras selama beberapa hari yang memecahkan rekor dan menyebabkan banjir bandang. Kapal-kapal nelayan telah kembali ke pantai, dan pemerintah daerah menyiapkan rencana evakuasi, mendirikan tempat penampungan, serta menimbun pasokan makanan darurat.
Sementara itu, badan meteorologi Thailand juga mengeluarkan peringatan untuk wilayah utara, timur, dan tengah negara itu, mewaspadai hujan lebat mulai Jumat hingga akhir pekan yang berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor.
*Editor: Rizki Nugraha