1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Alam dan LingkunganAmerika Serikat

Trump Gagal Bendung Ekspansi Tenaga Angin

27 Mei 2026

Amerika Serikat tengah mengalami ekspansi PLTB lepas pantai terbesar dalam sejarah, meski Donald Trump terus melancarkan kebijakan yang dinilai pegiat energi bersih sebagai “perang total” terhadap sektor tersebut.

AS Virginia Beach 2020 | Turbin angin lepas pantai di perairan pesisir
Banyak kebijakan anti-energi angin Trump telah dibatalkan oleh pengadilanFoto: Steve Helber/AP Photo/picture alliance

Presiden Amerika Serikat (AS) tidak menutupi ketidaksukaannya terhadap opsi Pembangit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Selama bertahun-tahun, ia bahkan secara keliru menyalahkan kincir angin sebagai penyebab kanker dan kematian paus di Samudra Atlantik.

Namun, sentimen anti-PLTB Trump kini mencapai tingkat baru sejak ia kembali menjabat. Dalam periode itu, ia terus membuat hambatan untuk menghentikan ekspansi energi bayu: mulai dari mencabut izin, mengeluarkan perintah penghentian proyek, hingga membayar perusahaan energi agar menghentikan proyek lepas pantai demi memberi ruang bagi pengeboran minyak dan gas.

Meski begitu, Donald Trump kemungkinan justru akan memimpin periode ekspansi tenaga bayu terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Pada 2027, kapasitas tenaga bayu lepas pantai AS diperkirakan hampir 35 kali lebih besar dibanding saat ia mulai menjabat.

“Ini seperti kisah dua kota yang berbeda,” kata Jeremy Firestone, profesor emeritus di Sekolah Ilmu dan Kebijakan Kelautan Universitas Delaware, kepada DW.

Di tengah tingginya harga bahan bakar, meningkatnya kebutuhan listrik akibat pusat data AI yang boros energi, dan memburuknya pemanasan global, para pendukung energi bersih mengatakan bahwa menyingkirkan tenaga bayu dari pertimbangan akan berdampak langsung bagi konsumen.

“Dengan fokus besar pada pusat data, harga listrik, harga minyak, dan harga bahan bakar,” kata Ted Kelly, direktur energi bersih di organisasi nirlaba Environmental Defense Fund (EDF), “akan semakin tidak masuk akal jika proyek energi bersih terus dihambat dan harga listrik justru menjadi lebih mahal.”

Perang melawan tenaga bayu, dan perlawanan balik

Namun, itulah yang ingin dilakukan Trump: menghambat. Pada hari pertama masa jabatan keduanya, ia mengeluarkan memorandum eksekutif yang membekukan izin proyek tenaga bayu baru, yang oleh para aktivis dijuluki sebagai “larangan energi bayu.”

Ia kemudian mengeluarkan perintah penghentian pekerjaan terhadap lima proyek tenaga angin lepas pantai yang sedang dibangun, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional yang bersifat rahasia. Ia juga mencabut izin proyek lain yang sebelumnya sudah disetujui.

Intervensi itu tidak berhenti di sana. Salah satu langkah terbaru pemerintahannya adalah membayar perusahaan energi agar mundur dari proyek tenaga bayu. Pada Maret, pemerintah memberikan hampir 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,5 triliun) kepada raksasa energi Prancis, Total Energies, yang sebelumnya membeli hak pengembangan proyek tenaga bayu lepas pantai di dekat North Carolina dan New York.

Pemanfaatan energi angin lepas pantai bukan sesuatu yang didukung pemerintahan AS saat iniFoto: Getty Images via AFP

Sebulan kemudian, Trump menawarkan pembayaran kepada dua perusahaan lain dengan total 885 juta dolar AS (sekitar Rp14,60 triliun). Menteri Dalam Negeri Doug Burgum mengatakan langkah itu akan membantu “menurunkan biaya energi sehari-hari” bagi warga Amerika yang “tidak lagi harus menanggung biaya proyek energi yang mahal, tidak andal, dan bersifat intermiten.”

Meski menghadapi tekanan besar, tenaga bayu kini justru sering menang di pengadilan. “Ketika proyek tenaga bayu lepas pantai masuk pengadilan, mereka menang,” kata Pasha Feinberg, ahli strategi tenaga bayu lepas pantai dari organisasi nirlaba Natural Resources Defense Council.

Desember lalu, seorang hakim membatalkan larangan tenaga bayu Trump dan memutuskan bahwa kebijakan itu melampaui kewenangannya. Pemerintah memang mengajukan banding, tetapi pengadilan lain juga memutuskan bahwa pembangunan lima proyek lepas pantai yang sempat dihentikan dapat dilanjutkan kembali.

Sementara itu, rancangan undang-undang pemotongan pajak pemerintahan Trump, One Big Beautiful Act, yang menghapus insentif pajak energi bersih era PresidenJoe Biden, justru memicu perlombaan di kalangan pengembang untuk segera memulai proyek energi terbarukan sebelum insentif berakhir pada Juli.

Proyek tenaga bayu lepas pantai baru diperkirakan akan menambah sekitar enam gigawatt listrik ke jaringan nasional pada 2027, cukup untuk memasok sekitar 2,5 juta rumah. Salah satunya adalah proyek Empire Wind milik perusahaan energi Norwegia Equinor di selatan Long Island. Proyek ini sebelumnya terkena perintah penghentian kerja yang kini dibatalkan. Turbin yang digunakan sangat besar sehingga satu putaran baling-balingnya diklaim dapat menghasilkan listrik untuk satu rumah selama satu setengah hari.

Apa dampak tenaga bayu terhadap tagihan listrik warga AS?

Pada 2025, tenaga bayu menghasilkan sekitar 10% listrik AS, di bawah gas alam yang mencapai 40% dan tenaga nuklir sekitar 17%. Bahkan tanpa subsidi, tenaga bayu darat skala besar dan tenaga surya tetap menjadi salah satu sumber listrik baru termurah di AS, menurut firma penasihat keuangan Lazard.

Tenaga bayu lepas pantai memang lebih mahal, tetapi masih cukup kompetitif dibanding pembangkit gas baru dan jauh lebih murah dibanding tenaga nuklir.

Berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos tahun ini, Donald Trump mengatakan Cina membuat turbin angin untuk dijual kepada “orang-orang bodoh”Foto: Fabrice Coffrini/AFP

Setelah turbin dibangun, bayu tidak membutuhkan biaya bahan bakar. Karena itu, pembangkit tenaga bayu dapat menjual listrik grosir jauh lebih murah dibanding pembangkit gas atau batu bara, sehingga cenderung menurunkan harga listrik secara umum.

“Para pelanggan listrik akan menghemat banyak uang, karena energi bayu akan menekan harga listrik per jam,” kata Firestone.

Dampaknya sudah terlihat. Saat gelombang dingin melanda New England pada Desember lalu, harga energi seharusnya melonjak tajam. Namun proyek Vineyard Wind di lepas pantai Massachusetts, yang hampir selesai dibangun, mampu memanfaatkan bayu laut musim dingin yang kuat dan menggantikan penggunaan gas alam yang harganya sangat fluktuatif. EDF memperkirakan proyek itu menghemat biaya pelanggan sekitar 2 juta dolar AS (sekitar Rp33 miliar) per hari di seluruh kawasan tersebut.

Proyek tenaga bayu juga menghasilkan sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp33 triliun) per tahun dalam bentuk pajak daerah dan pembayaran sewa lahan. Industri ini mempekerjakan sekitar 133.000 orang, dibanding sekitar 115.900 pekerja di sektor eksplorasi dan ekstraksi minyak serta gas pada 2024. Teknisi perawatan turbin bayu bahkan menjadi salah satu dari dua pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat di AS dekade ini, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Masa depan tenaga bayu

Meski demikian, ketidakpastian politik tetap merusak kepercayaan investor, bahkan setelah Trump kalah di pengadilan, kata para analis. Sebelum Trump kembali berkuasa, BloombergNEF memperkirakan kapasitas tenaga bayu lepas pantai AS akan mencapai 39 gigawatt pada 2035. Kini, firma itu memperkirakan kapasitasnya kemungkinan hanya akan mencapai enam gigawatt.

“Kami tidak melihat adanya proyek tenaga bayu lepas pantai baru yang bisa beroperasi tanpa perubahan kebijakan besar,” kata Harrison Sholler, analis tenaga bayu di BloombergNEF.

Di tengah terus meningkatnya kebutuhan listrik dan kekhawatiran terhadap tagihan energi, para pendukung energi bersih menilai logika ekonomi tenaga bayu pada akhirnya akan menang. Tiga negara bagian penghasil tenaga bayu darat terbesar,Texas, Iowa, dan Oklahoma, semuanya merupakan basis politik Partai Republik. Selain itu, lebih dari delapan dari sepuluh pemilih Amerika mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk 77% pemilih Partai Republik, menurut survei kelompok advokasi tenaga bayu lepas pantai Turn Forward.

“Kita tidak punya pilihan selain memanfaatkannya jika ingin memenuhi kebutuhan energi,” kata Feinberg. “Pada akhirnya, tenaga bayu akan menang.”

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha