1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Trump: AS Akan Bantu Kapal Melintasi Hormuz dengan Aman

Dmytro Hubenko | Jenipher Camino Gonzalez | Nik Martin | Srinivas Mazumdaru sumber: dpa, Reuters, AFP, AP
4 Mei 2026

Trump berencana "memandu" kapal dari negara yang tidak terlibat konflik untuk keluar dari Selat Hormuz. Teheran memperingatkan, campur tangan AS di Selat Hormuz melanggar gencatan senjata.

Selat Hormuz dengan pergerakan kapal secara real-time di MarineTraffic
Trump mengatakan AS akan mulai 'mengarahkan kapal-kapal' dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah untuk keluar dari Selat Hormuz mulai hari Senin (04/05)Foto: Hanno Bode/IMAGO

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan AS akan membantu kapal-kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik untuk keluar dari Selat Hormuz dengan aman.

Melalui platform Truth Social, rencana ini disebutnya sebagai "Project Freedom” dan akan mulai berjalan pada Senin (04/05).

"Saya sudah meminta perwakilan saya untuk memberi tahu bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin memastikan kapal dan awaknya bisa keluar dari selat itu dengan aman,” tulisnya.

Trump menyatakan "Project Freedom" yang rencananya akan mengawal kapal-kapal untuk keluar dari Selat Hormuz sebagai misi kemanusiaan [FILE: 21 Juni 2025]Foto: THE WHITE HOUSE/UPI Photo/Newscom/picture alliance

Ia juga mengakui adanya pembicaraan damai yang sedang berlangsung dan berpotensi membawa hasil positif bagi semua pihak, tetapi menekankan bahwa misi ini terpisah dari negosiasi damai tersebut. 

“Pergerakan kapal Ini adalah langkah kemanusiaan untuk membebaskan pihak-pihak yang sama sekali tidak terlibat dan menjadi korban dari situasi,” kata Donald Trump.

Meski begitu, belum jelas apakah rencana Trump ini sudah dikoordinasikan dengan Iran, pemegang kendali de facto atas Selat Hormuz, yang membatasi sebagian besar lalu lintas jalur strategis tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

"Jika misi kemanusiaan ini dihalangi dengan cara apa pun, maka tidak ada pilihan lain selain akan ditindak secara tegas,” kata Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. 

Iran: Campur tangan AS langgar gencatan senjata

Iran merespons pengumuman Trump tersebut dan mengatakan bahwa "setiap campur tangan AS akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata,” tulis Ebrahim Azizi melalui akun X.

Azizi, yang merupakan Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran itu juga menegaskan bahwa pengaturan Selat Hormuz tidak didasari ucapan atau unggahan media sosial oleh Trump.

"Tidak akan ada yang percaya narasi saling menyalahkan,” tambahnya, menanggapi pernyataan Trump yang menyebut misi pengawalan kapal di Selat Hormuz, yang secara de facto dikuasai Teheran itu, sebagai "langkah kemanusiaan.”

Jerman desak Hormuz segera dibuka

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, kembali mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz, karena penutupan jalur strategis itu telah menghambat ekspor minyak dari sebagian besar kawasan Timur Tengah selama beberapa minggu terakhir.

Usai berbicara dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi, Wadephul menegaskan bahwa Jerman mendukung solusi melalui negosiasi, "Iran harus menghentikan ambisi nuklirnya serta segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut,” ujarnya.

Di tengah ketegangan antara Washington dan Teheran, Trump disebut masih meragukan proposal damai 14 poin terbaru yang diajukan Iran. 

Dalam proposal itu, Iran meminta penghentian blokade laut AS di Hormuz serta pencabutan sanksi terhadap program nuklirnya. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali selat tersebut.

Iran kaji respons AS

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pihaknya tengah mengkaji respons Amerika Serikat terhadap proposal yang disampaikan melalui mediasi Pakistan.

Juru bicara Kemlu Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak termasuk dalam pembahasan saat ini.

Baghaei mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan tanggapan Washington [FILE: 15 April 2026]Foto: Foad Ashtari/ZUMA/IMAGO

"Pada tahap ini, tidak ada negosiasi terkait nuklir,” ungkapnya, seperti dikutip media pemerintah Iran.

Sementara itu, Washington tetap menuntut Iran menghentikan pengayaan nuklirnya. Namun, Teheran menegaskan bahwa program itu hanya untuk tujuan sipil.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris

Didaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Adelia Dinda Sani

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait