1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAmerika Serikat

Trump Tuntut Dukungan NATO untuk Mengamankan Hormuz

Patrick Große sumber: dpa, afp, Reuters
16 Maret 2026

Di tengah sengitnya pertempuran di Selat Hormuz, Presiden AS menuntut sekutu NATO untuk turut serta mengamankan jalur perdagangan penting tersebut.

Donald Trump di Gedung Putih, Washington D.C., AS 2026
Presiden AS Donald Trump meminta dukungan dari mitra-mitra NATO.Foto: Nathan Howard/REUTERS

Masa depan NATO nampaknya akan menjadi lebih suram jika para mitra tidak membantu Amerika Serikat (AS), kata AS Donald Trump dalam sebuah wawancara singkat dengan surat kabar Financial Times.

"Jika tidak ada reaksi atau reaksinya negatif, ini menurut saya akan menjadi masa depan yang buruk untuk NATO," ujar presiden AS tersebut.

Selat yang berada di antara Iran dan Semenanjung Arab itu sebagian besar telah terblokir sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu. Hal ini berdampak pada terganggunya seperlima transportasi minyak dan gas cair dunia. Serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas minyak di beberapa negara Teluk turut membuat harga energi meroket signifikan.

Trump kritik kurangnya dukungan sekutu

Trump mendorong pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk mengawal kapal dagang melewati selat tersebut. Ia menyatakan, "Mereka yang mendapat manfaat dari selat ini harusnya turut memastikan tidak terjadi hal buruk di sana."

Saat ditanya dukungan apa yang diharapkan AS, Trump lantas menjawab, "Apa pun yang diperlukan." Ia pun turut menyebut kapal penyapu ranjau serta pasukan yang "Akan menyingkirkan beberapa pihak yang berniat jahat yang berada di sepanjang wilayah pesisir."

Trump lantas menyampaikan tuntutan ini disertai kritik kepada para negara mitranya, turut mengaitkan dukungan AS untuk Eropa selama invasi Rusia ke Ukraina, "Kami seharusnya tidak harus membantu di Ukraina yang berjarak ribuan kilometer dari AS, tapi nyatanya kita membantu mereka." Kini akan terlihat apakah NATO juga akan mendukung AS. "Karena saya sudah lama mengatakan bahwa AS selalu ada untuk mereka, tapi tidak sama halnya dengan mereka. Dan saya tidak yakin apakah mereka akan membantu."

Menhan Jerman: Ini bukan perang kita

Beberapa sekutu mengambil sikap hati-hati. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (SPD) menutup kemungkinan keterlibatan Bundeswehr (Militer Jerman) dalam pengamanan Selat Hormuz.

Setelah bertemu dengan Menhan Latvia Andris Spruds di Berlin, ia menyatakan bahwa tidak akan ada "keterlibatan militer" Jerman. Namun Jerman bersedia berkontribusi secara diplomatis memastikan kapal-kapal melewati Selat Hormuz dengan aman.

Pistorius turut mengkritik tindakan AS dan Israel. Mereka memilih menyerang Iran dan kini mengancam akan menarik Eropa ke dalam konflik. "Apa yang diharapkan Donald Trump dari satu atau dua fregat Eropa di Selat Hormuz, apakah angkatan laut AS yang kuat itu tidak tidak dapat menangkalnya sendiri?" 

Terkait mandat Parlemen Jerman untuk misi Bundeswehr di Teluk Persia, ia menegaskan "Jelas tidak ada perintah." Politisi SPD itu menekankan, "Ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya."

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menuntut lebih banyak informasi dari AS dan Israel mengenai tujuan dan rencana lebih lanjut dalam perang melawan Iran. Keamanan Selat Hormuz hanya bisa dicapai melalui solusi diplomatik dan negosiasi dengan Iran.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menolak tuntutan Trump, "Biar saya perjelas: ini bukan misi NATO dan tidak pernah dimaksudkan sebagai misi NATO," katanya kepada wartawan. Menurut laporan resmi Inggris, Starmer sebelumnya pada hari Minggu (15/03) sempat membahas blokade selat tersebut dengan Presiden AS Donald Trump.

Kemungkinan operasi NATO di lepas pantai Iran dianggap sangat kecil, terutama karena Selat Hormuz bukanlah wilayah aliansi NATO. AS tidak bisa mengandalkan kewajiban bantuan menurut Pasal 5. Keterlibatan militer di wilayah ini akan menjadi operasi "Out-of-Area" yang memerlukan persetujuan semua mitra aliansi.

Jepang dan Australia menolak, EU masih dalam pembahasan

Mitra NATO di kawasan Indo-Pasifik, Jepang dan Australia, menolak untuk terlibat. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa pihaknya tidak mempertimbangkan operasi keamanan. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut operasi tersebut "secara hukum sangat sulit."

Menteri Transportasi Australia Catherine King mengatakan: "Kami tahu ini sangat penting, tapi ini bukan sesuatu yang diminta dari kami atau sesuatu yang dapat kami kontribusikan."

Uni Eropa masih membahas posisi Eropa. Menjaga jalur perdagangan penting tetap terbuka adalah kepentingan Eropa, kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas sebelum pertemuan menteri luar negeri UE di Brussels.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait