Trump berencana "memandu" kapal dari negara yang tidak terlibat konflik untuk keluar dari Selat Hormuz. Teheran memperingatkan, campur tangan AS di Selat Hormuz melanggar gencatan senjata.
Trump mengatakan AS akan mulai 'mengarahkan kapal-kapal' dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah untuk keluar dari Selat Hormuz mulai hari Senin (04/05)Foto: Hanno Bode/IMAGO
Iklan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan AS akan membantu kapal-kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik untuk keluar dari Selat Hormuz dengan aman.
Melalui platform Truth Social, rencana ini disebutnya sebagai "Project Freedom” dan akan mulai berjalan pada Senin (04/05).
"Saya sudah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin memastikan kapal dan awaknya bisa keluar dari selat itu dengan aman,” tulisnya.
Trump menyatakan "Project Freedom" yang rencananya akan mengawal kapal-kapal untuk keluar dari Selat Hormuz sebagai misi kemanusiaan [FILE: 21 Juni 2025]Foto: THE WHITE HOUSE/UPI Photo/Newscom/picture alliance
Ia juga mengakui adanya pembicaraan damai yang sedang berlangsung dan berpotensi membawa hasil positif bagi semua pihak, tetapi menekankan bahwa misi ini terpisah dari negosiasi damai tersebut.
“Pergerakan kapal Ini adalah langkah kemanusiaan untuk membebaskan pihak-pihak yang sama sekali tidak terlibat dan menjadi korban dari situasi,” kata Donald Trump.
Meski begitu, belum jelas apakah rencana Trump ini sudah dikoordinasikan dengan Iran, pemegang kendali de facto atas Selat Hormuz, yang membatasi sebagian besar lalu lintas jalur strategis tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
"Jika misi kemanusiaan ini dihalangi dengan cara apa pun, maka tidak ada pilihan lain selain akan ditindak secara tegas,” kata Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Iran: Campur tangan AS langgar gencatan senjata
Iran merespons pengumuman Trump tersebut dan mengatakan bahwa "setiap campur tangan AS akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata,” tulis Ebrahim Azizi melalui akun X.
Azizi, yang merupakan Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran itu juga menegaskan bahwa pengaturan Selat Hormuz tidak didasari ucapan atau unggahan media sosial oleh Trump.
"Tidak akan ada yang percaya narasi saling menyalahkan,” tambahnya, menanggapi pernyataan Trump yang menyebut misi pengawalan kapal di Selat Hormuz, yang secara de facto dikuasai Teheran itu, sebagai "langkah kemanusiaan.”
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Jerman desak Hormuz segera dibuka
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, kembali mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz, karena penutupan jalur strategis itu telah menghambat ekspor minyak dari sebagian besar kawasan Timur Tengah selama beberapa minggu terakhir.
Usai berbicara dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi, Wadephul menegaskan bahwa Jerman mendukung solusi melalui negosiasi, "Iran harus menghentikan ambisi nuklirnya serta segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut,” ujarnya.
Di tengah ketegangan antara Washington dan Teheran, Trump disebut masih meragukan proposal damai 14 poin terbaru yang diajukan Iran.
Dalam proposal itu, Iran meminta penghentian blokade laut AS di Hormuz serta pencabutan sanksi terhadap program nuklirnya. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali selat tersebut.
Iklan
Iran kaji respons AS
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pihaknya tengah mengkaji respons Amerika Serikat terhadap proposal yang disampaikan melalui mediasi Pakistan.
Juru bicara Kemlu Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak termasuk dalam pembahasan saat ini.
Baghaei mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan tanggapan Washington [FILE: 15 April 2026]Foto: Foad Ashtari/ZUMA/IMAGO
"Pada tahap ini, tidak ada negosiasi terkait nuklir,” ungkapnya, seperti dikutip media pemerintah Iran.
Sementara itu, Washington tetap menuntut Iran menghentikan pengayaan nuklirnya. Namun, Teheran menegaskan bahwa program itu hanya untuk tujuan sipil.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris