1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

TPS di Iran Sepi Pengunjung

15 Maret 2008

Seruan partisipasi dalam pemilihan parlemen Iran hari Jum'at (14/03) ditujukan pada lebih dari 43 juta warga Iran. Namun banyak TPS sepi pengunjung. Banyak warga memilih untuk memboikot pemilihan yang dianggap rekayasa.

Menyimak informasi pemilu, para ulama lulusan seminari di Qom berpeluang mengisi jabatan tinggiFoto: AP

Pelarian Iran di Jerman biasanya memantau perkembangan politik di negaranya. Mercadeh Mohseni, yang melarikan diri setelah keluarganya diburu pemerintahan Republik Islam Iran mengatakan, bahwa bukan hanya para eksil di Jerman saja, juga di Iran, banyak warga yang menganggap pemilu parlemen tersebut hanya show belaka.


"Hampir semua orang sepakat dengan ide untuk memboikot pemilu. Walaupun dalam berbagai tema lain, misalnya soal koalisi tidak ada persamaan pendapat. Tapi semua pihak sepakat bahwa pemilu harus diboikot karena tidak bebas."

Kata-kata Mohseni ternyata terbukti pada hari H pemilihan parlemen di Iran.

Waktu buka TPS diperpanjang hingga pukul 22.00 malam. Alasan resmi adalah karena banyaknya pemilih yang ingin memberikan suara. Perpanjangan waktu buka TPS bukan hal yang aneh di Iran. Namun sejak tahun 2004 dan juga pada pemilihan presiden 2005, alasan ini tidak merefleksikan fakta. Alasan sebenarnya adalah karena tidak ada antrian pemilih. Kebanyakan warga memilih untuk tinggal di rumah.

Rasa frustrasi terhadap politik di Iran bukan baru dan kali ini memecah rekor yang sudah-sudah. Tahun ini, 4.500 kandidat memperebutkan 290 kursi parlemen Iran. Namun jumlah orang yang tak mau memilih sangat besar. Apapun keterangan resmi yang disebutkan.

Hari Jumat (14/03), pasar-pasar Teheran dijejali manusia. Tak jauh dari sana terdapat sebuah TPS, di halaman Mesjid di jalan utama Khordad. Sesekali terlihat ada segelintir orang yang masuk, namun betul-betul tak sebanding dengan jumlah pembeli di pasar itu.

Tampaknya prioritas khalayak di pasar bukanlah pemilu. Mereka lebih suka mencari hadiah, memilih dekorasi rumah atau membeli pakaian baru. Apalagi tahun baru Iran, Nourouz, sudah di ambang pintu. Menurut tradisinya, untuk menyambut tahun baru yang jatuh pada 21 Maret itu, setiap orang harus membersihkan rumah, merapikan diri dan menyediakan barang-barang yang baru.

Bagi para pengunjung pasar, tampaknya sebuah parlemen baru tidak berada di daftar prioritas. Juga para pedagang tidak tertarik pada soal itu. Tanpa ditanya, seorang penjual bateri mengaku, bahwa ia tidak mau memilih. Sekarang segala sesuatu susah, rejim ini betul-betul telah memurukan Iran. Padahal pada masa Shah memerintah di Iran kondisinya jauh lebih baik. Pernyataan yang pedas, terutama karena penjual bateri ini terlalu muda untuk mengalami pemerintahan Shah Iran yang terakhir.

Seorang pedagang karpet juga mengatakan bahwa bisnis semakin buruk belakangan ini. Akibat sanksi-sanksi internasional terhadap perbankan Iran, tidak ada turis maupun perusahaan internasional yang datang membeli. Pedagang yang menyalahkan pemerintahan Iran ini, tidak bersedia memilih. Apa gunanya, seluruh hasil pemilu sudah ditetapkan dari awal. Begitu katanya. Dulu, para pedagang merupakan kekuatan besar yang turut menjatuhkankan Shah Iran. Mereka juga merupakan tulang punggung pemerintahan Republik Islam ini. Oleh sebab itu ada penilai bahwa sulit untuk menemukan oposisi di pasar-pasar Iran.

Seorang pemilik toko yang pernah menetap di Jerman mengatakan, bahwa selama para pengusaha bisa berdagang dan menjadi kaya, maka mereka ini akan bungkam.Tambahnya, buat apa juga mereka mengritik, mereka itu kaya, punya rumah mewah, punya mobil paling modern dan bila ingin bersenang-senang bisa langsung ke Dubai. (ek)